Beberapa waktu lalu saya memutuskan membuang sebagian besar barang di rumah, setelah menyerah berulang kali menata-ulang barang-barang yang tak terpakai. Sampai sekarang, saya bersikukuh bahwa semua barang itu bukanlah barang “bekas”, melainkan barang “yang tak terpakai”.

Bagi saya, “bekas” berarti sudah tidak terpakai. Sementara “tak terpakai”, adalah barang yang sebenernya masih akan dipakai, tapi entah kapan. Istilah “bekas” bisa disamakan dengan “mantan”. Emang ada yang masih mau make’ mantannya? Kalau masih mau dipakai–tapi entah kapan waktunya, ya namanya “pacar tak terpakai”. Mumpung lagi nggak dipakai, ya persilakan orang lain pakai pacarmu.

Kalau nggak mau disebut “pacar tak terpakai”, ya rawat dia baik-baik. Hehe..

Kok hina banget ya istilahnya. Wekaweka.

Nah, barang-barang ini, sekali lagi istilahnya adalah “barang tak terpakai”. Sebagian besar barang-barang ini berasal dari kosan lama. Barang-barang ini saya kumpulkan semenjak awal kuliah, sampai saya memutuskan menikah satu setengah tahun lalu. Barang apa saja itu? Banyak. Dan sebagian besar sebenernya masih bisa dipakai kalau mau dibersihkan satu-satu.

Karena masih akan dipakai, saya susunlah satu persatu sampai jadi tumpukan yang sangat indah. Saya tempatkan di luar dekat jemuran di belakang, karena bagian dalam rumah sudah penuh barang-barang saya dan isteri.

Barang-barang itu hujan ya kehujanan, panas ya kepanasan. Saya pernah menutupi mereka dengan kardus, karton, kain bekas, sampai bekas karung goni, tapi air hujan tembus juga. Sebagian barang menjadi berjamur dan lapuk. Warnanya usang. Yang membuat kesal, jadi tempat transit tikus!

Pernah lihat iklan toko online, dimana seorang ibu rumah tangga mau mbunuh kecoa, tapi harus mindahin tumpukan barangnya ke kiri-ke kanan gara-gara kecoa itu juga pindah-pindah ngikutin tumpukan barangnya? Ya, saya semacam itulah.

Akhirnya saya minta tolong Lukman (staf kantor) manggil tukang rombeng buat beresin tuh barang. Saya ambil kesimpulan, barang-barang ini sudah satu setengah tahun numpuk, dan saya sendiri nggak tahu mau pakai kapan, ya sudah buang aja semuanya.

Toh, selama satu setengah tahun itu juga, saya semakin banyak numpuk barang-barang tak terpakai. Makin menggununglah mereka. Artinya, barang apapun yang saya taruh di sana–meski sebagiannya bermanfaat, tetap jadi tak bermanfaat kalau tidak segera diolah. Oke, deal. Buang semuanya.

Datanglah si bapak-bapak tukang rombeng. Dia melihat tumpukan barang saya dari bawah ke atas, dari kiri ke kanan. Lalu dia menoleh ke arah saya, “Minta berapa, Mas?”

“Hah, pripun, Pak?” (Bagaimana, Pak?)

“Njenengan nyuwun pinten?” (Anda minta berapa?)

“Minta satu aja, Pak. Yang cantik.” (Ngoook)

Saya ngga jadi minta dikawinin lagi dan minta bapak rombeng itu mengambil semua barang-barang saya. “Ambil aja semuanya, Pak,” saya bilang. Dan mendadak bapak tadi tersenyum sumringah.

“Maturnuwun ya, Mas,” ujarnya penuh haru. Trus bapak rombeng itu memeluk saya dengan penuh suka cita. Mendadak dia mabok. Saya baru sadar belom pake deodoran sejak pagi.

Berturut-turut barang-barang saya dipindahkan ke depan rumah, sampai semuanya bersih tak tersisa. Bagian belakang rumah saya jadi lengang. Rasanya sepi, sih. Tapi lega.

“Makasih ya, Mas,” bapak rombeng itu menyalami saya, berulang kali mengucapkan terimakasih.

“Iya, sama-sama, Pak,” tanggapan saya datar-datar saja. Saya merasa tidak banyak melakukan sesuatu untuk bapak ini, kok responnya heboh banget, ya.

