Jodoh itu, seperti ancer-ancer. Anda tahu ancer-ancer? Ancer-ancer itu patokan. Kalau menuju ke suatu alamat yang sama sekali baru, biasanya orang Jawa akan tanya, “Ancer-ancer rumahmu apa?” Ancer-ancer bisa diibaratkan petunjuk jalan, kalau mau ke sana harus lewat mana.

Pernah seorang pasien lanjut usia (lansia) bertanya, “Nak Dokter umurnya berapa? Sudah menikah? Berapa lama menikah? Sudah punya momongan? Umur berapa momongannya? Rencana nambah berapa momongan?,” buset dah, nambah istri aja belum, Bu, mau nambah momongan, batin saya.

Eh, maksud saya, satu momongan aja belum, malah ditanya mau nambah berapa.

“Saya menikmati ikhtiyar momongannya sama istri kok, Bu,” saya jawab sekenanya. Ibu itu terpingkal-pingkal. Mungkin sekejap membayangkan apa yang beliau dulu lakukan bersama suaminya.

(Bagi Anda pembaca yang masih di bawah umur, tidak usahlah berkerut dahi memahami paragraf di atas. Memang belum waktunya, ya. Udah skip aja.)

Memang rata-rata pasien lansia akan tanya soal berapa umur saya, dan sudah menikah atau belum. Mungkin karena wajah saya lebih muda dari usia. Ceritane aku pancen awet enom.

Tapi nggak ada yang kepo seperti ibu satu ini. Rasanya pengen tauu aja. Ya sudah, jadilah sekalian saya tanggap buat menghibur pasien-pasien lain yang sedang ngantri. “Bu, nopo’o kok tanglet.. Madosi mantu elek-elekan nopo mboten? Kulo siap.

“Nggih, Nak Dokteeer, sakmeniko anake sampun kawin.. Kalih kulo mawon, Nak Dokteerr…,” ada salah satu ibu yang nyeletuk.

“Lhaaa, moso’ kalih njenengan, Bu… Arek enom kalih tiyang lansia…”

“Lhooo, maksude sama anak saya, sanes kalih kulooo..”

Suasana ruang tunggu puskesmas menjadi semarak riuh rendah. “Tapi saya sampun menikah, Bu,” sambung saya.

“Waaa, Nak Dokter ini PHP, pemberi harapan palsu!,” penonton kecewa. Ibu-ibu ini tahu istilah PHP juga rupanya. Ah, mungkin saya akan mempertimbangkan ulang kalau tetap dipaksa dijadikan mantu. Hehe…

“Bapak masih sehat, Bu?,” saya kembali ke ibu yang kepo tadi. “Alhamdulillah, membaik kondisinya, Nak Dokter…”

“Alhamdulillah, rutin berobat ya, Bu…”

“Iya, sama tusuk jarum dan herbal juga, Nak Dokter. Kalau minum herbal, apa boleh disambung sama obat dokter, Nak?”

“Asalkan bermanfaat dan efek sampingnya tidak memberatkan, silakan, Bu. Beri jarak waktu satu jam sebelum atau sesudah minum obat dokter, yaa…”

Ibu ini adalah seorang warga keturunan Tiongkok, yang baru akhir tahun lalu mendapat kartu keluarga dan KTP. Setelah lebih dari sepuluh tahun menikah, akhirnya seluruh anggota keluarganya terdaftar di catatan sipil. Dan setelah menikah, ibu ini mualaf mengikuti suaminya.

“Ibu sendiri sudah berapa tahun menikah?,” gantian saya yang kepo. 

“Wah, saya putus-nyambung sama suami saya, Nak Dokter.”

“Oo, sempat pacaran ya, Bu..”

“Bukaaan, saya sudah nikah, lalu cerai, Nak..”

“Apa sebab cerainya, Bu?”

“Ya biasalah masalah rumah tangga, Nak.”

“Sampai harus pisah, Bu?”

“Iya, hehe.. Malah sempet kami harus menikah dulu sama orang lain, biar bisa nikah lagi.”

“Subhanallah, sudah talak tiga?”

“Iya, hehe..”

“Setelah talak tiga, lalu nikah sama orang lain dulu, cerai, kemudian nikah sama suami lama?”

“Iya, hehe..”

“Ibu ketawanya hehe-hehe dari tadi..”

“Kalo haha-haha gigi palsunya copot, Nak Dok..”

“Wahahaha..,” kocak juga ibu ini. Dan baru kali ini saya mensyukuri nikmatnya tertawa lebar. Hahaha..

“Sampai pernikahannya harus seperti itu ya, Bu..”

“Ya saya juga heran, Nak Dok..”

