Artikel ini ditulis untuk program Bincang Sehat di JTV, 20 September 2014.

Sering kita mendengar istilah pikun. Tidak hanya orang tua, remaja dan anak-anak pun cukup familier dengan istilah ini. Kita sering menjuluki seseorang “pikun” apabila dia lupa akan sesuatu. Namun, tahukah Anda, bahwa pikun bukanlah sekedar lupa? Dan tahukah Anda, bila seseorang sudah mengalami tanda-tanda pikun, maka satu-dua kemampuan berpikirnya terganggu, sehingga sulit pulih kepada kondisi sebelumnya? Jika demikian adanya, bisakah pikun dicegah?

Rupanya dalam dunia kedokteran, pikun hanyalah salah satu gejala dari sebuah sindroma yang disebut demensia. Sebutan “sindroma” berarti kumpulan gejala. Gejala pada sindroma demensia yang lain adalah adanya perubahan emosi, perilaku, dan proses berpikir.

Kita mungkin pernah mendapati orang tua yang senang berjalan-jalan kemana-mana, namun pada akhirnya lupa jalan pulang. Ini contoh sindroma demensia dengan gejala perilaku. Sindroma demensia dengan gejala perubahan emosi misalnya orang tua kita menjadi sosok yang pencemas, sulit tidur, mudah marah, atau justru sebaliknya, cenderung diam dan kurang ekspresif. Sedangkan gejala pikun atau mudah lupa, mudah curiga, sulit konsentrasi, atau cenderung malas, adalah contoh sindroma demensia dengan gejala perubahan proses berpikir.

Pikun ditandai dengan penurunan kemampuan memori baik jangka segera (immediate term memory), jangka pendek (short term memory), dan jangka panjang (long term memory). Khusus untuk demensia pada usia tua (senile dementia), jenis memori yang terganggu adalah jangka pendek dan segera, sementara memori jangka panjang biasanya masih baik. Sementara demensia pada usia muda umumnya tidak khas, gangguan bisa muncul pada memori jangka manapun. Jika pada orang tua gangguan ini biasanya menetap (permanen), sementara pada anak muda hanya berlangsung sementara.

Proses pengolahan memori dalam otak terdiri dari tiga tahap yang disingkat 3-R, yakni Registrasi (“masuknya” stimulus ke dalam otak melalui panca indera), Retensi (“mengendapkan” stimulus menjadi memori dalam otak), dan Recall (“memanggil kembali” memori menjadi stimulus). Proses registrasi dan retensi sangat berperan dalam mempelajari pengalaman-pengalaman baru, sementara recall sangat berperan ketika kita sedang bernostalgia.

Semua proses ini berlangsung sepersekian detik. Ketika memori berhasil dipanggil kembali, maka panca indera kita seolah-olah mengalami kembali kejadian-kejadian di masa lalu. Pada usia muda, pikun disebabkan karena menurunnya kemampuan untuk “recalling”, sementara proses registrasi dan retensi masih baik. Pada usia tua, pikun disebabkan menurunnya kemampuan terutama pada registrasi dan retensi. Sehingga wajar, para orang tua kesannya sulit mempelajari pengalaman baru dan lebih suka bernostalgia, dibandingkan anak muda yang sering bersemangat mempelajari sesuatu yang baru namun seakan mudah lupa akan pelajaran yang sudah diberikan.

Seperti apakah pikun yang berbahaya? Yakni apabila pikun ini terdapat pada sindroma otak seperti demensia. Demensia adalah hilangnya kemampuan seseorang untuk mempelajari sesuatu yang baru, disertai dengan menurunnya kemampuan yang pernah dia miliki. Sungguh tidak enak, bukan?

Penyebab demensia ini macam-macam. Baik fisik maupun psikis. Contoh sebab fisik antara lain hipertensi, diabetes mellitus, riwayat stroke, dan trauma kepala. Termasuk juga riwayat infeksi otak, seperti meningitis, ensefalitis, kejang demam, epilepsi, tumor otak, dan sebagainya. Contoh sebab psikis antara lain kecemasan akut, gangguan penyesuaian, riwayat hiperaktif di masa kecil, depresi berkepanjangan, gangguan suasana perasaan, atau trauma masa lalu yang tidak diterapi dengan tuntas.

