Beberapa waktu lalu saya ngobrol sama Gede Giri, seorang dokter muda yang akan melakukan penelitian bersama saya tentang anak-anak nakal. Anak-anak ini mendapat label “nakal” karena orang tua atau figur superior lain tidak mampu mengendalikan tingkah lakunya.

Diskusi kami melebar, mempertanyakan mengapa seseorang–seperti anak dan remaja “nakal” ini–bisa punya pilihan hidup yang membahayakan dirinya, sementara dia sendiri tak menyadari pilihan tersebut bisa membawa dirinya ke ambang kehancuran.

Giri, begitu saya memanggilnya, adalah seorang klien–pada awalnya–yang saya kenal dari media sosial. Akhirnya dia memutuskan datang ke tempat praktek saya untuk bicara tentang hipnoterapi. Mengapa dia sulit sekali dihipnosis, padahal banyak bukti dari teman-temannya bahwa hipnosis memberi perubahan besar dalam hidup mereka.

“Hipnosis itu seperti meditasi,” ujar saya suatu ketika, “seseorang bisa masuk ke alam bawah sadarnya sendiri melalui meditasi. Ada juga yang membutuhkan orang lain, semacam terapis, untuk membuka hambatan-hambatan di alam sadarnya dan masuk ke sub consciouss nya. Itulah terapi hipnosis, dan terapis hanyalah fasilitator untuk mengantar kliennya mengenali alam bawah sadarnya.”

“Kalau meditasi saya paham, Dok,” katanya. Saya lalu memutuskan tidak melakukan hipnosis kepadanya. Karena saya yakin Giri bisa melakukannya sendiri; dia paham soal meditasi transenden, dan ia biasa melakukannya. Saya merasa dia lebih ahli soal “merasakan berada di alam bawah sadar” ketimbang apa yang pernah saya alami secara pribadi. 

Saya pernah punya pengalaman dengan klien seorang Hindu, dimana hanya dengan tahap relaksasi yang paling ringan, ia mampu masuk ke alam bawah sadarnya, sangat dalam. Teramat dalam. Ia tak lagi merasakan nyeri ketika lengannya dicubit, bahkan dibakar dengan korek api sekalipun. 

Ternyata klien saya ini terbiasa melakukan meditasi, sehingga dengan induksi sederhana, ia mampu melakukan self-hypnosis untuk mencapai alam bawah sadarnya. Saya ceritakan pengalaman ini kepada Giri, dan kami sepakat untuk bicara satu sama lain tentang pengalaman menyelami alam bawah sadar, demi menghabiskan waktu dengan sesuatu yang kami sama-sama sudah pernah tahu.

“Orang yang berusaha mempertimbangkan opsi-opsi sebelum memilih, sedang bergumul dengan pikirannya, mencari fakta-fakta dan opini dalam dirinya, ibarat ombak yang bergelung-gelung tanpa henti di lautan,” saya memulai pembicaraan.

“Dia akan terombang-ambing ke sana kemari tanpa henti, dan selamanya tak akan puas dengan pilihan-pilihan hidupnya. Dia dihantui penyesalan-penyesalan, dan baginya, sampai kapanpun hidup tak pernah berpihak pada dirinya. Karena ia berusaha melihat secara harfiah, bukan melihat secara mata batin.”

“Melihat dengan mata batin itu membutuhkan kekhusyu’an. Dia tak akan pernah khusyu’ kalau dia masih dibayangi masa lalu dan dicemaskan masa depan. Untuk menjadi khusyu’, kadang seseorang perlu berhenti, membebaskan dirinya dari hingar-bingar dunia, untuk bisa mendengarkan dirinya sendiri.”

“Lalu, bagaimana caranya membebaskan diri dari hingar bingar dunia, Dok?,” tanyanya.

“Meditasi, seperti yang kamu sendiri praktekkan.”

“Tapi meditasi tidak harus di tempat sunyi, Dok,” ujarnya, “orang yang ahli meditasi, kadang tidak perlu ritual meditasi untuk mencapai spiritualitas dalam meditasi. Bahkan dengan mata terbuka, ia bisa bermeditasi. Mata harfiahnya terbuka, tapi melihat dengan mata batin, seperti yang Dokter bilang.”

“Ya, itulah orang-orang yang khusyu’. Orang yang be here and be now. Bebas dari masa lalu, tidak cemas akan masa depan. Ia berada pada hari ini, dan mampu melihat di balik sesuatu. Ia mampu melihat hikmah, melihat apa yang tak terlihat oleh orang lain.”

“Lalu setelah lepas dari hingar bingar dunia, bagaimana caranya menentukan pilihan-pilihan yang tak membahayakan diri sendiri?”

“Pada dasarnya, seseorang memutuskan pilihannya berdasarkan dua hal; yakni pengalaman-pengalaman di masa lalu, dan kondisi yang memungkinkan timbulnya pilihan-pilihan itu.”

“Pengalaman yang buruk, menentukan seseorang mengambil pilihan yang menghindarkan ia mengalami peristiwa buruk itu di masa depan. Dan pengalaman yang baik, membuat seseorang memilih ingin merasakan kembali peristiwa bahagia itu di masa depan.”

“Misalnya, aku merasa bahwa sate kelapa Dharmahusada rasanya enak. Di kemudian hari kalau sedang lapar, maka aku akan membelinya. Tapi, karena aku pernah makan di sana bersama seseorang, aku akan berpikir dua kali untuk makan di sana. Karena aku menimbang-nimbang, apakah rasa sate Dharmahusada sebanding dengan rasa akan kenangan bersamanya.”

