courtesy of yusufzed.wordpress.com

Kalau tidak dimakan pemangsa, laron yang kehilangan sayapnya akan kelaparan, lalu mati. Ia tak lagi bisa terbang, hampir putus asa menyeret lambungnya di atas tanah. Sayap-sayap itu patah karena rapuh, atau memang takdir yang mengharuskannya luruh.

Namun Ian tidak putus asa. Ian ingin menumbuhkan sayap-sayapnya lagi, meski tampaknya tidak mungkin. “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Fid,” ujarnya mantap.

Termasuk soal cinta.

Meskipun cinta itu pernah menerbangkannya tinggi ke awan, lalu menghempasnya keras ke atas tanah.

Udara sudah semakin dingin, dengan pias-pias mendung di langit senja yang meradang merah. Kami berhenti sejenak untuk salat isya, dan lantai masjid ini entah mengapa dinginnya luar biasa. Sedingin kenangan Ian akan istrinya, bertumpuk-tumpuk dalam air matanya yang telah kering.

Selepas salat safar, saya menghampiri Ian yang duduk di tepi tangga, menerawang. “Apa yang membuatmu begitu mencintainya, Bro?,” tanyaku.

Lama Ian tak menjawab. Saya kira ia melamun, lalu tersenyum gundah ke arah saya. “Nggak tau, Bro.” Ian menerawang lagi ke arah awan. “Kadang ada hal-hal yang kau suka, tapi kau tak pernah tahu mengapa begitu menyukainya.”

Awan-awan itu berlomba-lomba menuju matahari yang sedang surup di ufuk barat, menyisakan jejak-jejak kelabu di hamparan langit. Tidak ada yang tahu mengapa awan-awan itu tampak riang mengejar matahari. Padahal mereka tidak akan pernah sampai ke sana, ke peraduannya.

“Aku mulai menyadari kalau aku sungguh mencintainya setelah kami berpisah. Banyak hal-hal yang mudah membangkitkan kenangan, hal-hal sepele yang luput saat kami masih bersama. Hal-hal remeh ternyata membangun cinta kami, meski cinta itu kami rasakan di detik-detik akhir sebelum berpisah.”

Ian menghela napas panjang. “Suatu ketika ia menanam bawang di pot taman belakang kami,” Ian bercerita, ” pot itu sebenarnya tempat tanaman pucuk merah yang sudah kering. Aku tanya padanya, ‘Tumben nanem bawang, dalam rangka apa?,’ lalu dia tersenyum.”

“Dan kau tahu apa jawab istriku, Bro? ‘Ini buat Mas,’ katanya. ‘Buatku?,’ ‘Iya, kalau suatu ketika Mas perlu masak dan ngga ada bawang di kulkas, Mas bisa ambil dari sini. Meski kita sudah berpisah nanti, Mas rawat bawang ini baik-baik, ya.’ …,” suara Ian tercekat di tenggorokan.

Ian tersenyum pahit, lalu memaksakan suaranya yang semakin penuh penyesalan, “Selama pernikahan baru kali ini istriku bertanam sesuatu untukku. Mengapa tidak sedari dulu dia lakukan? Sampai sekarang aku ngga sanggup merawat bawang itu, Bro.”

Ian tertunduk lesu, terduduk dengan perut terlipat ke dalam. Dia tekan kedua lututnya kuat-kuat, mendesak seluruh dada dan perutnya. Dia tekan habis agar kesedihan keluar habis dari tubuhnya. Jantungnya sakit, hatinya terlalu sakit.

“Aku ngga sanggup lihat bawang itu tumbuh, Bro. Apalagi di musim hujan ini bawang itu ngga bergantung aku lupa nyiramin apa engga,” Ian memandang saya dengan mata berkaca-kaca, “sepele kan, Bro? Kalau kamu melihatku sekarang, mungkin kamu bakal komentar, ‘Ngapain ngeributin bawang,’ ya, kan?”

“Ah, tidak. Aku justru berpikir, bahwa kita tidak bisa mengukur perasaan dengan logika, Bro …,” saya memaksakan senyum kepadanya, “kamu memandang bawangnya sepele, padahal bawang itu menyimpan makna tersendiri bagimu. Bukan bawangnya yang kamu lihat, tapi kenangannya.”

Ian acuh. Kata-kata saya berlalu begitu saja. Awan di atas sana pun tak lagi menarik perhatiannya. Mungkin ia terlalu sibuk dengan rasa sakitnya.

