“Mungkin kau perlu merasakan sakit, agar mengerti seberapa besar kau mencintai.” ~ saya

Satu-satunya kesamaan antara saya dan Lukman adalah kami tak gampang percaya lagi setelah satu kali dikhianati. Setelahnya, kami menjadi over-waspada. Atau kalau tidak, kami menjadi less-hope; tidak banyak berharap ketika menitipkan sesuatu padanya.

Karena bagi kami, tetap memberikan kepercayaan kepadanya sama saja dengan memberikan satu kali peluru untuk dia menembak kami, atau menyengaja memberikan punggung untuk ditikam dari belakang sekali lagi.

Termasuk soal cinta.

Hingga suatu ketika di pengajian subuh, menyambut 1 Muharram kemarin, kami menyadari sesuatu. Kebetulan di masjid agak jauh dari rumah mengadakan kajian rutin tiap subuh. Dan tema setiap ahad pagi adalah seputar rumah tangga.

Kebetulan, nih, pikir saya. Meski tidak ada kebetulan yang kebetulan.

Masjid ini adalah satu-satunya masjid ber-AC di kampung kami. Tampaknya kali ini cukup laris jamaah subuhnya, mungkin karena cuaca Surabaya sedang panas, ya. Atau justru banyak bapak-bapak galau yang pengen dapat pencerahan soal rumah tangga.

“Siapa yang tidak sakit hati ketika dikhianati, silakan angkat tangan?,” tanya ustad kepada kami. Pandangannya menyisir dari ujung ke ujung, menangkap simpul-simpul senyum kami yang malu-malu. Lalu ada yang angkat tangan, “Ya?,” pandangan ustad tertuju kepadanya. “Anu, pengen pup, tad,” katanya sambil meringis. “Oiya, silakan. Tadi belum, ya.”

Selain yang pengen pup tadi, ternyata tidak ada yang angkat tangan. “Hampir setiap orang di dunia ini tidak ada yang tidak sakit hati karena dikhianati. Kalau ada yang tidak sakit hati, wuih, saya salut kepadanya. Hatinya seluas samudra,” kata ustad memuji.

Lalu ada yang angkat tangan. “Ya?,” pandangan ustad tertuju kepadanya. “Anu, pengen pup juga, tad,” katanya sambil meringis. “Oiya, silakan. Gantian sama yang tadi, ya.”

Sekuat tenaga sang ustad mengembalikan fokus jamaah kembali ke topik. Jamaah terlanjur riuh rendah karena suasana serius pengajian terganggu gara-gara topik pup. “Baik, ikhwah fillah rahimakumullah,” sapa ustad kepada para jamaah, “sebenernya kita punya mekanisme alami untuk mewaspadai kejadian penkhianatan ini.”

Lalu ada yang angkat tangan. “Mau pup juga?,” sang ustad agak naik pitam. “Anu, bukan, tad. Afwan, mau tanya, ustad nggak kebelet pup juga?,” katanya sambil meringis. “Enggak, saya tadi sudah di rumah.” Lalu jamaah menyadari bahwa topik pup ini adalah hoax.

“Mekanisme itu disebut cemburu,” sang ustad melanjutkan, “cemburu adalah cara alami seseorang untuk mencegah terjadinya pengkhianatan. Dengan cemburu kita akan terpacu, dengan cemburu kita akan berbuat sesuatu.”

“Cemburu itu ibarat api. Yang dengannya kita bisa terbakar habis karena emosi sesaat. Atau justru menjadikan api itu sebagai semangat memperbaiki, tenaga untuk berbuat ahsan–berbuat yang terbaik, dan lebih baik lagi–kepada orang yang kita cintai.”

“Api cemburu bisa jadi api neraka, atau api surga. Api neraka justru membuat kita membabi-buta. Api surga justru membuat kita ikhlas mengerjakan banyak kebaikan tanpa diminta, agar yang kita cintai semakin betah dengan kita.”

“Karena cemburu adalah madu sekaligus racun. Madu yang membuat setiap hubungan menjadi manis–jika disertai semangat memperbaiki. Racun, yang membuat kita terkapar tak berdaya–jika sikap kita menjadi agresif, dzalim kepada diri sendiri dan orang lain.

“Karena dengan cemburu buta, hati menjadi tertutup, jiwa menjadi mati meski raga masih hidup.”

Para jamaah manggut-manggut. Namun ustad menangkap bahwa beberapa di antara kami masih bimbang. Pada akhirnya ada dua orang yang angkat tangan. “Ya, antum, silakan?,” ustad menunjuk salah satunya. “Anu ustad, bagaimana cara memiliki cemburu yang hasan–cemburu yang baik?,” tanyanya malu-malu.

“Khair, ana simpan dulu pertanyaannya. Kalo antum, silakan bertanya?,” ustad menunjuk yang lain. “Anu, tidak jadi, ustad. Saya langsung ke belakang aja gapapa, ya?,” si penanya langsung lari ke belakang. Sang ustad memalingkan wajah, dan jamaah paham bahwa lagi-lagi ini soal pup.

