IMG_4264

Saya agak kurang paham, apakah posting dengan judul di atas sesuai dengan isu remaja masa kini atau tidak. Karena saya sendiri sudah dewasa (eciee), dan judul di atas adalah lumrah jika dilakukan oleh suami istri. Tapi jika dilakukan oleh bukan pasangan sah, hemm, runyam akibatnya.

Saya tergerak untuk menulis artikel ini, ketika membuat script untuk Bincang Sehat JTV sore tadi, tentang Penyakit Menular Seksual. Banyak fakta wow yang membuat saya tercengang. Pun ketika saya sedang menulis ini, di Pojok Kampung JTV sedang disiarkan ada dua puluh pasang remaja mesum yang terjaring razia polisi di Pacet.

Masya Allah. Miris.

Saya nggak mau macak sok alim, apalagi sok ganteng. Karena pada dasarnya saya ganteng. Wkwk.. Saya dulu nggak gitu-gitu amat, lho. Ngga pake ke Pacet. Cukup di kamar aja. Sibuk sama diri sendiri, emm, anu, karena pake versi hemat (alias bokek). Hehe, guyon, Gaes.

Lagipula, saya cukup memandangi langit-langit kamar kos, karena si dia sudah dinikahi orang lain. Wkwk, malah curhat…

Saya repost sebagian dari script Bincang Sehat JTV, yang saya kumpulkan dari beberapa media online.

Mungkin ini yang menjadi alasan sebagian orang untuk tidak menganjurkan merayakan Hari Kasih Sayang. Karena asal usul ritualnya pun diwarnai “kegilaan seks”, dan mungkin tidak ada cinta-cintanya sama sekali. Simak paragraf berikut yang saya edit dari AkhirZaman.org:

Warna “merah” dan “bentuk hati” yang melambangkan Hari Kasih Sayang sebenarnya bukan menunjukkan cinta. “Merah” melambangkan darah yang digunakan dalam ritual ini, dan “bentuk hati” sebenarnya adalah simbol rahim wanita yang terbuka. Awal mulanya hari tersebut diyakini sebagai hari kesuburan wanita dengan memuja Dewi Juno—namun perayaannya lebih mirip “hari kegilaan seksual”.

Asal-usul Hari Kasih Sayang, atau Valentine, adalah pada masa kekaisaran Romawi Kuno. Peringatan setiap tanggal 14 Februari ini dikenal sebagai “Lupercalia”, atau “Hari Serigala”. Hari itu juga untuk menghormati dewa Romawi, Lupercus dan Faunus, serta saudara kembar yang mendirikan Roma, Remus dan Romulus, yang konon pernah disusui oleh serigala di sebuah gua di Bukit Palatine Roma. Penamaan bulan Februari pun diambil dari tali yang dipegang pendeta Lupercus yang terbuat dari kulit kambing, disebut “februa”.

Di sebuah gua yang disebut Lupercal, seorang pendeta Lupercus mengorbankan kambing dan seekor anjing, kemudian melumuri dirinya dengan darah hewan tersebut, dan berjalan di sekitar bukit Palatine. Wanita-wanita akan duduk di sekitar bukit, lalu mereka akan dicambuki dengan februa supaya menjadi subur. Para wanita muda lalu berkumpul di kota dan nama mereka dimasukkan ke dalam kotak. Inilah “surat cinta” yang disebut “billet”. Pria-pria Roma akan mengambil billet, dan wanita yang membuat billet tersebut akan menjadi pasangan seks liarnya, dan ia akan berzina sampai Hari Lupercalia berikutnya.

Wow.. Sungguh Amazing, bukan?

Lalu, bagaimanakah sikap negara-negara tetangga Indonesia? Simak saduran berita di bawah ini, yang saya copas dari beberapa media online:

Filipina, sejak tenarnya Valentine di negara itu, setiap dua hari sekali terdapat dua kasus penularan penyakit reproduksi. Walaupun pemerintahnya sudah aktif membagikan kondom kepada penduduknya, tetapi data dari Departemen of Healty (DOH) Filipina, angka ini semakin meningkat selama masa Valentine. Sejak tahun 2000 kasus penularan penyakit ini 10 kasus per bulan dan pada tahun 2009 meningkat hingga 65 kasus per bulan.

