“Mas tau nggak,” istrinya berkata suatu ketika, “laron itu hidupnya cuman sehari. Begitu mencapai lampu, tak lama dia mati.” Kenang sahabat saya tentang istrinya.

Sahabat saya ini, tiba-tiba menelepon saya, lalu berkata akan menitip motor di rumah. Hari itu hujan lebat di sore hari, sehingga ia khawatir tidak bisa pulang ke rumah. Jadilah ia menitip motor di rumah saya di Bratang, lalu nebeng saya untuk pulang ke Gresik.

“Okelah,” jawab saya, “mobilku sudah kujual, tapi kebetulan nanti sore adikku mampir ke rumah Bratang. Nanti kita nebeng dia aja, kita sama-sama pulang ke Gresik.” Sahabat saya setuju.

Sebut saja namanya Ian. Saya mengenalnya tidak cukup lama, sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu sedang bahagia-bahagianya ia karena baru saja menikah. Kami saling kenal karena kebetulan punya hobby yang sama, yakni menjadi pembicara di training dan seminar. Sempat lama tidak kontak, tiba-tiba sore tadi ia mengabari ada masalah dengan istrinya.

“Apa kabar istrimu, Bro?,” dia balik bertanya. “Baik,” jawab saya singkat sambil melihat ke arahnya. Biasanya saat-saat seperti ini, seseorang akan mencari tema yang sama dengan apa yang dia ingin bicarakan. Saya sebaiknya tidak bicara lebih banyak, biar dia yang memulai pembicaraan.

Ian mengambil cangkir di depannya, lalu minum seteguk. Saya mengikuti. Teh hangat memang cocok disuguhkan saat senja dingin akibat hujan. “Istriku, Bro,” Ian mulai bicara. Saya diam dan menyimak.

Suasana hening sejenak, seakan-akan rinai hujan di luar sana ikut-ikutan jeda, paused. “Aku nggak menyangka akan seperti ini, Bro. Orang yang kubangga-banggakan, kupuja-puja, kuidam-idamkan menjadi ibu bagi anak-anakku, tak lama lagi akan jauh dariku. Jauh secara resmi. Pisah secara hukum dan agama.”

“Masya Allah,” spontan saya nyeletuk. Saya tak menyangka arahnya bakal ke sini.

“Ya, begitulah. Terus terang memang banyak penyesuaian yang harus kami lakukan di tahun pertama pernikahan kami. Namanya orang baru nikah. Pasti banyak adaptasi. Tapi saya tak menyangka alasan pisahnya karena … ya, karena itu,” Ian menelan ludah.

“Karena?,” saya memandangnya. “Ada sebab yang nggak bisa aku ceritakan, Bro,” Ian mengalihkan pandangan, tampak menyesal, “menurutku itu aib. Biar aku dan istri yang tahu. Maap soal itu aku nggak bisa cerita,” katanya. Saya mengangguk.

“Tidak apa-apa, kamu silakan cerita yang ingin kamu ceritakan, dan silakan simpan apa yang ingin kamu simpan,” jawab saya. Saya berusaha memahami.

Ada keyakinan dalam agama kami bahwa, orang lain memuji kita bukanlah karena kelebihan kita, melainkan karena Allah menutupi segala aib dalam diri kita. Ian bersikukuh untuk tidak membuka aib isterinya–ehm, calon mantan isterinya–karena ia tak mau hal yang sama terjadi pada dirinya. Bagi Ian yang juga seorang trainer, ada hal-hal yang memang harus ia jaga.

“Tugasku ngancani kamu biar bisa kuat nglewatin semua ini,” saya tersenyum kepadanya. “Iya, makasii ya. Padahal kita baru kenal, ya. Haha..,” Ian tertawa, mencoba memecah hawa dingin karena hujan–atau kenangan.

Kami memutuskan duduk depan dan mempersilakan adik saya istirahat di belakang. Saya memegang setir, mengintip dari spion atas, dan oh, adik saya sudah tertidur. Saya mengkode Ian agar melanjutkan ceritanya.

“Aku sudah berusaha mengalah sejak lama. Ya, sebaiknya nggak kusebut mengalah, ya. Karena aku bilang dalam hati, bahwa istri layaknya ranting muda yang bengkok. Harus diluruskan dengan perlahan, jika kita terlalu tegas, maka akan patah. Jadilah aku berusaha banyak menahan diri, karena tidak ingin mematahkan semangatnya dalam berumah tangga.”