“Barang-barang ini segini banyak masih bagus semua. Pasti bisa saya jual cepat, Mas. InsyAllah saya bisa untung banyak,” katanya sambil nyeruput kopi yang dihidangkan Lukman.

“Kalau sudah kejual semua, nanti Mas saya beliin deodoran, deh,” katanya sambil mengerling genit dengan sebelah matanya.

“Suwun yo, Pak. Pintu keluarnya sebelah sana,” saya bilang sambil melotot tapi tetep ganteng.

Saya heran ternyata barang yang nilainya kurang di mata saya, ternyata sangat berharga bagi orang lain. Apalagi, barang-barang tersebut adalah barang yang saya kumpulkan dari masa lalu.

***

Suami teman saya yang bekerja di bidang pengolahan sampah, pernah bilang,

“Kita menyebutnya “sampah” karena tidak tahu bagaimana cara memanfaatkannya. Kalau kita berhasil mengolahnya, lalu mengambil manfaat darinya, maka tidak ada lagi istilah “sampah” dalam kosakata kita. Karena tidak ada satu bagianpun dari sebuah barang, yang tidak bisa diolah kembali.”

Bagaimana dengan sampah masa lalu?

Tiga tahun perjalanan saya di pendidikan kedokteran jiwa, banyak sekali menyaksikan klien yang mampu mengolah sampah masa lalunya.

Pada awalnya mereka terpuruk, namun perlahan-lahan mereka merangkak naik. Proses yang mereka jalani memang tidak gampang. Tidak serta-merta mereka bisa mengambil keputusan untuk membuang semua sampah masa lalunya.

Butuh keberanian untuk melihat dari sudut pandang yang berbeda: “barang yang tidak berguna” menjadi “barang yang bisa diolah agar lebih bermanfaat.” Entah bermanfaat bagi diri sendiri atau bermanfaat bagi orang lain.

Sebagian besar mereka pasti berpikir seperti saya, “Suatu saat barang-barang ini pasti bisa dipakai lagi.” Mereka merasa sayang akan “barang-barang di masa lalunya” yang tidak tahu kapan akan bermanfaat di masa depan.

Namun yang saya saksikan, ketika mereka mulai mau mengubah cara pandang bahwa “sampah masa lalunya” bisa diolah menjadi lebih bermanfaat, mereka mulai lebih tegar menghadapi masalah.

Ketika mereka mulai mau membuang sampah masa lalunya (baca: merelakan sampahnya dikeluarkan dari halaman belakang), baik oleh diri mereka sendiri maupun dengan bantuan orang lain, mereka mulai bisa merangkak naik.

Ketika mereka mulai mau menghibahkan sampah masa lalunya (baca: rela berbagi dan bercerita dengan orang terdekat), saat itulah mereka mulai bangkit dari keterpurukan.

***

Mungkin saya dan para psikiater lainnya seperti bapak-bapak tukang rombeng tadi. Saya akan melihat sampah masa lalu klien saya sebagai barang-barang mewah yang bermanfaat. Bermanfaat untuk siapa?

Bermanfaat untuk diri saya sendiri, dan untuk klien lain yang membutuhkan hikmah dari cerita mereka yang mengalami hal yang sama beratnya. Tentu saja tidak perlu disebutkan darimana sumbernya.

Mungkin para motivator di luaran sana juga punya sampah masa lalu. Mereka mengolah sampah itu menjadi bermanfaat untuk para audience nya. Sampah itu bisa berasal dari diri mereka sendiri, ataupun dari orang-orang di sekitarnya yang–bagi mereka–lebih berhasil menjalani kehidupan.

Setiap orang pasti punya sampah masa lalu. Dan jika setiap orang punya sampah masa lalu, maka setiap orang punya peluang untuk menjadikannya sesuatu bermanfaat bagi orang lain.

Jika mereka mampu mengolahnya, maka setiap orang mampu menjadi psikiater atau motivator bagi diri mereka sendiri.

Memang, psikiater dan motivator terbaik adalah diri sendiri. Orang lain ibarat teman seperjalanan yang membantumu mencapai tujuan. Selebihnya, kamu sendirilah yang mengambil keputusan akan dibawa kemana hidupmu.

Lebih baik, atau lebih buruk?

Advertisements