Contoh negara tetangga yang lain, yakni Thailand. Thailand memiliki angka kehamilan di kalangan remaja tertinggi di dunia, yakni 54 dari 1.000 remaja wanita hamil, berusia 15 hingga 19 tahun. Pemerintah Thailand berupaya menekan angka kejadian penyakit menular seksual (PMS) dan kehamilan tak diinginkan di kalangan remaja menjelang (Hari Kasih Sayang pada 14 Februari. Juru bicara MPC (Moral Promotion Center) mengatakan ingin menekan angka kejadian seks bebas yang dapat menimbulkan komplikasi, baik aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan, atau penyakit menular seksual (PMS). MPC untuk tahun ini, menyarankan kaum remaja dalam memperingati Hari Kasih Sayang cukup melakukan makan malam spesial, selanjutnya ke rumah. “Disarankan makan spesial bukan seks,” demikian slogan yang dikampanyekan MPC.

Bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Cekidot..

Hasil survei yang dilansir DKT Indonesia yang dilakukan pada Mei 2011 dengan cara wawancara langsung terhadap 663 responden di 5 kota besar di Indonesia, yaitu Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali menyatakan, 39 persen anak baru gede (ABG) kota besar pernah melakukan seks bebas. Responden ABG usia antara 15-19 tahun pernah berhubungan seksual, dan 61 persen sisanya berusia antara 20-25 tahun.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr Sugiri Syarief dalam acara “Workshop Generasi Berencana dan Berkarakter”, ada sekitar 50% dari total remaja berusia 15-17 tahun saat ini telah melakukan seks bebas. Kondisi ini memicu risiko tingginya kehamilan diluar nikah, aborsi dan penyebaran penyakit menular seksual. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tentunya karena minim informasi seksual yang sering dianggap tabu, memicu rasa ingin tahu dan coba-coba di kalangan remaja.

Beberapa daerah di Indonesia sudah membuat himbauan untuk tidak melakukan perayaan Hari Kasih Sayang, dan himbauan ini bersifat resmi. Ini beberapa di antaranya:

IMG_4253

IMG_4249

IMG_4252

IMG_4250

IMG_4248

Bagaimana menurutmu, Gaes?
Setelah saya posting gambar-gambar tersebut di atas, rupa-rupanya banyak komen kritis dari teman-teman. Ini beberapa di antaranya:

Dari akun Febri Asmara:

Kalo dilogika sebenere gak ada hubungan lngsung valDay sama Seks bebas..
Tidak “memerahkan” tanggal ini bentuk dukungan pemerintah bahwa “ValDay memang gak penting”.. 😉

Tapi sayang dukungan tersebut kurang penuh..
Test keperawanan oleh pihak medis sebagai faktor kelulusan yg mnurut saya lebih bnyak positifnya.. Malah direject mentah2 sama pemkot kota ini..dengan dalil HAM.. (Lagi dan lagi HAM mengaburkan sebuah syariat/hukum;bnyak bukti lain)

Padahal jika digunakan sebagai UU.. Efeknya jelas signifikan dlm menekan angka seks bebas.. Terutama dlm konteks syariat agama, moral masyarakat, kehamilan pranikah, nikah dini, penekanan populasi jmlah penduduk (semua itu faktor primer yg merembet ke faktor lain sperti pningkatan perceraian karena masih labil, menambah jmlah pengangguran dsb)
#malahBahasLiyane
#intineValdayGakPenting

Respon dari akun Agung Azizi:

untuk uu tes iku bri, terlalu over reaktif, karena faktornya banyak, dan pencegahan, pengayoman, pengamanan belum dilaksanakan kok minta aman.

penutupan lokalisasi legal dan ilegal “tapi rahasia umum” , pembelian produk dewasa harus benar-benar menggunakan ktp dan perlu ada sidak pelaksanaannya, itu yg menurutku didahulukan dan lebih real.