“Ada pepatah,” saya menyisip ketika Ian mengambil jeda, “cinta sejati akan memberimu sayap, cinta palsu akan memberimu belenggu. Kau sedang berusaha memberinya sayap, kan?”

“Ya, kata Cak Lontong, ya,” kami tertawa.

“Bolehlah dibilang begitu, Fid. Tapi ternyata, sayap itu digunakannya teramat jauh … Jauh meninggalkan aku,” Ian menerawang.

“Aku tidak pernah mempermasalahkan dia aktif mengejar karir. Aku menghormati pilihannya untuk mengejar karir, dan kami sudah sepakat akan hal itu. Inilah konsekuensi yang harus kutempuh, dan aku tidak pernah menyesal karenanya. Tapi aku ingin, ketika dia di rumah, dia benar-benar ada di rumah.”

“Sekuat mungkin aku menyiapkan rumah, memanggil asisten bersih-bersih rumah dua kali seminggu, tidak pernah menuntutnya masak untukku, bahkan kalau bisa aku sendiri yang masak. Rasulullah sendiri berusaha menjahit bajunya sendiri, menambal terompahnya sendiri, dan tidak pernah protes atas apapun yang disiapkan oleh istrinya, meskipun hanya roti dan cuka. Bahkan Rasulullah selalu memuji istrinya. Kata Rasul, ‘sebaik-baik kalian adalah yang paling baik bagi keluarganya, dan aku paling baik untuk keluargaku’, dan aku ingin menjadi sosok suami seperti itu, Fid.”

“Ada pepatah juga,” Ian berkata kepada dirinya sendiri, “Once you want your wife becomes an angel, first built her a heaven, dan sebaik-baik surga adalah di rumah. Aku ingin berkomitmen untuk itu. Baitii jannatii.” Rumahku surgaku.

“Faktanya, dia ada di rumah, tapi tidak benar-benar di rumah,” Ian menunduk, menahan tangis.

“Mestinya di rumah kita bisa menjadi diri sendiri, tapi aku tak bisa merasakan keterhadiran istriku di sana. Aku tidak bisa melihat istriku,” tangis Ian makin syahdu oleh hujan yang semakin deras.

Rumah bukan sekedar tempat berkumpul bersama keluarga. Rumah adalah tempat menjadi diri sendiri, setelah sekian lama menjadi “sosok lain” saat bekerja. Rumah bukan sekedar tempat melepas penat setelah sibuk dengan urusan dunia. Rumah adalah tempatmu menangis, tertawa, tersakiti lalu sembuh, terjatuh lalu bangkit kembali. Rumah adalah tempat untuk mengisi tenaga, sebelum esok bertarung dan terluka lagi.

Definisi rumah mungkin berbeda-beda tiap orang. Bagi Ian, rumah adalah tempat kembali. Rumah adalah tempat untuk pulang. “Sejauh apapun ia terbang, aku ingin ia kembali ke rumah,” Ian menangis, “nyatanya, ia tak pernah ‘pulang’ ke rumah. Padahal bagiku, rumah bukanlah bangunan fisik ini. Aku bisa menemukan banyak zona nyaman baru, asal bisa bersamanya. Bagiku, rumah adalah ia.”

Lama kami larut dalam rintik-rintik hujan. Wiper mobil bergerak satu-dua hitungan, sementara air hujan tidak pernah lelah membuat gercik lagu di luar sana. Lagu damai, dimana Rasulullah malah menyingkap kain yang menutupinya, untuk menyambut berkah yang diturunkan Tuhan semesta alam ini. Sementara kami, sedang bertambah sedih dibuatnya.

“Kamu banyak berdoa ya, Ian,” ujar saya, “mumpung lagi hujan, insya Allah doa-doa mustajabah, mudah dikabulkan.”

“Iya, Fid,” Ian menarik napas dalam-dalam. Saya mendengar ia mengucap istigfar, lalu memejamkan mata, memeras air matanya. Tak lama wajahnya lebih cerah dibanding sebelumnya.

“Detik-detik terakhir setelah kami bersepakat akan mengurus ke pengadilan, kami justru semakin dekat, Fid. Aku tak habis pikir,” Ian menelan ludah, “istriku banyak berubah justru di saat-saat terakhir ini. Dia rela habiskan waktu di dapur untuk menyiapkan makan malam, membuatkan aku jus buah saat aku sempat sakit, dan lebih romantis daripada bisanya.”