“Eciee, Dokter … Hahaha …”

“Haha, malah curcol, ya … Nah, lalu kondisi yang memungkinkan timbulnya pilihan-pilihan itu, misalnya begini. Ada orang yang memilih untuk tidak menikah, seperti temanmu yang pernah kamu ceritakan. Atau orang yang mencuri dan melakukan kecurangan-kecurangan dalam Pemilu. Mereka memilih demikian, karena ada kondisi yang memungkinkan tersedianya pilihan itu. Keyakinan beragama, tingkat moralitasnya, dan lain-lain.”

“Seperti tersedianya kesempatan, Dokter?”

“Betul. Tapi, kalau hanya melihat dua kondisi itu, seseorang masih berada di permukaan laut, atau sedikit menyelam beberapa meter ke bawah. Dia akan terlempar ke sana kemari oleh gelombang.”

“Lalu, bagaimanakah caranya?”

“Menyelamlah lebih dalam lagi ke alam bawah sadarmu. Sampai seolah-olah kau berada di lautan dalam yang sunyi, gelap gulita, dan hanya ada secercah cahaya di sana. Cahaya yang berbeda dengan cahaya-cahaya lain di atas sana. Itulah cahaya yang bersumber dari Yang Maha Bercahaya, an nur ala an nur, cahaya di atas cahaya, dan itulah cahaya Tuhan.”

“Bagaimana rasanya bila bertemu dengan Cahaya itu?”

“Aku sendiri tidak tahu. Aku tidak yakin pernah mengalaminya. Hanya banyak orang suci bercerita, dengan menemukan Cahaya itu, kau akan lebih mudah menentukan pilihan-pilihan hidup.”

“Bahkan kau tidak perlu memilih, karena kau dituntun begitu saja menuju tempat tertinggi dalam hidupmu. Kau tidak akan disibukkan dengan pilihan-pilihan, karena kau tahu kemana harus melangkah. Karena Sang Cahaya telah menuntunmu.”

“Bagaimana mungkin aku tidak perlu memilih, padahal aku kadang bingung harus kemana jalan hidupku?,” tanyanya.

“Karena kau tidak lagi dibingungkan dengan pilihan-pilihan. Pernahkah kau berada di persimpangan jalan, ketika kau harus memilih ke kiri atau ke kanan?”

“Iya, pernah, Dok.”

“Saat kau dituntun Sang Cahaya, kau dengan sendirinya mengetahui harus kemana kau mengambil jalan.”

“Bagaimana bisa?”

“Karena kau peka terhadap tanda-tanda yang diberikanNya, kau sensitif terhadap petunjuk-petunjukNya. Ketika kau dituntun oleh Sang Cahaya, ibaratnya kau mengetahui jalan pulang. Seberapa jauh kau tersesat, seberapa dalam kau terperosok, kau selalu bisa menemukan jalan pulang. Itulah nikmat bagi mereka yang dikehendakiNya untuk diberikan cahaya, dituntun jalannya untuk selalu kembali kepadaNya.”

“Bagaimana mungkin saya menemukan Tuhan di dunia?”

“Kita analogikan seperti seseorang yang sedang mencari jodoh. Banyak di antara kita yang memilih calon pasangan yang mirip dengan orang tua kita. Misalnya, aku melihat ibuku yang seorang wanita karir, cantik tapi agak judes, dan selalu bisa memasak yang enak-enak untukku dan adikku. Kurang lebih, aku memimpikan calon pasangan yang tidak jauh dari karakter itu. Aku pun mempersilakan istriku untuk bekerja, asal tetap punya waktu mengurus keluarga.”

“Iya juga ya, Dok. Saya sering mudah jatuh cinta pada perempuan yang humoris. Saya baru sadar ibu saya adalah sosok yang humoris.”

“Yup. Kalau diurut sampai ke belakang, sebenarnya darimanakah asal kita? Kita tidak terikat materi dan jasad seperti ini, namun lihatlah ruh kita. Lihatlah spirit kita. Ruh kita pernah dikumpulkan pada tempat yang satu, karena ia berasal dari Yang Maha Satu. Sebelum diturunkan ke dunia, mereka ditanya, ‘Siapa Tuhanmu?,’ mereka menjawab, ‘Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami.'”

“Artinya, kalau pernah bertemu, akan mudah bagi kita untuk mengenali Tuhan lagi, bukan begitu, Dokter?”

“Ya, begitulah. Semakin sering kita mengingat Tuhan dalam tiap aktivitas kita, makin mudah kita menemukanNya. Kita selalu bisa menyelami damainya alam bawah sadar yang paling dalam, berkhalwat dengan CahayaNya, lalu memiliki kemampuan untuk melihat hikmah di balik sesuatu.”

“Kalau sudah begitu, kita tidak perlu ragu untuk menjalani hidup, dan tidak dipusingkan tentang pilihan-pilihan. Kita akan mampu melihat dengan mata batin ya, Dok.”

“Ya, benar. Hal ini akan sangat berbeda bagi mereka yang tidak pernah mengingat Tuhan, atau sekedar menyebut namaNya, tapi tidak pernah menghadirkanNya dalam benaknya.”

Gimana menurut Njenengan? 

Advertisements