Beberapa waktu lalu saya terpaksa membobol mobil saya sendiri, karena kontak mobil tertinggal di dalam mobil. Wait, what? Tertinggal di dalam mobil? Iya. Why, how?

Alarm mobil ini disetting akan otomatis mengunci dalam tiga puluh detik, jika sejak membukanya pertama kali, mobil tidak segera distarter. Sehingga saya punya kebiasaan, akan menaruh kunci kontak di saku jika saya perlu mengambil beberapa barang.

Sayangnya, saat itu obsesif saya kumat. Melihat tumpukan koran, berkas-berkas tes kepribadian, modul-modul hipnoterapi, bercampur sama bungkus-bungkus dan remah-remah cemilan, isenglah saya untuk mengangkat mereka semua keluar mobil.

Saat saya berbalik, pintu mobil menutup karena gravitasi. Dan persis tiga puluh detik, pintu mobil terkunci. Sip. Mobil keren mah seperti ini, atuh. (Eh, Anda tahu kan, kalau pintu mobil tidak terbuka sempurna, maka entah mekanisme seperti apa, maka ia kembali ke tempatnya semula alias menutup sendiri. Anggap aja itu karena gravitasi.)

Setelah saya menaruh barang, terasa ada yang aneh. Kontak saya dimana? Di saku, tidak ada. Dicari di tengah tumpukan, tidak ada.

Saya mual. Jangan-jangan.. Saya berlari kembali ke mobil, mengintip, mencari-cari kontak di sana. Ada! Dan terkunci! Mobil saya terkunci!

Dalam gerakan woles motion, saya meraung-raung.. Mencakar-cakar kap mobil.. Membentur-benturkan kepala saya ke tembok.. Membodoh-bodohkan mengapa bisa sebodoh itu meninggalkan kontak dalam mobil.. Lalu saya putus asa, dan menabrakkan diri di tengah jalan..

Enggak, dink. Ngga selebay itu.

Saya tetap tenang, tampak tegar, dan mencoba berpikir jernih. Saya ambil kain yang cukup lebar, saya tutup semua badan mobil, dan dengan trik sederhana, tangan saya bisa menembus mobil dan mengambil kontak yang tertinggal. Voila!

Ah, enggak jugak. Saya bukan Hafid Copperfield.

Trus iki piyeeeee..??

Akhirnya sobat saya, Mas Bahar dan Mas Umam, mengajari saya trik sederhana untuk membobol mobil saya sendiri. Triknya gampang, cukup siapin penggaris besi, atau kastok (hanger) yang terbuat dari besi juga. Lalu lapor security bahwa itu memang mobilmu dengan menunjukkan STNK yang masih berlaku.

Setelah itu potong daun pintu menjadi tiga bagian, iris tipis, tambahkan bawang putih dan bawang bombay. Campur penggaris besi dan kastok yang sudah dipotong dadu. Beri kecap manis, dan gula-garam secukupnya. This is it! Daun pintu goreng kecap, a la Bahar-Umam!

Bukan, bukan gitu.

Duh, kami mulai kehilangan akal. Sudah tiga jam kami mencoba, ternyata tidak segampang mbobol avanza. Akhirnya kami putuskan mencari tukang kunci profesional, yang bisa membantu menyelesaikan masalah kami.

Kok nggak dari tadi manggil tukang kuncinya, ya?

Setelah menunggu satu jam lagi, tukang kunci akhirnya datang. Dan tukang kunci ini sukses merogoh kocek saya sampai seratus lima puluh ribu! Oh, anu, saya sendiri merogoh kocek saya, bukan tukang kuncinya. Kalau dia yang merogoh saya, agak horor gimana gitu, ya. Bikin keenakan. Eh, anu, enggak dink.

Mas Bahar dan Mas Umam membantah habis-habisan, dan meminta saya menawar separuh harga. Kamu tahu, Kawan, trik terbaik saat menawar adalah sebelum Anda membeli barang atau menggunakan jasa. Kalau sudah digunakan, artinya Anda setuju dengan harga yang disebutkan di awal. Trus kalau saya sekarang berusaha menawar, bisa-bisa digantol leher saya pakai dongkrak. Byuh.

Ya sudah, saya bayar aja harga segitu, karena tidak sebanding uang saya dengan janji temu yang saya batalkan. Cieee, sok sibuk. Iyah, saya sampai membatalkan janji temu dengan dua klien sore tadi. Ya Allah, saya khawatir dzalim sama klien-klien saya, meskipun pada akhirnya mereka mengerti ketololan saya. 

Yang unik, kejadian ini berulang sampai tiga hari berturut-turut! Iya, tiga hari.. Berturut-turut pulak! Bukan tertinggal dalam mobil, tapi “berpindah ke lain tempat”. Sampai dalam tiga hari itu saya membatalkan semua agenda, dan berulangkali meminta maaf pada salah satu klien yang dalam tiga hari itu tidak bisa saya temui. Ya Allah..