“Lalu, mengapa kalian tetap berpisah?”

“Ada sesuatu, Fid. Aku nggak bisa cerita. Yang jelas, urusan kami harus segera selesai,” suara Ian menjadi lebih tegas.

“Hm… Jadi yang dilakukannya, yang kamu bilang romantis itu, karena melihat engkau akan pergi, Kawan,” aku memandangnya sekilas, “sesuatu baru terasa berarti ketika akan pergi.”

“Ya, Fid. Banyak yang mengira begitu. Banyak yang mengira aku mungkin terjebak dua kali. Tapi tidak, Fid. Kuberitahukan padamu, bahwa bagi orang yang sedang jatuh cinta, semuanya terasa nyata. Hal yang tidak mungkin sekalipun. Mungkin sebagian orang menganggapnya gombal, tapi bagiku itu perbuatan yang tulus. Banyak pihak menilai sebagai perbuatan penjilat, tapi tidak, bagiku itu perilaku yang penuh cinta.”

“Kalian masih mencintai, dan tetap bersepakat berpisah?”

“Iya, Fid. Lebih tepatnya, aku perlu berproses sebelum benar-benar berpisah. Kesehatanku mendadak ngedrop beberapa waktu lalu. Aku mengenali diriku, ternyata perpisahan yang mendadak justru terlalu menyakitkanku. Sakit hati, sakit fisik. Terus terang, aku bersyukur karena ia masih di sampingku, merawatku. Tapi, makin lama aku makin menyadari, akan makin sulit melepasnya. Maka, aku akan membatasi komunikasi, dan tidak akan berkomunikasi jika bukan untuk keperluan perpisahan kami.”

“Tapi kamu masih memberinya kesempatan untuk memberimu kehangatan.”

“Iya. Kamu benar. Aku akui aku menikmatinya. Tapi lalu aku tidak boleh terlarut, karenanya aku berkata padanya, semoga kebaikannya ini–meskipun pada detik-detik terakhir–dinilai Allah sebagai baktinya kepada suami, setidaknya sebagai penggugur dosa di masa lalu.”

“Apa yang telah dilakukannya, yang membuatmu bersikukuh untuk berpisah?”

“Kesannya begitu ya, Fid? Ada sesuatu yang tak tertolak di antara kami, dan itu cukup menjadi alasan untuk kami berpisah. Aku tidak bersikukuh untuk berpisah–sungguh, perceraian adalah perkara halal yang dibenci Allah,” Ian menarik napas, “Allah menyebut perjanjian besar, mitsaqan ghalidza, hanya tiga kali dalam Alquran. Itu menunjukkan betapa seriusnya perjanjian itu. Termasuk akad nikah.”

“Aku tidak ingin dibenci Allah setelah perkara ini, karenanya aku berusaha hati-hati. Aku niatkan, bahwa putusan perkara ini hingga ke pengadilan, adalah untuk mendidik kami. Aku ingin mengingatkan diriku sendiri, dan istriku, bahwa rumah tangga bukan hanya tentang cinta, tapi juga komitmen. Dan komitmen ini mahal harganya.”

Hujan telah reda, menyisakan jejak-jejak basah di atas tanah. Jejak air itu berkumpul pada satu tanah rendah, lalu menggenang. Laju mobil kami memisah mereka, menjadi butir-butir kecil yang melompat ke kiri-kanan. Entah mereka ingin atau tidak, pada awalnya mereka berkumbul banyak-banyak, lalu bercerai berai. Beberapa dari mereka bersatu berkumpul, yang lain entah kemana, terlalu jauh melompat.

Mungkin seperti itu yang diharapkan Rasulullah ketika menikahkan Fatimah dengan Ali. Beliau saat itu berdoa, “Semoga Allah memberkahi mereka, menghimpun yang terserak dari keduanya, dan mengumpulkan mereka dalam kebaikan.” Yang semula terserak tercerai, menjadi terkumpul kembali dalam kebaikan. Ya, terkumpul dalam kebaikan. Tidak ada lagi yang diharapkan dalam sebuah pernikahan selain kebaikan.

Semoga kita semua berkumpul dalam kebaikan.
Amiiin.

Advertisements