“Allahurabbi, kupercayakan segalanya hanya pada-Mu. Mudahkanlah bagiku membaca petunjukMu. Tenangkanlah hatiku.”, lanjutnya meminta, dalam batinnya.

Nindya et Memoria

“Apa lagi, Syifa? Bukankah punya pasangan sudah lebih dari cukup? Bukankah yang terpenting adalah kau tak sendiri lagi dan ada yang bersedia mendampingi? Itu kan alasan mengapa kita perlu seorang suami?”

“Ya Zahida. Memang benar. Suami memang untuk mendampingi. Tapi aku tak mau bila sekedar demikian.”

“Lalu apa lagi, Syifa? Kau ini rumit sekali.”

“…..
Zahida, yang aku inginkan, kelak, suami akan menjadi rumah tempatku pulang, meski entah ke manapun mungkin aku telah melangkah. Suami adalah tempatku pulang, saat segala peluh di luaran telah tercurah. Aku mau, suami adalah tempatku pulang dan bersandar. Yang aku mau, suami adalah imam bagiku, di mana aku bisa mencium tangannya dengan takzim dan penuh hormat. Bahwa betapapun kerasnya aku, aku akan kembali kepada fitrahku sebagai perempuan kala menjadi makmumnya. Mentaati segala bimbingannya.

Ah, Zahida. Mungkin memang benar aku ini terlalu rumit. Aku tau manusia tak ada yang sempurna. Oleh karenanya tak pernah kunanti yang…

View original post 230 more words

Advertisements