courtesy bloggembel.com

Siapa sih yang mau dijadikan pilihan? Bahkan pernah ada ungkapan terkenal di sosial media tentang hal ini, “Jika engkau sedang memilih antara aku dan dia, biarkan aku membantumu dengan mengundurkan diriku.”

Pada saat mencapai masa kadaluwarsa, adakalanya kita berhadapan pada kondisi yang mengharuskan untuk memilih antara dia dan dia. Anda pernah berada di kondisi ini? Bersyukurlah, karena ada orang-orang di luar sana yang tidak pernah punya pilihan; mereka dipertemukan atas nama takdir, mereka dijodohkan atas dasar hubungan kekerabatan.

Sekalipun Anda termasuk orang yang selalu punya pilihan dalam hal ini, bagaimanakah perasaan Anda jika si dia punya kuasa untuk memilih atau menyingkirkan Anda?

Ada sebuah tulisan menarik dari teman saya, Kurniawan Gunadi, tentang pilih-memilih ini. Betapa seseorang tidak layak dijadikan pilihan; hadirnya cinta adalah untuk mengantarkan seseorang menemui pasangannya, tujuan hidupnya. Bukan menjadikannya pilihan.

Berikut yang saya capture dari tumblr nya:

 

Salah satu bentuk penghargaan tertinggi untuk calon pasangan adalah dengan menjadikannya tujuan, bukan pilihan. Lalu, bagaimana mungkin kita tahu kepada siapa cinta kita tertuju, kalau tidak dimulai menjajaki dari sekarang?

Ingatlah Kawan, bahwa jodoh adalah rahasia Tuhan, hak prerogatifNya, sebagaimana rejeki dan mati. Menghadirkan rejeki adalah dengan menjemputnya, menghadirkan jodoh adalah dengan memantaskan diri, dan menghadirkan mati (baca: mempersiapkan diri) adalah akumulasi dari keduanya.

Cukup tetapkan dimana masa kadaluwarsamu, lalu tunggulah sambil memantaskan diri. Pada detik Tuhan ridha dengan usahamu, saat itulah Ia mempersiapkan jodohmu untukmu. Pada detik itu, kau akan lebih mudah memahami tanda-tanda dari Tuhan, bahwa dia memang hadir untuk melengkapi hidupmu.

Lalu, jika cinta hadir kepada dia yang ternyata kita sendiri ragu tentangnya, apa yang harus kita lakukan? Capture berikut mungkin bisa menjadi jawaban:

Aku bukanlah pilihan, karena aku adalah tujuan hidupmu, untuk membantumu meraih tujuan-tujuan hidup yang lebih besar. Karena aku telah memantaskan diri, dan aku layak berada di sisimu, menemani perjalananku.

Jika kau ragu tentangku tidak mengapa, tapi ragulah kepada dirimu sendiri yang menjadikan aku sebagai obyek cintamu.

Bukan, aku bukanlah pilihan. Akulah tujuan hidupmu, yang menemanimu mencapai tujuan-tujuan hidup yang lebih besar.

Yang dengan itu kita membingkai bahagia.

Advertisements