“Apalagi saya, Bu.. Tapi, kira-kira apa sebabnya?”

“Ya masalah rumah tangga biasa, Nak Dokter..”

“Maksud saya, apa sebabnya Ibu memilih kembali lagi bersama suami lama?”

“Ya masih cinta, Nak Dok..”

Glodakkk..

Klasik, ah. “Kalau memang cinta, mengapa sampai memutuskan pisah, Bu?,” bagi saya, bertahan sedikit lebih lama, justru membuat kita mampu menemukan “kesepakatan-kesepakatan” yang lebih dewasa dengan pasangan, tanpa harus pisah.

“Ya terus terang pisahnya itu tidak di depan pengadilan agama. Sebenarnya kami sudah didamaikan sama kedua orang tua, bahkan sama guru ngaji kami. Tapi kami nya yang mbandel. Malah semua orang kami marahi. Wah, parah kok waktu itu.”

“Parah sampai seperti apa, Bu?”

“Ya cuman marah-marah aja, Nak Dokter. Ngga sampai pukul-pukulan, cakar-cakaran, nggak, alhamdulillah ngga sampai ada kekerasan. Tapi kami betul-betul emosi, Nak Dok..”

“Kalau memang emosi, bukankah keputusan cerai menjadi tidak sah?”

“Kami memutuskan pisah selalu keesokan harinya, tidak pada hari ketika kami saling marah. Karena memang disarankan meredam emosi dulu. Dan selalu kami memutuskan pisah keesokan harinya. Lalu setelah sebulan-dua bulan, kami saling kangen. Trus kami memperbarui akad lagi di depan saksi dan penghulu.”

“Wow,” saya manggut-manggut, “lalu, soal menikahi orang lain setelah talak tiga itu, bagaimana, Bu?”

“Ya, itu sudah ada perjanjian. Setelah kami menikah dengan pasangan masing-masing, beberapa bulan kemudian kami cerai. Lalu saya dan suami saling menikah. Gitu..”

“Bagaimana pendapat ibu soal kawin-cerai ini?”

“Jujur saya takut, Nak. Saya takut dianggap mempermainkan sumpah. Kami berulangkali menggetarkan Arsy Nya Yang Agung dengan kata-kata talak. Padahal, janji pernikahan itu mitsaqan ghalida, perjanjian yang agung.”

“Iya juga ya Bu, ya.”

“Terus terang keluarga saya lebih suka kalau saya pisah sama suami. Karena dianggap suami mempengaruhi saya untuk murtad dari agama nenek moyang kami. Tapi ya, bener juga, sih. Saya merasa tidak nyaman dalam keluarga, trus kok ketemu sama orang salih seperti ini, ya saya kecantol sama dia. Sekalian memutuskan pindah agama. Hehe..,” hehe-hehe lagi.

“Ibu bisa kenal sama bapak, darimana?”

“Sebenarnya masih saudara, tapi saya juga nggak paham seperti gimana. Waktu itu saya lari dari rumah, trus menginap di toko milik orang tua suami saya. Saya diramut beberapa hari sama paman saya itu. Trus akhirnya saya setuju dikembalikan lagi ke rumah, setelah paman saya menasihati orang tua saya. Ya sudah trus saya balik lagi ke rumah.”

“Lha, ketemunya sama bapak, gimana?”

“Oiya, lupa, hehe..,” hehe-hehe lagi, “ya ketemunya di rumah itu. Saya tuh dicuekin lho, Nak Dok. Saya dipersilakan tidur sama adiknya, tapi nggak pernah ngobrol sekalipun sama suami saya waktu itu.”

“Kok bisa jatuh cinta, Bu?”

“Nah, itu dia, hehe..,” hehe-hehe lagi, ya sudahlah, abaikan, “suami saya punya kebiasaan nonton TV setiap habis makan malam. Semenjak saya di sana, dia lebih banyak di kamar. Bahkan, pagi-pagi sekali suami saya berangkat ke kantor, ternyata buat mandi di sana. Saya tanya adiknya, kenapa nggak mandi di rumah? Kalau pulang dari kantor pun, suami saya dalam keadaan sudah mandi.”

“Ternyata?”

“Ternyata suami saya malu sama saya. Kata adiknya, kalau boleh memilih, kakaknya akan tinggal di masjid daripada harus melihat saya dalam keadaan tidak berjilbab. Tapi orang tuanya keberatan, karena masih membutuhkan tenaga suami saya untuk menimba air sumur setiap pagi. Kebetulan pompa air rusak waktu itu.

“Saya heran, kok ada orang kayak gini. Saya ingat betul, remaja saya dulu itu cuantik lho, Nak Dok, dan suka pakai yukensi dan celana cekak. Jadi hmm, kalo pria normal pasti ngelirik-lirik saya. Lha ini aneh. Masa’ dia nggak ngelirik sama sekali, Nak! Hahaha..