Mereka dengan penyakit-penyakit ini meningkatkan resiko munculnya demensia di usia yang lebih muda. Mengapa? Karena berbagai penyakit fisik dan psikis tadi membuat siklus hidup sel-sel otak menjadi pendek. Kecepatan kematian sel tidak dapat diimbangi dengan tumbuhnya sinaps-sinaps baru. Artinya, proses degenerasi lebih cepat daripada regenerasi. Si penderita akan kehilangan kemampuan untuk registrasi, retensi, dan recall secara bersamaan. Inilah yang menyebabkan mengapa pikun pada demensia tidak dapat disembuhkan.

Pada umumnya, demensia akan mulai nampak di usia 65 tahun. Namun sebenarnya perjalanan penyakitnya sudah dimulai di usia 40 tahunan. Orang bilang “Life begins at forty,” maka dunia kedokteran membuktikan, “Dementia begins at forty.” Pikun pada demensia memang tidak bisa dihentikan, namun bisa dicegah dan diperlambat keparahannya. Bagaimana caranya? Kita pahami dulu bagaimana otak tumbuh sejak kita kecil.

Saat lahir, volume otak bayi hanyalah 60% dari jumlah yang seharusnya. Volume otak menjelang masa kelahiran justru akan mengalami perlambatan, agar kepala bayi mudah melalui jalan lahir. Setelah lahir, otak akan berkembang pesat, dan mencapai 100% di usia 5 tahun. Sel-sel otak akan berhenti bertambah banyak di usia ini, dan perlahan-lahan mati satu demi satu sampai kita meninggal. Mengamati proses pertumbuhan otak, maka cara kita untuk mencegah terjadinya pikun adalah:

1. Dengan menambah jumlah cadangan sel otak sejak kecil. Setiap anak punya porsi yang berbeda satu sama lain. Versi 60% dan 100% masing-masing anak berbeda. Sejak dalam kandungan, ibu (atau pengasuh yang lain) harus memberikan nutrisi yang baik dan memperbanyak stimulasi bayi, misalnya diajak bicara dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang, serta mengajaknya bermain dan berinteraksi.

2. Memperlambat proses kematian sel otak. Normalnya, ada sebanyak 9.000 sel otak yang mati tiap hari. Sepertinya banyak, namun tidak ada apa-apanya dibandingkan sisa sel yang masih ada (+ 100 miliar). Rokok, alkohol, obat-obatan terlarang, kurang bergaul, beban kerja overload, dan kurang istirahat dapat mempercepat kematian sel. Cara memperlambat proses kematian sel adalah dengan memperbaiki nutrisi makan. Nutrisi tidak harus banyak, asalkan seimbang. Selain itu, belajar mengelola stres dengan baik. Ketidakmampuan mengelola stres, seperti marah dan dendam, dapat membuat kita kehilangan sel otak 30x lebih banyak dari normalnya. Nah, ada dua cara yang disarankan untuk mengelola stres.
a. Membuat skala prioritas masalah. Skala prioritas ini menentukan mana saja masalah mana yang harus kita kerjakan sendiri dan mana yang sebaiknya didelegasikan ke orang lain.
b. Berani berkata “tidak”. Salah satu kekurangan masyarakat kita adalah merasa sungkan untuk menolak sesuatu. Termasuk menolak diberikan tugas tambahan apabila tidak sesuai dengan skala prioritas yang dibuat sebelumnya. Lakukan hal ini tentunya dengan cara yang halus.

3. Memperbanyak pertumbuhan sinaps otak. Ibaratnya sel adalah rumah, sinaps adalah jalan yang menghubungkan satu rumah ke rumah yang lain, sementara memori adalah perabotan dalam rumah. Satu “rumah” bisa saling berhubungan melalui “jalan” minimal sebanyak 10 milyar cara. Sinaps inilah yang penting dalam proses registrasi, retensi, dan recall memori. Tidak masalah jika satu demi satu sel-sel otak akan mati, asalkan “perabotannya” telah dipindah ke sel-sel yang lain. Proses pemindahan ini berlangsung cepat jika tersedia sinaps yang banyak antar sel-sel otak.

Tidak dapat dipungkiri, setiap sel akan semakin mampu mempertahankan dirinya jika tersedia sumber makanan yang cukup. Anda pernah merasa mudah lapar jika bekerja? Saat itulah otak Anda memberikan sinyal sedang kekurangan nutrisi. Bahan-bahan berikut diketahui cukup baik dan cepat untuk menambah nutrisi otak, yakni: apukat, buah berri, kubis, cabe, kacang hijau, edamame, kuning telur ayam, ikan salmon, dan daging bebek peking.

Ingin tahu ulasan lebih lanjut tentang pikun? Saksikan program Satus Persen Jatim 22 September pukul 06.30 hanya di JTV rek!

Advertisements