“Terutama, rendahkan dirimu di hadapan Yang Maha Memiliki Ilmu.” ~ saya.

Beberapa waktu lalu saya diminta menjadi bagian dari tim penulis sebuah buku tentang Kesehatan Jiwa. InsyAllah, bulan depan terbit. Saya diamanahi satu bab penuh menulis tentang riset saya seputar deteksi dini kekambuhan, juga diminta membuatkan profil penulis yang terlibat dalam conjoint project ini. Total ada sepuluh penulis; dua editor dan delapan kontributor.

Sebagian orang di luar project menilai, profil yang saya buat terlalu berlebihan. Yang lain justru menilai, kadang tak masalah kita sedikit narsis, asalkan bukan “tong kosong nyaring bunyinya.” Saya setuju pendapat kedua.

Saya lalu membuka kembali lembar demi lembar curriculum vitae para penulis yang telah diemail kepada saya, dan membaca lagi apa yang saya tulis, berkali-kali, sudahkah sesuai dengan skill dan kompetensi mereka, atau terlalu berlebihan.

Saya tidak mau suatu saat, karena yang saya tulis tidak sesuai kenyataan, malah merugikan penulis. Karena ‘menunjukkan kompetensi’, jika niatnya tidak benar, malah terjebak dalam sifat narsisistik, seperti tahu pong yang berwarna keemasan di luar, tapi kosong di dalam. Tidak, saya tidak mau itu.

Tidak disangka, ternyata respon para penulis lebih positif. Mereka setuju profilnya ditulis dengan gaya seperti yang saya tulis, asalkan sesuai dengan CV yang mereka kirimkan. Tidak lebih, tidak kurang. Alhamdulillah.

Saya sampaikan permintaan maaf kepada mereka, jika dalam penulisan profil ada kata-kata yang kurang berkenan. Profil tersebut adalah semacam endorse atas skill yang mereka punya.

Semata-mata saya berharap, suatu saat kami bisa menjadikan profil tersebut sebagai titik tolak dari impian-impian kami, sehingga ketika semua impian itu tercapai, kami bisa menoleh lagi ke belakang dan menghitung … Ternyata sudah sedemikan banyak jejak karya yang telah kami tinggalkan.

Ada seorang trainer pernah berkata, bahwa tips menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia sekarang ini, bahwa kita sudah tidak bisa lagi menjadi pemenang di kandang sendiri. Harus mendunia, atau setidaknya, kualitas kita layak disejajarkan dengan para pakar di luaran sana.

Sayangnya, masyarakat Indonesia banyak dihinggapi penyakit inferiority complex, dimana untuk menutupi kelemahannya, justru ia menampilkan sikap dan profil yang arogan. Attitude ini kadang di luar batas kewajaran, berusaha mengemas dengan cantik namun ternyata pepesan kosong. Semacam pembohongan publik.

Sayangnya lagi, orang-orang cerdas-lantip, cerdik-cendekia, bijak-bestari, justru tersimpan di sudut-sudut universitas. Tidak ada yang tahu keberadaannya, seakan mereka bersembunyi di balik tembok kampus yang kokoh. Merasa menang di kandang sendiri, padahal sebenarnya mereka takut keluar. Takut dimintai pertanggungjawaban atas ilmu-ilmu yang mereka punya.

Padahal, ada ancaman yang besar dari Tuhan bagi mereka yang mengetahui sesuatu hal, memiliki ilmu yang benar tentang sesuatu, tapi tak mau menunjukkannya kepada org lain. Ibarat mereka tahu mengapa seseorang tersandung, mempelajari bagaimana bisa dia tersandung, tapi tak pernah berusaha menyingkirkan batu dari tengah jalan.

Ingatlah apa kata Ali bin Abi Thalib, “Kehancuran umat bukan dikarenakan perbuatan orang-orang jahat, melainkan karena diamnya orang-orang baik.”

Para terpelajar itu seperti memenjarakan dirinya sendiri di balik buku-buku dan riset-riset teoritis. Mempelajari fenomena alam dan kehidupan, membuat teori baru, namun tidak pernah melakukan intervensi krisis pada tatanan rusak yang perlu dirombak. Mereka menang dalam literasi, tapi jarang menyatakan aksi. Bukan apa-apa, mereka hanya tidak berani. Mereka hanya terlalu puas dengan teori-teori.

Padahal, di tangan mereka tersimpan solusi, di hati mereka tersimpan keingintahuan untuk berbuat lebih banyak, dan lebih baik. Mengapakah mereka terkunci oleh batasan-batasan mereka sendiri? Padahal sesungguhnya, dalam riset-riset mereka, dalam buku-buku mereka, tersimpan banyak jawaban atas permasalahan umat.

Karenanya, keluarlah! Keluar dari sudut-sudut tembokmu, keluar dari sudut-sudut jeruji yang kau buat sendiri. Kau adalah ilmuwan, penggemar ilmu pengetahuan, dan kami semua menunggu kiprahmu! Gerak-gerikmu dalam ilmu seperti muara air zam-zam yang tak habis diminum siapapun. Kamulah muara ilmu!

Ingatlah bahwa Tuhan menjamin kedudukan yang tinggi bagi mereka yang antusias menyampaikan ilmunya … Tuhan pulalah yang menetapkan, bahwa ilmu yang dibagikan akan bernilai jariyah, pahalanya akan terus mengalir meski usia telah berakhir. Sungguh investasi dunia-akhirat yang sangat menguntungkan.

Yuk, mari melangkah bersama-sama … Selangkah demi selangkah, lambat tak mengapa! Karena kadang ilmu perlu direbus hingga matang agar tak disampaikan dengan sembarang.

Tapi, orang tua juga berpesan, rendahkanlah dirimu dalam menyampaikan ilmu. Karena ilmu yang disampaikan dengan kesombongan sama seperti menyiram minyak bumi ke manuskrip-manuskrip di perpustakaan Andalusia, lalu membakarnya. Lenyap, tak berguna.

Tetaplah ingat untuk selalu bersikap “Low Profile, High Product.

Tunjukkanlah kualitas dirimu dengan produk. Produkmu bisa berupa karya, jasa, bahkan dirimu sendiri–ya, dirimu yang berilmu. Nyatakanlah produkmu dengan ilmu yang kau sampaikan. Dan rendahkanlah dirimu ketika menyampaikan ilmu.

Terutama rendahkan dirimu di hadapan Yang Maha Memiliki Ilmu.

Semoga Allah memberkati usaha-usaha kita dalam menyampaikan ilmu.

Advertisements