“Bagaimana cara memiliki cemburu yang hasan–cemburu yang baik?,” sang ustad mengulang pertanyaan pertama, dan memilih tidak menanggapi pertanyaan kedua karena pasti soal pup.

Sang ustad menyisir dari ujung ke ujung. Memandang wajah kami yang menunggu-nunggu ustad memberikan jawabannya. Pandangan ustad men-skip dua orang, yang ternyata sudah kembali setelah nge-pup tadi.

Sang ustad menarik napas. “Hijrah cinta,” jawab ustad singkat. Sesaat kami berpikir ustad akan mengatakan, “Sekian, wassalamualaikum warahmatullahi,” dan menutup pengajian subuh dengan jawaban menggantung. Ternyata tidak.

“Hijrah cinta, itu kuncinya,” jawab ustad dengan tegas, “kebanyakan kita mencintai sosok makhluknya, namun melupakan siapa Penciptanya.”

“Rasulullah saw pernah mengajari kita sebuah doa,

“Ya Allah, aku memohon curahan cinta-Mu dan kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu, serta mohon curahan amal yang dapat mengantarkan diriku mencintai-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kepada-Mu lebih tertanam dalam jiwaku melebihi kecintaanku kepada diri sendiri dan keluargaku. (H.R. Tirmizi)”

“..melebihi kecintaanku kepada diri sendiri dan keluargaku, itu yang perlu dijadikan perhatian,” ustad mengucapkan kalimat ini dengan penekanan.

“Ikhwahfillah rahimakumullah,” ustad melanjutkan dengan tenang, “saya selalu mengingatkan diri saya sendiri, bahwa semua hanyalah titipan. Titipan dari Allah yang perlu kita jaga baik-baik.”

“Namun ingat,” ustad memberi jeda, pandangannya tajam ke arah kami, “suatu saat Allah pasti mengambilnya. Apapun itu. Siapapun itu. Teman bisa menjadi musuh, anak bisa menjadi musyrik, dan suami/isteri bisa mendua. Dalam lautan bisa diduga, dalam hati siapa yang tahu.”

“Sehingga senantiasalah berdoa,

“Yaa Muqollibal quluub, tsabbit quluubanaa ‘ala ad-diinika. Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami pada agamaMu.”

“Tetapkanlah hati kami tertuju kepadaMu meski kami sedang terbakar api cemburu. Tetapkanlah hati kami kepadaMu meski rasanya kami merugi melakukan perbuatan baik kepada mereka yang telah mengkhianati.”

“Kalau untuk urusan cinta–dan cinta yang kita maksud adalah cinta dalam rumah tangga, bukan dalam tata negara apalagi pacaran–dikenal istilah, ‘Unconditional Love’–cinta yang tak bersyarat. Para ilmuwan Barat membuktikan bahwa cinta tak bersyarat ini memiliki dampak positif terhadap tubuh.”

Sang ustad memandang ke arah kami, “Di sebuah sampel sekian orang yang membenci, di antaranya diminta melakukan proses forgiveness–pemaafan–terhadap siapapun yang telah menyakiti hatinya. Kemudian mereka diminta mempraktikkan hal ini dalam kehidupan mereka: memaafkan, mengasihi dan menyayangi, lalu memberikan perhatian, kepada mereka yang telah menyakiti. Kemudian seluruh sampel itu kembali dikumpulkan. Ternyata, setelah air liur mereka dilakukan uji, mereka yang mempraktikkan ‘Unconditional Love’ memiliki tingkat kekebalan yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang membenci.”

Sang ustad menarik napas, “Memang lebih mudah membenci, namun lebih sehat mencintai,” ujarnya. “Di momen Tahun Baru Hijriyah ini, hijrah-kan lah cinta kita kepada Dia Yang Maha Mencintai.”

“Biarkanlah Allah yang membahagiakan kita dengan pahalaNya, biarkanlah Allah mengampuni dosa-dosa kita dengan ujian dan cobaan berupa pengkhianatan.”

“Jangan menyerah. Terus dan teruslah lakukan banyak kebaikan. Siapa tahu Allah menyiapkan pahala yang besar untuk kita. Atau, siapa tahu, Allah belum selesai membersihkan dosa dan kesalahan kita dengan ujianNya. Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita di masa lalu dan di masa yang akan datang.”

“Bayangkanlah sepohon cinta telah tumbuh dalam hati kita, pohon yang terbaik, yang disirami dengan kasih sayang dan perhatian, akan kita berikan kepada mereka yang telah menyakiti.”

“Semoga Allah memuliakan kita atas kesabaran dan kasih sayang kita yang tak berbatas. Semoga Allah memberikan kemuliaan kepada kita sekeluarga. Amiin.”

“Amiiiin,” sahut para jamaah.

Air mata kami pun meleleh.

Advertisements