“Ya Allah, cintakanlah aku kepada dia yang mencintaiMu.”
~ teman saya.

… .

Saat saya cerita ingin segera melamar pacar saya waktu itu, teman saya bilang, “Fid, orang pacaran itu ibarat drama. Banyak aktingnya. Banyak palsunya. Kalau mau jalani kehidupan yang sebenarnya, menikahlah.”

Setelah saya lamaran, teman saya inipun bilang, “Fid, orang menikah kalau sudah lewat lima, enam tahun, sudah seperti teman biasa. Apalagi kalau sudah di atas sepuluh, dua puluh tahun, hmm, pasti seperti sahabat sendiri.”

Setelah menikah, teman saya ini bilang, “Fid, lezatnya pernikahan itu biasanya pada awal-awal menikah. Makanya, mumpung kamu belom dua tahun nikah, banyak-banyak habiskan waktu sama isterimu. Reguk kenikmatan dunia. Toh berpahala juga.”

Teman saya ini baru tiga tahun menikah, by the way.

Kemarin, waktu saya ngopi sama Lukman, teman saya ini ikutan nimbrung dan bilang, “Kadang, setelah lama kenal, persona istri tidak seperti awal-awal yang kita harapkan. Makin keliatan aslinya. Tinggal pinter-pinternya kamu menata hati, supaya tidak berpaling kepada yang lain.”

Teman saya ini sepertinya sedang membicarakan dirinya sendiri.

Teori dalam ilmu jiwa menyebutkan, jikalau ada gap antara harapan dan kenyataan, maka terjadilah konflik. Mungkin teman saya ini sedang konflik batin, ya.

“Awalnya kamu berharap dia bisa seratus persen memenuhi harapanmu,” dia melanjutkan, “eh ternyata, bisanya dia cuma empat puluh persen. Enam puluh persen kamu dapet darimana, ‘kan kita pasti bertanya-tanya gitu, to?”

Kita? Koen ae, be’e. Loe aja, kali’.

“Jangan sampai berpaling, Fid. Jangan sampai selingkuh. Menjadikan alasan bahwa istri tak mampu memenuhi harapan dan kebutuhan kita, lalu kita selingkuh, itu adalah alasan yang paling cemen dan dibuat-buat.”

“Poligami aja,” sahut Lukman.

“Nggak segampang itu poligami, Bro Luk,” tandasnya, “poligami bisa mengantarmu menuju kesengsaraan dunia-akhirat jika kamu hanya mendasarkan hawa nafsu, bukan ibadah untuk mensucikan dirimu dan keluargamu.”

Saya mulai tertarik dengan poligami omongannya.

“Kuncinya di cinta empat puluh persen tadi,” dia nyruput kopinya. “Cinta empat puluh persen ini juga bisa mengantarmu ke kebahagiaan dunia-akhirat, atau malah menjadikanmu sengsara.”

“Ya pasti sengsara, lah. Cinta kok cuman empat puluh persen. Kayak diskon di Ramayana aja,” Lukman bersungut-sungut.

“Hei, diem dulu. Lanjut, Bro,” saya mencolek teman saya untuk meneruskan omongannya soal poligami cinta empat puluh persen tadi.

“Wajar kalau kita sengsara, Bro,” tegasnya kepada Lukman, “pasti kita mikir, kalau cintanya istri cuman empat puluh persen, yang enam puluh persen dikasiin ke siapa? Jangan-jangan dia menomorduakan kita setelah keluarga besarnya, atau pekerjaannya. Bisa jadi nomor sekian setelah anak-anak dan karirnya.”

Dia nyruput kopinya lagi, lalu membanting gelasnya, “Yang paling parah,” sorot matanya berubah tajam, “kalau ternyata enam puluh persennya diberikan ke pria idaman lainnya.”

“Ah, paranoid koen, Pak,” saya memotong.

“Ya, siapa tahu? Semua bisa terjadi, kan?”