Di hari kedua, kontak itu dititipkan Mas Umam ke Mas Bahar, dan sore itu Mas Bahar pulang lebih dulu. Trus kontak saya terbawa dia pulang? Ebuset.. Berulangkali saya telpon Mas Bahar, tapi tidak aktif. Sudah saya duga, karena Mas Bahar suka berganti nomor hp. “Mending beli perdana daripada beli pulsa,” katanya.

Akhirnya kontak saya terlacak dititipkan di Pak Syar’i, parkiran motor. “Aduh Bro, biasanya dokter-dokter sini kan dititipkan ke nurse station Bapenkar,” protes saya ke Mas Bahar. Ah, dokter memang makhluk paling cerewet, yah. Tapi saya kan sedang perlu kontak ituh.. -___-”

Hari ketiga, kontak saya tidak tertinggal dalam mobil, tidak dititipkan siapa-siapa. Tapi terjatuh di mobil teman! Mas Umam sudah menyadarinya sejak awal, dan berusaha menghubungi sang empunya mobil untuk mengecek adakah kontak saya di sana. Setelah lima jam, kontak saya terselamatkan! Subhanallah.. Uedyan tenan.

Di hari ketiga itu, saya salat isya’ lebih khusyu. Saya merenung, kenapa kejadian ini berlangsung tiga hari berturut-turut. Terlebih lagi, kenapa terjadi pada saya, bukan kepada orang lain. Ah, setidaknya Tuhan mau menyamaratakan ke orang lain; saya yang hari pertama, ada yang hari kedua, dan ada orang lain yang hari ketiga.

Ah, siapa saya, berani mendikte Tuhan. Dan jelek sekali renungan saya, berani berharap ketololan itu terjadi pada orang lain.

Balas Budi kepada Tuhan

Lalu saya teringat guru ngaji saya pernah berkisah, tentang seorang petinju hebat yang tidak mengeluh ketika menderita penyakit berat di masa tuanya. Seseorang menanyai petinju itu, mengapa ia bisa sangat tahan dengan penyakitnya. 

Si petinju itu menjawab, “Ketika saya menyabet banyak sekali gelar juara tinju, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’. Dan kali ini ketika Tuhan memberi saya penyakit seperti ini, maka tidak sepantasnya saya lalu bertanya, ‘Tuhan, mengapa saya?’ Saya hanya perlu mengingat apa yang sudah Tuhan berikan dalam hidup saya, dan inilah saatnya saya membalas budi kepada Tuhan.”

Petinju itu sedang membalas budi kepada Tuhan dengan menerima cobaan dariNya dengan cara bersabar. Tentunya, bersabar bukanlah ‘duduk diam dapet duit.’ Ya harus berusaha. Usaha petinju itu adalah dengan berobat, dan saya dengan mencari tukang kunci, dengan perantaraan Mas Bahar dan Mas Umam.

Dan jika mengingat kembali bahwa Tuhan sudah berbuat banyak dalam hidup saya, juga saya tidak pernah bertanya, ‘Tuhan, mengapa saya?’ ketika saya mendapat banyak kemudahan dan kenikmatan, maka kali ini saya tidaklah pantas menanyakan hal yang sama ketika diminta musibah.

Musibah Lelaki Beriman

Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah lelaki beriman. Namun saya tiba-tiba teringat perkataan seorang ustad ketika memberi ceramah saat buka bersama dua tahun silam, tentang cobaan lelaki beriman. 

Jadi, cobaan lelaki beriman adalah harta, tahta, Raisa. Haha, enggak dink, bercanda. Cobaan lelaki beriman adalah harta, tahta, Cita Citata. Ah, bukan juga. Hehe.

“Jika kau mau mengetahui kualitas ibadah seorang lelaki,” kata ustad itu, “lihatlah dari kualitas istrinya dan kendaraannya. Allah akan membukakan hati istrinya, memudahkan perjalanan dengan kendaraannya, jika lelaki tersebut mau menjaga kualitas ibadahnya. Jadi, kalau kita merasa kesulitan akan keduanya, maka kualitas ibadah kita belum cukup untuk menarik perhatianNya dan membuat Dia berkenan kepada kita.”

Saya menghela napas panjang. Jika mengingat kembali apa yang terjadi pada saya akhir-akhir ini, saya merasa harus banyak memperbaiki kualitas ibadah saya. Sebuah kata bijak menyebutkan, “Menjalankan amalan wajib adalah bentuk ketundukan hamba kepadaNya, sedangkan menjalankan amanah sunnah adalah bentuk keikhlasan hamba kepadaNya.”

Saya tersungkur. Sujud sedalam-dalamnya. Sujud sepanjang-panjangnya. 

Betapa durhakanya saya kepadaMu, Ya Allah. Betapa kecilnya saya di hadapanMu, Ya Allah. Dan betapa mudahnya saya melupakan berbagai nikmat yang telah Engkau berikan dalam hidup saya.

Hanya dengan perkara kecil ini–nikmat kecil yang Kau ambil ini, gelisahnya luar biasa. Bagaimana dengan nikmat yang besar? Astagfirullah, tak sanggup saya.

Ampunilah dosa-dosa kami, Ya Allah.

Advertisements