Mungkin teman-teman banyak mendapat pesan ini di social media, atau pesan berantai dari whatsapp dan sejenisnya, atau mungkin dari someone special di luar sana. Tapi tak apalah saya posting lagi di sini.

Saya ketika membacanya pun, serasa masih banyaaaak sekali hal-hal yang belum dan ingin saya perbuat untuk orang tua. Semoga, Allah masih berkenan memberikan kesehatan bagi kami agar teruuus berkesempatan berbuat baik untuk orang tua. Amiiin.

Cekidot, gan.
(Sebagian saya edit agar enak dibaca)

Copas dari ustadz Mawardi Abu Thoriq:

Banyak ilmu yang bisa dipelajari dari saudara-saudara kita. Salah satunya dari Budi Harta Winata, seorang pengusaha baja. Ketika saya tanya rahasia suksesnya menjadi pengusaha, jawabnya singkat, “Jadikan orang tuamu raja, maka rezekimu seperti raja.”

Pengusaha yang kini tinggal di Cikarang ini pun bercerita bahwa orang-orang hebat dan sukses yang ia kenal semuanya memperlakukan orang tuanya seperti raja. Mereka menghormati, memuliakan, melayani dan memprioritaskan orang tuanya.

Lelaki asal Banyuwangi ini bertutur, “Jangan perlakukan orang tua seperti pembantu. Sudah tahu orang tua sudah melahirkan dan membesarkan kita, lha kok masih tega-teganya kita minta uang ke mereka padahal kita sudah dewasa. Atau, orang tua diminta merawat anak kita sementara kita sibuk bekerja. Bila ini yang terjadi maka rezeki orang itu, rezeki pembantu karena ia memperlakukan orang tuanya seperti pembantu. Walau suami-istri bekerja, rezekinya tetap kurang bahkan nombok setiap bulannya.”

Dari diskusi itu, kami pun melakukan survey kecil-kecilan kepada jamaah umroh. Kami bertanya anaknya berapa? Siapa yang paling sukses? Siapa yang paling susah? Ternyata jawabnya semua sama.

Anak-anak yang sukses adalah yang memperlakukan orang tuanya seperti raja. Dan anak-anak yang sengsara hidupnya adalah mereka yang sibuk dengan urusan dirinya sendiri dan sedikit mengabaikan orang tuanya.

Mari terus berusaha keras agar kita bisa memperlakukan orang tua seperti raja. Buktikan dan jangan hanya ada di angan-angan. Mulailah dari sekarang …

————
Sangat sangat sangat tertohok ketika membaca ini. Potret yang sering saya lihat di tetangga dan orang-orang di sekitar saya adalah menitipkan anaknya kepada orang tua. Alias orang tua ngeramut cucu. Dalam teori psikiatri, merawatkan anak kepada orang tua adalah salah satu terapi yang bisa mengembalikan “perasaan berdaya” orang tua yang mulai menginjak usia tua. Salah satu cara menumbuhkan kepercayaan diri orang tua bahwa beliau masih mampu di usianya yang semakin renta.

Di satu sisi, kalau mencermati nasehat dari Pak Budi ini, hendaknya kita menjadi mawas diri. Bagaimanapun, anak adalah tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab orang tua. Orang tua sifatnya supportive saja, bukan mengambil alih sepenuhnya untuk pengasuhan anak.

Lain lagi cerita yang saya alami. Suatu ketika, istri saya mengingatkan, “Mas, kita nggak punya tukang cuci piring. Jadi kita biasakan cuci piring sendiri setelah dipake, ya.”

Saya memang tidak memberikan pembatasan apa tugas suami dan apa tugas istri di rumah. Selama saya mampu, saya kerjakan. Selama istri mampu, istri yang kerjakan. Tidak saling menunggu untuk membereskan sesuatu.

Yang membuat saya tertohok, bukan semata dari apa yang istri saya ingatkan. Tapi perilaku saya di rumah, ketika pulang kampung.

Selesai makan, yang saya lakukan adalah meletakkan piring dan gelas kotor di bak cucian. Sementara istri saya, langsung mengambil semuanya dan mencuci semuanya. Lalu istri saya bertanya, “Mas, kok nggak dicuci piringnya?” Saya jawab, “Biasanya dicuciin bunda,” maksudnya ibu saya.

Lalu istri saya berkata seperti tadi, “Mas, kita nggak punya tukang cuci piring. Jadi kita biasakan cuci piring sendiri setelah dipake, ya.”

Deg! Selama ini saya memperlakukan orang tua saya sebagai pembantu, ya Allah … Astagfirullahaladziim …

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kedua orang tua kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami sejak kecil …

Selamat membahagiakan orang tua …

Advertisements