Saya bener-bener kaget ketika seorang teman nyeletuk soal singkatan kata “selingkuh”, yakni “selingan keluarga utuh”. Sekedar selingan, tapi keluarga tetep utuh–kalo nggak ketahuan, wkwk.. Kalau ketahuan? Ya nggak utuh lagi kali, ya.

Teman ini adalah seorang lelaki paruh baya, yang saya kenal karena sama-sama ada di sebuah komunitas. Di tempat asalnya, selingkuh adalah hal yang biasa. Kalau ketahuan selingkuh, pasti pasangannya akan membalas dengan melakukan selingkuh yang lebih masif dan sistematis. Dan disengaja agar ketahuan. Wuih.

“Selingan, keluarga utuh. Ya nggak apa-apalah selingan. Yang penting masih berusaha menjaga keutuhan keluarga,” katanya tertawa. Saya nggak tau orang lain gimana, tapi bagi saya, kalimat ini terasa sakit, lho. Sakitnya tuh di sini.. *pasang ringbacktone Cita Citata*

Menurut beberapa orang, ada salah satu keajaiban rumah tangga yang berhubungan dengan selingkuh. Entah gimana caranya, yang namanya selingkuh selaluuu aja ketahuan. Yang membedakan adalah caranya dan waktunya.

Apakah langsung dengan cara yang keras dan bikin pecah perang dunia ketiga, atau pakai cara yang lembut dimana buktinya akan muncul satu demi satu.

Mungkin si dia ketahuan selingkuh setelah sekian lama. Ternyata Anda baru tahu kalau si dia punya “ehem idaman lain” sejak tahun pertama Anda menikah, padahal usia pernikahan Anda telah sekian puluh tahun.

Bisa juga dalam waktu yang sangat sebentar, dalam hitungan bulan bahkan minggu terhitung setelah Anda dan si dia saling mengikat diri secara resmi.

Perbedaan cara dan waktu ini, punya daya destruksi yang berbeda-beda. Coba bayangkan kejadian pertama.

Anda mergoki pasangan lagi “ehem-ehem” ama selingkuhannya, langsung blak-blakan, dan ternyata mereka sudah menjalin hubungan sejak lama.

Bandingkan dengan kejadian kedua. Satu-demi-satu bukti-bukti selingkuhnya muncul, dan hanya berjarak beberapa bulan saja setelah Anda menikah.

Kira-kira mana yang paling makan ati dan bikin hidup Anda hancur, kejadian pertama atau kedua? Naudzubillahi min dzaliik..

Kejadian pertama punya daya destruksi yang cukup besar, lho. Dan ini sebagian besar perceraian terjadi pada keluarga yang pernah mengalami kejadian ini. Lucunya, menurut statistik kasar dari para psikiater senior, perceraian itu terjadi setelah setahun-dua tahun pasca perang dunia ketiga tadi.

Mungkin mereka masih berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga, ya. Atau sedang mencari momen agar pasangannya dapat serangan balik perselingkuhan yang lebih masif dan sistematis tadi. Wkwk..

Kejadian kedua, mungkin terjadi pada sebagian pasangan muda. Mestinya mereka bisa menikmati “hangat-hangatnya” rumah tangga karena memang baru saja menikah.

Tapi jauh panggang daripada api. Ternyata bukti-bukti perselingkuhan pasangannya semakin banyak terkumpul. Entah dari orang lain atau yang dia temukan sendiri.

Yang menarik, ternyata pasangan muda ini tidak serta merta memutuskan pisah. Marahan sih iya, tapi sebagian besar merasa gengsi, malu, atau apalah untuk menyatakan pisah.

Mosok sek tas rabi we bubrah, rek.. Nek koyok ngene corone yo lha lapo rabi ambek wong iki..

Sebagian dari pasangan muda ini lebih bisa melihat “kesempatan kedua” untuk memperbaiki hubungan di tahun-tahun berikutnya. Sebagian yang lain justru bersyukur untuk memutuskan pisah sebelum jauh terlambat.

Bisa dibayangkan dan dirasakan, daya destruksi yang mereka alami tidak seperti kejadian perselingkuhan pertama. Kalau Anda di posisi pasangan muda ini, bakal pilih mana: mengambil kesempatan kedua atau pisah? Hehe..