“Apa sudah ada buktinya? Silakan ngomong gitu kalau sudah jelas kejadiannya tertangkap kamera, atau ada saksi, dan apalah yang bisa menguatkan dugaanmu. Kalau cuman dugaan, ya paranoid, namanya. Itu yang bikin kamu sengsara, bukan empat puluh persennya,” saya protes.

“Kalau kamu sendiri gimana, Fid?,” dia mendadak mengubah topiknya ke saya. Bukan soal poligami lagi.

“Lho, kok aku?,” saya menghindar.

“Lha iya, gimana kalau istrimu cuman punya cinta empat puluh persen? Kamu ngga takut kalau ternyata sisanya diberikan ke orang lain yang jadi sainganmu? Kamu ngga takut?,” kata-katanya mengancam.

Dan saya termakan ancamannya, “Takut juga, sih.”

Kerongkongan saya kering, tercekat oleh kata-katanya yang mengancam. Saya nyruput kopi, tapi baru nyadar kalau saya tidak pesan kopi. Teman saya merebut gelas kopinya dari tangan saya, tapi kecewa karena sudah terlanjur saya habiskan. Tinggal ampasnya yang dia jilat-jilat lewat telunjuknya. Saya dan Lukman bergidik. Ternyata orang ini nggilani, ya.

“Nah, kan. Kamu takut juga, kan,” katanya. Saya manggut-manggut, lebih karena takut jijik sama teman saya, dan takut tagihan warung ini dobel gara-gara nyruput kopinya.

“Trus?,” Lukman mendesak dia menjelaskan.

Teman saya ini makin lahap meneruskan jilat-jilat ampas kopinya. Ternyata dia salah paham, maksud Lukman adalah meneruskan penjelasannya.

“Iya, kuncinya yang di empat puluh persen tadi,” dia lanjutkan bicara, dan giginya tampak hitam semua gara-gara ampas kopi, “kamu bisa sengsara, juga bisa bahagia.”

“Kamu bisa bersyukur karena empat puluh persen itu, atau kamu malah menuntut dia memberikan lebih. Yang sebenarnya beresiko membuat dia makin tidak nyaman dengan kamu.”

“Wajar dong sebagai suami menuntut yang enam puluh persennya,” Lukman tidak terima. Padahal dia satu-satunya jomblo di antara kami. Mungkin kenyataan rumah tangga tidak seideal yang dia impikan.

“Iya, wajar,” sahut teman saya. Giginya sudah bersih dari ampas kopi. “Cara terbaik ada dua: Menurunkan harapanmu, atau meningkatkan kemampuannya dalam mencintai.”

“Maksudnya?,” saya penasaran kenapa bukan malah poligami yang dibahas.

“Iya, ajari dia cara untuk memberikan lebih banyak cinta kepadamu. Atau, turunkan harapanmu agar kamu tidak terlalu berharap. Aku sih, pilih yang kedua. Lebih mudah kulakukan, dan mencegah sakit hati.”

Persis seperti teori dalam ilmu jiwa. Kalau kita berkonflik gara-gara ada gap antara kenyataan dan harapan, dua hal yang bisa kita lakukan adalah menaikkan kemampuan mengubah kenyataan, atau menurunkan harapan agar tidak terlalu berharap. Biasanya cara dua lebih mudah dan lebih sering berhasil.

“Berarti kamu pasrah?,” Lukman masih tidak terima.

“Bukan pasrah, tapi realistis,” teman saya berusaha tenang, “Pasrah sama dengan menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Tapi kalau realistis, ya menerima kenyataan, mengubah mana yang bisa diubah, sambil terus ngajarin dia bagaimana bisa menambah cintanya kepada kita.”

“Emang bisa cinta ditambah?,” Lukman tetap tidak terima.