Ups, gigi palsunya hampir lepas. Wkwk..

“Jadi pas kembali ke rumah, sudah saya tekadkan untuk lebih sering main ke rumah paman. Ya, meski banyak halangan dari keluarga, akhirnya kami menikah juga. Tapi, tantangan tidak berhenti sampai di situ, Nak. Biduk rumah tangga kami diombang-ambing ke sana ke mari.. Ckck.. Kami berdua benar-benar diuji waktu itu. Ah, seandainya kami tak termakan emosi, pasti kami tak perlu kawin cerai seperti itu..

“Saya pun dikritik keras oleh guru ngaji kami. Beliau melihat kami seperti dua anak kecil yang saling berebut makanan. Kalo ketemu, bertengkar, kalau pisah, kangen. Beliau memutuskan mengikutkan kami di pengajian etnis kami yang muslim di Surabaya. Setelahnya barulah kami paham tentang bagaimana kewajiban suami-istri. Alhamdulillah, langgeng sampai sekarang.”

“Alhamdulillah, ketemu jodohnya ya, Bu..”

“Jodoh itu apa, Nak?,” mendadak si ibu serius.

“Ya pasangan yang diidam-idamkan to, Bu?”

“Heh,” si ibu tersenyum sinis, “seandainya saya menyerah lalu memilih bersama suami kedua, mungkin saya tidak akan bersama suami yang sekarang lho, Nak..”

“Nyatanya, Ibu tidak. Ibu tetap bersama suami yang sekarang.”

“Bagaimana mungkin saya mengambil keputusan kalau saya sendiri ragu, Nak?”

“Apa yang ibu ragukan waktu itu?”

“Saya cuman merasa ada yang hilang sewaktu pisah sama suami. Bukan soal cinta, bukan soal perasaan. Tapi lebih dari itu. Saya merasa mudah khawatir, dan hari-hari saya semakin terasa suram. Seakan-akan, ada seberkas cahaya yang hilang dari hidup saya. Dan itu semakin kuat saya rasakan waktu cerai yang kedua dan ketiga. Saya berpikir, ada yang salah sama hidup saya.”

Namanya juga kawin-cerai, wajar ibu merasa “ada yang salah”, batin saya.

“Bukan soal kawin-cerainya, Nak,” lho, ibu ini bisa membaca pikiran, “tapi saya merasa semakin sulit menemukan kedamaian hati. Rasanya sama Tuhan jadi jauuuh banget. Tapi kalau ada suami, saya merasa tenang. Ada yang ngingetin salat, ada yang mbangunin tahajjud, dan kalau suami saya di kantor, selalu ngingetin saya untuk salat dhuha.”

“Romantis sekali suami ibu, ya.”

“Lho, jangan salah. Suami saya ini orangnya dingin, Nak. Tapi kalo soal ibadah, orangnya selalu care, nggak pernah absen ngingetin terus.”

“Wuih, hebat..”

“Iya, Nak. Ini lho yang bikin saya jadi semacam kehilangan arah waktu pisah sama suami. Gamang, nggak tahu harus saya bawa kemana hidup saya. Semacam kehilangan ancer-ancer. Bingung mau kemana.”

“Akhirnya ibu memilih kembali kepada beliau.”

“Iya, Nak. Suatu saat, kalau kamu nemu orang yang semacam itu, jangan dilepas, Nak. Mungkin ada orang yang lebih baik dari dia, mungkin ada yang lebih ganteng atau lebih cantik. Tapi justru dari dialah kamu temukan arah hidupmu. Justru dari dialah, kamu bisa lebih dekat kepada Allah.

“Kamu boleh merasa salah memilih orang, kamu boleh gagal berkali-kali dalam pernikahan, tapi selalu ingatlah, bahwa tujuan akhirmu adalah menuju kepada Tuhan. Selalu temukanlah jalan untuk kembali pulang kepadaNya. Jalan dimana kamu tidak sendirian, tapi ada seseorang yang selalu meneguhkan langkahmu, dan mengingatkanmu untuk selalu mengingatNya.

Karena jodoh itu ibarat ancer-ancer, yang menjadi patokan kemana harus kamu bawa hidupmu. Dan yang menjadi petunjuk, dengan cara apa kamu menjadi lebih dekat kepada Tuhan.”

Ya Allah, cintakanlah kami kepada mereka yang mencintaiMu. Agar cinta ini berbuah ridhoMu, sehingga dengan cinta ini, Engkau memantaskan kami untuk menuju syurgaMu.

Advertisements