Teman saya ini berargumen, “Selingkuh itu kalo awalnya ada rasa cinta, trus mendua. Itu memang salah. Tapi lain halnya kalo sejak awal nggak ada rasa cinta sama pasangannya. Namanya ya bukan selingkuh. Tapi dia telah menemukan cinta yang lain yang tidak ia dapatkan dari pasangannya. Ya harap maklumlah, namanya juga nggak ada cinta sejak awal.”

Oke, fine. Lalu buat apa mengikat diri kalau pada akhirnya sama-sama tidak bahagia? Sungguh non-sense, bukan?

Kita saling mengikat diri untuk saling membahagiakan, bukan menyengsarakan. Percuma mengikat diri kalau niatnya agar nggak dibully sebagai jones–jomblo ngenes.. Atau sekedar biar orang tua nggak malu, emangnya Siti Nurbaya.. Atau pasrah dinikahi karena kerajaannya kalah perang.. emangnya Ratu Jodha.. wkwk..

Kalau memang tak mampu membahagiakan, lepaskan dia, dan biarlah dia dibahagiakan orang lain. Setuju?

Peraturan yang sama buatmu: lepaskan aku dan silakan jemput bahagiamu, daripada hubungan ini berjalan semakin lama semakin dalam, dan ternyata kita tidak benar-benar bahagia.

Fair enough, isn’t it?

Buat kamu-kamu yang pernah diselingkuhin, saya paham, bahwa ada “suatu bagian” dari dirimu yang ikut terbawa pergi bersamanya. Ya, saya bisa memahami hal itu sepenuhnya.

Lalu kamu merasakan ada lubang di hatimu, sangat dalam, dingin, dan hampa, yang menurutmu hanya bisa diisi oleh dia, dan kenangan-kenangan bersama dia.

Apa yang kamu rasain itu wajar, karena kamu baru saja kehilangan. Tapi, hidup nggak berhenti sampai di sini. Doakan panjang umur sehingga dia cukup sehat untuk melihat kesuksesanmu. ๐Ÿ˜‰

Tentu saja berjanjilah demi dirimu sendiri, bahwa berusahalah menjadi yang terbaik versi dirimu sendiri. Tidak usah membanding-bandingkan dengan orang lain, karena tiap orang unik, dan kamu juga unik.

Bergaullah dengan orang-orang baik, karena jalan-jalan sama orang galau hanya membuat hidupmu makin kacau. So, libatkan dirimu ke komunitas orang-orang yang penuh dengan pikiran positif, agar kamu juga dipenuhi pikiran positif.

Lebih seringlah berbagi dengan mereka yang lebih tidak beruntung daripada kamu, dan sibukkan dirimu dengan kegiatan yang baik-baik. Hingga tanpa kamu sadari kamu telah berjalan sejauh ini, dengan banyak hal positif yang telah mengisi hidupmu.

Pada akhirnya lubang itu telah tertutup. Dan kamu telah move on sepenuhnya. ๐Ÿ™‚

Buat kamu yang pernah selingkuh, baik kamu sebagai pelakunya, atau ternyata kamu adalah si “ehem idaman lain”.. saya tegaskan bahwa saya berbesar hati memaafkan perbuatanmu.

Saya masih percaya bahwa Tuhan tidak tidur, dan Dia tahu semua perbuatan kita. Biarlah Tuhan yang bikin perhitungan denganmu, apakah di dunia, atau ketika kamu sudah menghadapNya nanti.

Terus terang, walau saya menyerahkan pembalasannya kepada Tuhan, kadang saya masih ingin melakukan pembalasan itu sendiri, biar kamu tahu rasa. Tapi, maaf, terlalu berharga waktu dan tenaga saya untuk mengurusi kamu.

So, saya harus berulang kali mengingatkan diri saya sendiri, bahwa saya telah menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Ya, saya serahkan semuanya kepada Tuhan.

Saya sedang berproses, saya tahu hal ini nggak gampang, tapi suatu saat saya pasti bisa dan terbiasa. Pada akhirnya saya telah benar-benar siap untuk jatuh cinta kembali kepada dia yang lebih bisa mencintai saya. ๐Ÿ™‚

Saya cukupkan sampai di sini aja, ya. Silakan kamu yang melanjutkan. Iya, kamuu~ *Dodit style*

Advertisements