“Bisa. Cinta itu kata kerja. Bukan kata sifat. Bukan kata benda,” teman saya terasa mulai filosofis. “Kalau cinta, harus bekerja, berusaha, berjuang. Kalau mau dicintai, harus berjuang. Kalau mau mencintai, juga harus berjuang.”

“Gimana caranya?,” Lukman mulai tertarik.

“Banyak hal dalam rumah tangga yang bisa diusahakan. Misalnya sekedar bangun pagi untuk menyiapkan minuman kita, atau sekedar mengingatkan salat subuh berjamaah, atau mencium tangan ketika kita akan berangkat ke kantor. Semua itu hal-hal kecil, yang kalau suami-isteri yang melakukan, nilainya surga, lho.”

Saya dan Lukman manggut-manggut.

“Hal-hal semacam itulah yang perlu dibiasakan. Kerjakanlah dengan tujuan meraih ridha Allah, karena menikah itu ibadah. Sesulit apapun menjalani rumah tangga, kalau niatnya untuk ibadah, insyAllah akan ringan dijalani.”

“Kalau tetap tidak berhasil menambah rasa cinta?,” saya dan Lukman tanya hampir bersamaan.

“Makanya kita dianjurkan banyak-banyak berdoa, ‘Ya Allah, cintakanlah aku kepada dia yang mencintaiMu’. Gitu, Bro.”

Teman saya pesan kopi satu gelas lagi. “Doa ini punya dua dampak. Yang pertama, agar kita selalu ingat, bahwa kepada Allah-lah kita mendasarkan niat untuk mencintai seseorang. ‘Aku mencintaimu karena Allah’, atau aku mencintaimu karena cintamu kepada Allah’.”

“Yang kedua, selalu ingat bahwa kita punya kewajiban untuk mengajarkan istri kita, bahwa biarlah hanya kepada kita cintanya empat puluh persen, tapi sama Allah adalah enam puluh persen sisanya.”

“Karena itu, meski menyadari bahwa mungkin cinta istri kita hanya empat puluh persen, ada Allah yang selalu mencukupkan cintaNya kepada kita.”

“Allah tidak akan membiarkan hambaNya sengsara, selama kita tahu bahwa cinta Allah tak berbatas, dan sepanjang kita yakin, maka tak kurang-kurang bukti cinta Allah kepada kita.”

“Bicaramu abstrak, Bro,” Lukman menimpali.

“Omonganku memang abstrak, tapi buktinya nyata. Coba tanya Hafid, keajaiban-keajaiban apa yang ia rasakan setelah menikah. Banyak to, Fid?”

Saya tersenyum, “Iya. Banyak. Buanyaaak.”

“Kayak apa?,” Lukman butuh bukti.

“Kayak soal penghasilan. Aku ngga pernah nyangka nyari penghasilan semudah ini, alhamdulillah. Memang sulit membagi waktu. Harus kompromi sama istri, sama keluarga, dan kadang ya beberapa hal terbengkalai. Tapi, selaluuu ada aja sumber-sumber penghasilan baru yang tak diduga.”

“Nah, itu cuman sebagian kecil, Bro. Itu cuman yang kamu liat. Yang nggak kamu liat lebih banyak lagi,” teman saya tampak optimis, “Yang paling gampang, coba kamu liat, di bangsal-bangsal rumah sakit. Bandingkan mereka yang sakit dengan keadaanmu sekarang. Jauh berbeda, to?”

“Iya,” saya mengangguk.

“Itulah bukti cinta Allah sama kamu. Mungkin kamu merasakan sengsara karena cinta istrimu cuman empat puluh persen. Itu cuman awalnya. Tapi, dalam kehidupanmu, kamu merasakan bahwa cinta Allah sudah lebih dari enam puluh persen. Mungkin berpuluh-puluh dan beratus-ratus persen.”

“Yakin aja lah sama Allah. CintaNya lebih besar dari hitungan manusia.”

Saya tersenyum. Bener juga, ya, batin saya.

Saya dan Lukman terdiam dalam hening.

Advertisements