“Sudut pandangmu menentukan keputusanmu bertindak. Tindakanmu akan membuahkan hasil, yang kemudian menumbuhkan keyakinan baru. Dan keyakinan yang baru itu juga akan mempengaruhi sudut pandangmu berikutnya.” ~ disadur dari wejangan Aa’ Adri Suyanto Sarjana Humor, saat kami sepanggung di Seminar “Am I Bipolar” 8 November kemarin.

___

Suatu ketika, si A dan si B, sedang menghadiri pernikahan si C, teman seorganisasi semasa di kampus dulu. Mereka berdebat tentang si C.

Para jombloers galau yang lagi sakit hati ini biasanya ngomentarin betapa beruntungnya si C mendapat istri yang cantik, dan betapa menyesal istrinya mendapat si C yg bertampang pas-pasan. *ancene konco kurang ajar*

Pada akhirnya, debat itu berujung soal nasib mereka berdua, tentang kapan mereka menyusul si C untuk menggenapkan separuh agama.

“Agaknya aku bakal lama, Bro,” ujar si A, “soalnya bagiku pernikahan adalah sesuatu yang sakral, yang tidak sembarang orang mampu menjalaninya. Butuh persiapan teramat matang.”

“Ya iya, lah. Sakral banget,” si B menimpali, “tak sembarang orang mampu, gimana maksudnya, Bro?”

“Kamu tau, kan, sekarang ini jumlah perceraian di Surabaya jauh lebih banyak daripada jumlah pernikahan per harinya. Belum tentu, deh, orang yang tampak bahagia di pelaminan bisa bahagia juga saat menikah. So, butuh persiapan sangat matang supaya bener2 bisa bahagia baik di pelaminan maupun di kehidupan rumah tangga nantinya,” si A menjelaskan panjang lebar.

“Hmm.. trus kayaknya kamu bakalan lama gak nikah-nikah?,” si B bertanya.

“Kayaknya, Bro. Aku harus pastikan, calonku adalah sosok yang sempurna, yang memang memahami aku, memahami kaidah pernikahan, dan memahami bagaimana cara menjalani rumah tangga dengan baik.”

“Enak bener kamu. Masa’ istrimu yang kamu suruh susah payah buat kamu. Lha kamu sendiri opo gak atek sinau soal nikah?,” si B protes.

“Ya pake, lah. Mangkanya itu, Bro, aku harus memantaskan diri supaya dapet istri yang seperti itu. Jadi belajarnya harus lama. Gak bisa singkat,” ujar si A.

“Bisa-bisa sampe tua gak akan nikah kamu, Bro,” cibir si B, “kalo aku, semuanya akan kujalani bersama dia. Tidak ada yang sempurna pada awalnya, tapi semua bisa disempurnakan sambil jalan. Kami akan belajar bersama-sama. Baik dari pengalaman diri sendiri maupun dari pengalaman orang lain.”

“Kamu gak takut bakal cerai? Atau, bakal gak bahagia di biduk rumah tanggamu?”

“Resiko itu pasti ada, Bro,” jawab si B santai, “tapi terlampau memandang resiko membuat kita tak bergerak ke mana-mana. Niatku sih cuman satu, menyempurnakan dan menyegerakan kebaikan. Termasuk soal menikah ini.”

“Soal bekal harta gimana, Bro? Modal nikah, gitu,” si A bertanya bersungut-sungut.

“Itu juga disiapkanlah, Bro. Mangkanya aku coba usaha kecil-kecilan. Nyoba suplier diamond di Frank & Co., wkwk” jawab si B sambil terkekeh.

“Yo iku usaha kecil tapi omzet milyaran, jenenge..” si A mendengus.

“Iya lah, Bro. Amiin. Sing penting kita menyegerakan kebaikan. Menunda menyelesaikan kebaikan sama aja memandang rendah diri kita yang tak mampu membuat lompatan-lompatan. Padahal kita bisa. Coba minta kekuatan sama Allah, insyAllah dimudahkan.”

_____
*sekilas sudut pandang soal menikah, yang hangat diperbincangkan di forum curhat akhir-akhir ini*

Dan tentu saja, sudut pandang mereka menentukan keputusan mereka soal kapan mereka akan menikah.

Advertisements