Ada kisah menarik yang dipaparkan film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Film yang diangkat dari novel karya Hamka ini, menceritakan sepasang kekasih yang terpaksa berpisah karena cinta mereka tidak halal di mata adat. Saya tak ingin mengulas soal pernikahan beda adat, karena ada drama sakit hati yang lebih menarik untuk disimak.

Ya, drama sakit hati. 

Diceritakan, Zainuddin tidak diterima di keluarga Hayati karena ia bukanlah keturunan asli Minang. Orang Minang harus kawin sama orang Minang, katanya. Hayati kemudian dijodohkan dengan seorang darah biru asli Minang, sementara Zainuddin terpaksa harus menyingkir, bukan hanya dari Tanah Minang, juga dari kehidupan Hayati.

Zainuddin yang sakit hati memutuskan kembali ke Tanah Jawa, tempat dimana ibunya berasal. Zainuddin bermaksud menyembuhkan sakit hatinya bukan dengan menutupinya, melainkan dengan mengakuinya. Zainuddin menulis sebuah romansa, dimana sebagian besar alurnya adalah kisah percintaannya dengan Hayati. Di sinilah drama sakit hati itu dimulai.

Karena suatu hal, Hayati dan suaminya pindah dan menetap di kota yang sama dengan Zainuddin. Rupanya Zainuddin telah terkenal sebagai penulis romansa, dan Hayati baru menyadari bahwa romansa yang ia tulis adalah mengenai kisah cinta mereka. Zainuddin semakin bersinar dengan karyanya, sementara hidup Hayati makin terpuruk karena perilaku suaminya yang suka berjudi dan mabuk. 

Kehidupan rumah tangga mereka semakin berantakan. Menyadari bahwa dirinya telah menyengsarakan istrinya, si suami memutuskan pergi ke Banyuwangi dan tak kembali. Ia berbesar hati berpisah secara agama dengan Hayati, dan merasa bahwa Zainuddin lebih layak untuk mendampinginya daripada dirinya. 

Namun Zainuddin terlanjur sakit hati. Ia tak lagi seperti dulu yang mencintai Hayati. Ia tak lagi memiliki hati yang sama saat ini. Bagi Hayati, semuanya sudah terlambat. Namun bagi Zainuddin, tidak ada kata terlambat karena sebenarnya mereka tak pernah memulai. Sayangnya, hukum dalam percintaan selalu sama: cintai aku sepenuhnya atau tidak sama sekali.

Demikianlah hingga Zainuddin melepas kepulangan Hayati ke tanah lahir ibunya, dengan menaiki kapal Van Der Wijck. Di tengah perjalanan, kapal ini karam bersama dengan segala kenangan Hayati bersama Zainuddin. Namun Tuhan masih memberi kesempatan mereka bertemu saat kondisi Hayati sedang kritis. Tuhan masih sayang kepada mereka, dan menyempatkan mereka untuk saling berucap selamat tinggal. 

Selamat tinggal kamu, selamat tinggal kenangan, katanya. Hidupmu pasti akan lebih baik setelah ini, in sha Allah.

Advertisements