Komen agak dalem dari dokter Tiara Kirana:
Prinsip dari hulu ke hilir. Instead of menghukum, melarang, menindak, menghakimi para remaja seperti yang saat ini dilakukan, mungkin coba kita buat para “hulu” alias para orangtua dan para pendidik menjadi lebih mengerti tentang pentingnya pendidikan seksual. Pendidikan yang seperti apa? Pendidikan yang sesuai dengan umur anak tentunya. Parenting class dengan kurikulum pendidikan seksual would be great. Untuk dunia pendidikan adanya pendidikan atau pelatihan bagi para guru untuk mengenalkan tentang seksualitas juga akan sangat berguna.
Prinsipnya adalah mengajarkan segala aspek seksualitas baik dari jenis kelamin hingga memberikann pengertian hub seks yang bertanggung jawab.

Ketidaktahuan hingga menjadi kesalahan adalah tanggung jawab para pendidik baik di rumah maupun di sekolah. Pengetahuan hingga menjadi kesalahan adalah pilihan individu.

Jadi pertanyaannya selain mengeluarkan pelarangan2 dan pemeriksaan keperawanan yang bersifat kuratif apakah preventif dgn pendidikan sudah cukup dilakukan dgn baik, benar dan efektif?

Saya setuju bahwa Hari Kasih Sayang tidak semestinya ditangani dari satu sisi saja. Penatalaksanaannya harus menyeluruh, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat, bahkan tataran bangsa dan negara. Karena ini bukan soal agama, yang mana banyak mengkritik slogan “I am Muslim and I dont celebrate ValDay”, tapi kalendernya masih Masehi.

Saya sendiri seorang Muslim, dan agama saya mengajari untuk menjauhi zina, menghormati wanita, bangga pada identitas diri sehingga tidak perlu menyerupai kaum tertentu. Bukan, bukan soal agama. Juga bukan soal aliran tertentu, kelompok tertentu, suku atau golongan tertentu. Tapi ini soal moral anak bangsa.

Saya sepakat, untuk mengatasi masalah sebaiknya tidak sepotong-sepotong. Saya juga sepakat, bahwa penyelesaian masalah kadang perlu proses, tidak bisa instan karena yang dihadapi cukup kompleks. Dan saya lebih menghargai proses yang menuju kondisi lebih baik, daripada meninggalkannya samasekali karena melihat hasilnya masih setengah-setengah. Yakinlah, kita sedang berproses.

Lalu, mengapa prosesnya terkesan lambat? Salah satu faktornya adalah kita sendiri. Kita bisa menentukan sikap untuk diri sendiri, namun seakan bingung jika diminta menentukan sikap bersama-sama. Kita mampu menyelesaikan masalah sebagai seorang individu, tapi tidak kunjung selesai jika masalah itu menyangkut ranah sosial. Sudahlah, ambil titik temunya, dan itu semua demi kebaikan bersama.

Seakan-akan kita menggunakan logika pribadi yang dipaksakan sebagai nilai-nilai sosial. Seakan kita menganggap sikap orang lain yang tak sesuai dengan logika kita, dianggap “alogia”. Seakan, kita menuhankan logika, dan lupa pada Dia Yang Maha Berlogika. Jadi, mau pakai logika manusia atau logika Tuhan?

Menutup artikel ini, ada komen menarik soal logika:

Dari akun dokter Antina Nevi:

🙂 logika boleh saja dipakai, tapi biarlah statistik yg bicara.

Lalu akun tersebut memposting laman dari businessinsider.com, yang isinya ternyata perayaan Hari Kasih Sayang di jaman modern ini sebenarnya tak lebih dari akal-akalan perusahaan raksasa untuk memuluskan penjualan produk mereka. Dan benarlah, sejak 1868, Richard Cadburry mengusulkan bahwa coklat adalah hadiah terbaik dalam perayaan Hari Kasih Sayang.

Bagaimana menurut Njenengan?

Advertisements