“Seakan-akan sekarang ini, kalau aku menyiapkan sarapanku sendiri, terbayang-bayang dia yang sedang masak di dapur. Masih tercium aroma keringatnya yang bercampur dengan tumis kubis yang sering dia masak buatku. Masam-masam gimana, tapi aku memilih menciumi dia dulu sebelum memakan masakannya. Duh, konyol, ya…”

“Huss, gitu kok diceritain …,” saya merasa Ian tak perlu menceritakan sejauh itu. Terlalu privasi, bahkan tidak baik untuk dirinya sendiri. Di lain pihak, Ian sukses membikin saya kangen sama istri.

“Bukan gitu, Bro. Aku teringat ceramah seorang ulama’, bahwa seorang istri yang menyiapkan air putih untuk minum suaminya di pagi hari, nilainya sama dengan melakukan umroh ke tanah suci. Itu baru air putih lho, Bro. Kalau masak, kualitas pahalanya kan lebih baik. Ya, kan?,”

“Betul,” jawabku singkat.

“Sekarang ini kesannya, kubis pun jadi penuh kenangan. Belum lagi kalau dia menyiapkan teh di sore hari, sepulang aku dari kesibukan. Atau wangi parfumnya yang menjadi manis karena bercampur keringatnya. Kalau semisal aku sedang pelatihan di luar kota, sering berandai-andai dia bisa ikut bersamaku. Menemani perjalananku. Tapi tak pernah terjadi.”

“Atau kau mungkin terlalu berharap kepadanya, sehingga banyak penyesalan yang kau rasakan sekarang?”

“Mungkin juga. Tapi, kepada siapa lagi aku harus berharap, kalau bukan kepada istriku?”

Berharaplah kepada Tuhan, Ian. Jawab saya dalam hati.

Langit semestinya semakin gelap, namun malam ini menjadi terang karena mendung. Rupanya awan-awan itu berhasil mencapai peraduan matahari, lalu memantulkan cahaya kemerahan darinya. Di musim hujan kadang mendung bisa membuat cuaca terbalik-balik; siang menjadi gelap dan malam menjadi terang.

Sebagaimana kesedihan yang membuat hidup seseorang seakan terbalik-balik; merasa terpuruk ketika menjalaninya, namun menyesal ketika dia tak mampu berbuat terbaik di masa-masa itu. Ya, betapa mudah seseorang menyesal ketika mengenang masa lalu.

“Aku sudah menjalani sidang pertama, Bro,” suara Ian memecah hening, “sidang lanjutan akan dimulai pekan depan.”

Ian menerawang, terbang dengan lamunannya. “Istriku tidak hadir waktu sidang pertama, dan dia tidak berniat hadir di semua rangkaian sidang. Dia memilih menenggelamkan diri dalam aktivitasnya.”

“Mungkin proses pisah ini terlalu sakit bagi dia?”

“Iya, mungkin. Aku berharap dia merasakan sakit yang sama denganku. Aku berharap rasa sakit itu memang karena cinta. Karena, kau tahu Kawan, mengetahui hanya kau yang berharap sementara dia tidak, sakitnya itu dua kali, tiga kali lipat.”

Ian menghela napas panjang, “Aku berharap dia masih mencintaiku, dan berharap suatu saat mungkin kita bisa kembali bersama lagi.”

“Iya, setelah talak satu, masih ada kesempatan untuk rujuk, ya …”

“Iya. Tapi aku melihat, proses rujuknya bakal sulit. Bukan hanya aku yang terlukai, tapi juga keluargaku. Majelis hakim memintaku menghadirkan dua saksi, sehingga aku mengundang ayahandaku untuk datang. Beliau sangat kaget dan marah, alasan-alasan kami pisah sungguh di luar dugaan.”

“Apa alasannya?”

“Terlalu berat untukku menceritakannya, Kawan. Yang perlu kau tahu, pernikahan mestinya menjadi sebab tumbuhnya rasa nyaman dan damai bagi dua keluarga. Tapi, keluarga kami tidak merasakannya. Malah sebaliknya, setelah hari itu, mereka memintaku untuk tidak lagi bersama dia yang telah menyakitiku.”

“Tapi kau mencintainya.”

“Ya. Aku masih mencintainya. I love her for better and worse. Bagaimanapun dia adalah istriku, seseorang yang telah kupilih untuk mendampingi hidupku. Mungkin aku teramat keras kepala soal cinta.”

Hujan kembali turun. Kali ini lebih deras. Kami memutuskan kembali ke mobil, dan melanjutkan perjalanan. Kami berharap bisa menemui batas hujan di kota sebelah, sehingga terbebas dari air yang menggenang di jalan-jalan. “Kamu berharap keadaan akan semakin baik setelah ini?,” tanyaku.

“Entahlah. Aku tidak tahu. Yang aku tahu, kenangan-kenangan itu begitu kuat untuk dilupakan begitu saja.”

Ian menoleh ke arahku, “Fid, kamu ‘kan jago hipnosis. Bisa membuatku lupa sama istriku?”

