“This is the country where the specialists haven’t met each other, and being stubborn standing in their own field.” ~ saya

Pak Ahmad Fais Zainuddin, founder SEFT, pernah bercerita. Ada kisah tentang seorang arsitek naturalis asal Eropa yang diminta membangun mall di Afrika Selatan. Kita tahu, Benua Afrika sebagian besar terdiri dari gurun, dimana cuaca bisa sangat ekstrim panas di kala siang.

“Tidak mungkin membuat rancang bangun mall gaya Eropa di sini. Pasti high-cost, karena pendingin yang dibutuhkan sangat besar,” pikir sebagian besar arsitek.

Namun satu-satunya desain yang disetujui dan dipertaruhkan keberhasilannya adalah dari sang arsitek naturalis ini. Mengapa arsitektur naturalis?

Ternyata bidang arsitektur naturalis tidak benar-benar ada. Namun, sang arsitek tidak menyangka jika kegemarannya membaca majalah tentang satwa mengantarkannya pada arsitektur jenis ini.

Sang arsitek menemukan bahwa spesies tikus gurun tertentu di kala musim panas yang super-duper terik, membuat gorong-gorong yang mampu mempertahankan udara dingin untuk keberlangsungan hidupnya.

Tikus ini menggali gorong-gorong berbentuk spiral-down hingga kedalaman beberapa meter, dimana pada kedalaman ini suhu tanah sama sejuknya dengan belahan bumi manapun.

Gorong-gorong spiral ini kemudian menangkap angin, membuatnya berputar sepanjang gorong-gorong, mendinginkan suhunya, lalu menyebarkannya pada semua ruangan yang ada.

Teknik inilah yang dipakai sang arsitek untuk merancang sistem pendingin pada mall yang akan dibangun. Teknik ini menampik keyakinan sebagian besar arsitek kompetitornya tentang sistem pendingin gurun yang mahal.

Apa hikmah di balik cerita ini?

Sebagian besar kita sibuk dengan masalah, habis waktu tenaga dan biaya, namun solusi yang dihasilkan ya itu-itu saja. Kita ingin berkembang melalui tantangan-tantangan baru, tapi justru menyelesaikan masalah dengan cara-cara lama.

Sebagian besar kita pandai di bidang masing-masing, namun mandeg soal inovasi. Kita mengaku ahli dan praktisi, tapi tak pernah kreatif dalam bersolusi.

Mencermati apa yang dilakukan sang arsitek, seringkali kita mencibir usaha orang lain yang melakukan dua hal berbeda sekaligus. Kita menganggapnya tidak linier, keluar jalur, buang-buang tenaga.

Namun siapa sangka, kegemaran sang arsitek membaca majalah tentang satwa, malah menuntunnya melahirkan bidang arsitektur yang samasekali baru?

Simak perjalanan hidup Dr. Taufik Pasiak, dr., MPdI, MKes. Beliau sampai sekarang tidak bisa mendapatkan gelar guru besar karena mengambil bidang ilmu yang tidak linier. Mengawali S1 Kedokteran Umum, S2 Magister Pendidikan Islam dan Magister Kesehatan, lalu menempuh program doktoral di UIN Surabaya.

Namun pengetahuannya dalam dua ilmu yang berbeda, kedokteran dan Islam, melahirkan sebuah buku, “Revolusi IQ/EQ/SQ: Antara Neurosains dan Alquran”, 2002. Buku ini termasuk buku best seller hingga dicetak berulang kali. Prof dr JW Siagian, guru besar Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Unsrat menyebut buku ini sebagai kacamata tembus pandang. Sebelah kiri terbuat dari sains kedokteran dan sebelah kanan dari agama. Untuk melihat beberapa buku yang telah dihasilannya, saya mampir di sini.

Membaca buku di luar bidang kita, bertemu dengan orang-orang baru di lain bidang, atau bicara pada anak muda yang pikirannya masih bebas, kadang bisa menuntun kita menemukan cara-cara baru untuk memecahkan masalah. Namun, lagi-lagi kitalah yang membunuh kreativitas kita sendiri.

Padahal, inovasi seringkali dihasilkan melalui pertemuan dua hal yang samasekali berbeda. Syaratnya tentu saja bukan hanya bertemu, juga membuka diri akan ide-ide baru. Bersikap angkuh dan bersikukuh pada kepakaran kita saat diskusi, memang menyelamatkan harga diri kita saat itu, tapi menutup peluang naiknya “bayaran” kita akan inovasi-inovasi baru di kemudian hari.

Jadi, mari bertemu dengan orang-orang baru. Mari bicara dan ngobrol bebas, sebebas dan sejauh apapun ide-ide baru bisa dihasilkan.

Advertisements