“Tiada yang paling cemburu di antara hambanya, kecuali Allah.”

Tulisan ini adalah respon terhadap kasus carok di alun-alun Bangkalan, beberapa waktu lalu. Banyak komentar yang berkembang terkait kasus ini. Apalagi jika penyebabnya adalah perselingkuhan. Ada yang pro dengan pihak suami (yang kemungkinan besar adalah pelaku carok) dan ada yang kontra.

Sore itu seperti biasa, saya dan Lukman ngopi di warung Bu Karni selepas aktivitas di rumah sakit. Membaca berita carok dari tabnya, dia kritik habis-habisan kejadian tersebut. “Bodoh,” katanya, “kalau memang terbukti selingkuh, ya ceraikan aja isterinya. Gampang, to. Lalu cari yang lain. Emangnya perempuan cuman dia aja.”

Woo, saya tidak setuju. “Gak segampang itu, Ndan,” saya menimpali, “kalo soal perselingkuhan, bukan hanya hati yang terlibat. Tapi harga diri,” saya nyruput kopi sambil bersungut-sungut.

Saya menikah sudah setahun setengah ini. Membayangkan kejadian tersebut menimpa saya, mungkin sakitnya tuh di sini.. *lalu joget a la Cita Citata*

Saya cerita sama Lukman, “Semasa bujang dulu, ada kakak perempuan teman yang dikhianati oleh suaminya. Semua barang dapur dia lempar ke arah suaminya sambil marah-marah. Tapi, yang paling berkesan justru yang terucap darinya, ‘Kamu ini lelaki macem apa, selingkuh kok sama pembantu. Mendingan sama artis macem Krisdayanti atau Mieke sana, lho. Masa’ sama pembantu. Gak level blas,’ katanya.”

Rasanya aneh denger ucapan isterinya itu. Tapi, meski sama-sama cemburu, kalau “level” orang yang diselingkuhi ternyata lebih rendah dari dirinya, mungkin wajar ya kalau marah-marahnya dua kali lipat. Ah, kalau “levelnya” lebih tinggi, rasa kebantingnya ya tetep aja dua kali lipat. Sama aja.

Saya dan Lukman bergidik melihat foto carok yang diberikan Mbah Google. Mungkin kami sama-sama bukan penganut aliran kekerasan, meski kami berbeda pendapat soal ini. Lukman memilih meninggalkan masa lalu dan menatap masa depan. Saya sendiri, tetap bersikukuh, kasus perselingkuhan bukan hanya sekedar cemburu. Tapi harga diri.

Sampai kopi kami habis pun, tidak ada kata sepakat. Di tengah pengaruh kafein, saya pun meracau,

“Suatu ketika, salah satu sahabat Rasul berkata, ‘Seandainya aku menemukan seorang laki-laki bersama isteriku tentu aku tebas ia dengan pedang, bukan dengan lempengnya tetapi dengan mata pedangnya.’ Maka Rasul saw bersabda, ‘Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuannya? Sesungguhnya aku lebih cemburu dibanding dia, dan Allah lebih cemburu dibanding aku.’”

Saya bergidik, kemudian tersadar. Sangat ngeri membayangkan mata pedang yang tertebas itu. Dalam hati sepertinya saya menolak segala bentuk kekerasan, apapun alasannya. Ilmu saya pun masih terlalu cetek untuk menyitir satu kisah ini aja.

Rasul tidak pernah menggunakan kekerasan jika hak pribadinya yang dilanggar. Tapi lain halnya kalau sudah hak Allah yang dilanggar. Jadi, buat apa saya gunakan kekerasan jika hak pribadi saya yang dilanggar?

Saya yakin, bersabar dan menggunakan cara damai akan lebih baik dibandingkan kekerasan. Bagi saya, Gusti Allah mboten sare. Bukan pasrah, namun energi amarah ini bisa saya alihkan ke hal lain yang lebih produktif. *Saya sendiri membaca kalimat ini, rasanya seperti ego-defense, ya. Haha*

Entah benar atau tidak, kisah tadi adalah salah satu dari banyak kisah yang saya pernah dengar. Toh saya merapalnya seperti mantra ketika saya mabuk karena kafein. Mungkin saja salah. Mungkin saja benar.

Mungkin saya memilih apa yang dipilih Lukman, Keep Calm and Move On.

Gimana menurut Njenengan?

—–

Note:

Sore tadi, dipaparkan rencana studi lapangan tentang carok di Madura. Kami akan dipandu beberapa dokter yang pernah bertugas di Pamekasan untuk dikenalkan tokoh masyarakat di sana, guna menyelami kultur tentang carok.

Adakalanya, hukum di Nusantara bisa dibantah bila tidak dapat mengakomodir permasalahan yang sifatnya kultural dan turun temurun.

Tanpa bermaksud menghakimi, studi lapangan ini bertujuan mengenal sudut pandang subyek yakni orang-orang Madura sendiri tentang carok. Akhir November nanti, kami, Psikiatri UNAIR, akan mendapat pelajaran yang sangat berharga dari mereka. Merekalah guru-guru kami.

Advertisements