“Membuatmu lupa bahwa kau pernah punya istri?”

“Ah, bukan, aku masih ingin mengingatnya. Aku hanya ingin lupa sama kenangan-kenangan itu. Aku ingin engkau menghapus memori-memori itu, dan mempertahankan memori-memori yang lain.”

“Bagaimana caraku untuk memilih menghapus memori yang satu, dan mempertahankan memori yang lain?”

“Kamu ahlinya, Fid.”

“Ian, Kawanku, perlu kau tahu. Dalam sesi terapi, dikenal rebound phenomenon. Alias fenomena pantul. Kau tahu bola basket yang dihempas kuat-kuat, justru ia melenting ke atas lebih kuat dan lebih tinggi?”

“Ya. Lalu?”

“Mungkin kau lupa terhadap kenangan-kenangan itu, tapi suatu ketika kau akan mudah menangis, tanpa tahu apa yang menyebabkanmu menangis. Kau masih merasakan kenangannya, tapi lupa kenangan seperti apa di masa lalu. Kau akan mudah bereaksi pada peristiwa-peristiwa yang mirip dengan masa lalumu, tanpa menyadari bahwa kau pernah mengalami hal yang sama di masa lalu.”

“Begitu, ya.”

“Iya. Dengan kata lain, dengan menghapus kenanganmu, kau tidak akan belajar dari rasa sakitmu di masa lalu. Dan akan mengulang kesalahan yang sama di masa depan.”

“Aku harus bagaimana?”

“Mungkin, kamu harus tetap berjalan ke depan. Buatlah jejak-jejak kebahagiaan untuk hidupmu sendiri. Menengoklah ke belakang sesekali, dan lihat seberapa banyak jejak yang kau toreh. Jejak kebahagiaan perlahan akan menutupi jejak kesedihanmu. …”

“Maksudmu, aku harus menerima kenangan-kenangan pahit itu?,” Ian memotong.

Saya mengangkat bahu. “Sepertinya, Kawan. Bagaimanapun, kenangan itu telah menjadi bagian dari dirimu.”

Ian diam sejenak. Memalingkan wajahnya keluar jendela, berhitung dengan dirinya sendiri. “Seandainya takdir berkata lain, Bro …”

“Berkata seperti apa?”

“Seandainya dia meninggalkan hal-hal yang semestinya dia tinggalkan, dan dia melakukan hal-hal yang semestinya dia lakukan. Pasti kami masih …”

“Semua sudah terjadi, Kawan,” Ian pernah memberitahu saya, bahwa agamanya tidak mengajarkan seseorang untuk berandai-andai. Saya merasa punya alasan untuk memotong pembicaraannya.

“Iya, semua sudah terjadi. Mestinya aku menyadari, bahwa semua itu milik Allah. Meski aku punya kebebasan untuk memilih siapa istriku, tapi Allah punya kuasa menentukan siapa jodohku.”

“Betul, Kawan. Takdir adalah hak prerogatif Allah, dan nasib adalah hak prerogatifmu. Kalau Allah menghendaki kalian bersama, maka kalian akan bertemu lagi suatu saat, dengan cara apapun yang tak kau duga-duga.”

“Iya, amiin. Dan aku masih berharap bisa bersamanya. Ah, tidak. Aku tidak ingin mendikte Allah dengan perasaanku. Aku berharap Allah menuntaskan urusan ini dengan cepat, agar tidak berlarut-larut. Aku, kami, sudah mengambil keputusan, dan semoga Allah tidak murka kepada kami. Semoga Allah merahmati perjalanan hidup kami.”

“Mungkin memang perjalanan hidupmu harus seperti ini, Kawan. Berusahalah menjalani dengan sebaik-baiknya, dan biarlah Allah yang menyelesaikannya untukmu.”

Hujan sudah berhenti, awan telah membuka selaput yang menutupi langit. Kini rembulan bersinar hangat, meski tidak cukup hangat untuk mencairkan hati Ian yang beku. Suasana seperti ini, biasanya sepasukan laron terbang meninggalkan sarangnya yang basah, menuju sinar hangat lain yang serupa rembulan.

Mereka ingin menghangatkan diri, setelah berjibaku dengan dinginnya hujan. Mereka mencintai sumber cahaya, dan berharap benda itu balik mencintainya. Balik mencintainya? Harapan semu, namun laron yang keras kepala justru menari-nari bersamanya.

Sebagian laron memilih cahaya yang cukup hangat dalam jangkauannya, namun sebagian yang lain tidak waspada.

Karena setelah terbang menuju cahaya, ia seperti Ikarus yang menerjang matahari, mencintainya namun terbakar karenanya. Namun ia tak berhenti berharap.

Dan Ian hanya berharap kepada Allah, Tuhannya Yang Maha Mencintai.

Advertisements