Pernah suatu ketika, saya mendengar ada ibu seorang kawan yang memborong habis dagangan penjual terompet di malam tahun baru. Teman kami yang lain bertanya, “Mobilmu penuh terompet, dong?”

Ya iya, lah. Masa’ sendal, namanya juga penjual terompet. “Ya kali’ nyambi jualan sendal karena terompetnya ngga laku,” jawabnya. “Trus sendalnya sebelah semua, kayak otak lu yang cuman sebelah,” sahut kawan kami sewot. “Yee, santai aja, Bray. Kan cuman becanda.”

Ah, ngomongin apa sih ini.

Mobilnya penuh sesak akibat terompet-terompet itu. Ya iya, lah. Masa’ penuh sendal. Emang tadi beli terompet apa sendal?

Duh. Salah fokus, nih.

Nah, akhirnya ibu kawan kami pulang dengan membawa sendal, eh, terompet satu mobil penuh, lalu membagi-bagikan terompet itu ke semua sendal, eh, ke semua anak di kampung mereka.

Kenapa jadi nulis sendal, ya?

Lalu kawan kami bertanya, “Ma, sendalku mana?,” sang ibu terkejut, “Wah, maap nak, kecatut dibagikan bareng terompet tadi..”

“Lho, besok aku tahun baruan pake sendal apa, Ma?”

“Ya uda diikhlasin aja, besok Mama beliin terompet, deh!”

Hadeeeh.. Cukup soal sendal. Kita ngomongon terompet, okey.

Ya, intinya kawan kami bertanya kepada ibunya, mengapa beli terompet sebanyak itu. Toh, jumlah anak sekampung tidak sebanyak jumlah terompet yang dibeli. “Sisa terompetnya gimana, Ma?”

“Kita jual aja buat beli sendalmu, Nak.”

Haisshh.. Cukuuuuup soal sendaalll..

Kawan kami bercerita, saat itu sedang hujan lebat. Penjual terompet yang biasanya memamerkan suara terompetnya, menjadi bungkam karena hujan. Selain tidak bisa mencoba salah satu terompet, si penjual juga harus menutup semua dagangannya agar tidak kena hujan.

Kawan kami melihat ada dua penjual di sana–setidaknya itu yang ia simpulkan setelah memasukkan sekitar empat puluh terompet ke dalam mobil, lalu kedua penjual itu membagi dua sama rata uang yang diberikan mamanya kepada mereka.

Masih dalam kebingungannya, kawan kami terpaksa duduk memangku sejumlah terompet dan memastikan kedua adik kembarnya tidak gaduh akibat mencoba semua terompet di dalam mobil. Selain polusi suara, juga polusi ludah. Pernah membayangkan, jika terompet baru pemberian orang lain ternyata terdapat bekas mulut pemilik sebelumnya?

Iiihhh.. 

Ibu kawan kami berkata, “Di hari hujan ini, siapa yang mau beli terompet? Apalagi tempat jualan mereka di pinggir jalan yang jauh dari desa. Makin kecil peluang lakunya.”

Ya iya, lah, Ma. Jualan di pinggir jalan. Katanya dalam hati. Kalau jualan di tengah jalan bisa ketabrak dong, Ma.. Hahahay..

“Makanya, Mama beli aja,” ujar sang ibu, “itung-itung buat ngebantuin Bapaknya juga. Biar laku. Ada penghasilan buat malam ini. Artinya ada makanan buat anak istrinya di rumah. Bismillah, diniatkan jadi sedekah ya, Nak?”

Kawan kami mengangguk. Dia merenung, sambil tangan kanannya sibuk membersihkan terompet dari jejak ludah adik-adiknya.

Iiihhh..

Miskin di Dunia, Kaya di Akhirat

Dulu saya pernah menasihati istri, “Jangan marah sama Lukman. Dia teman, bukan pembantu atau sopir. Dia memang ikut kita tapi kedudukan dia tetaplah teman. Kalau ada salah-salah, maklumin aja.”

Lukman adalah teman yang dalam dua tahun terakhir ini kebaikannya melebihi seorang saudara. Kalau dia perempuan, pasti saya naksir.. Emm, enggak ding. Ralat. Nggak segitunya juga, kali. Mbayanginnya aja jijay bajay. Haiss.. Ngapain juga dibayangin, ya. -___-”

Bahkan kepada pembantu atau sopir pun, sepatutnya kita tidak boleh marah berlebihan. Anas bin Malik pernah menjadi pembantu Rasulullah saw selama sepuluh tahun, dan selama itu pula Rasul tidak pernah berkata, “Ah!” atau mengomentari hasil kerjanya dengan berkata, “Mengapa kau tak melakukan ini, mengapa tak kau lakukan itu.” 

Setelah mendengar khutbah Jumat pekan lalu, saya merasa patut berhati-hati dalam bergaul dengan orang lain, termasuk kepada orang-orang dengan kondisi lebih “minus” daripada saya. Ah, tumben saya nggak ketiduran pas khutbah Jumat, soalnya malem Jumatnya nggak ngapa-ngapain. Hihi.. (Emang harus ngapain malem Jumat? Wkwk)

Ustad di khutbah Jumat itu berkata, “Begitu banyak orang yang kaya di dunia, tapi pada akhirnya bangkrut di akhirat,” katanya, “dan begitu banyak orang yang miskin di dunia, tapi bisa kaya di akhirat.” 

Beliau menegaskan, salah satu pintu penyebab kaya atau miskin di akhirat adalah sikap atau perkataan kita kepada orang lain. Dan apa yang kita lakukan kepada orang lain di dunia, akan berbalas di akhirat, bahkan sebesar zarrah (atom) pun. 

Yang menarik, sistem ganjaran ini semacam hutang piutang, gituh. Perbuatan buruk akan dinilai hutang, dan di akhirat akan ditagih dengan cara mengurangkan amal kebaikan kita. Ah, sudah amal kebaikannya ngga seberapa, banyak hutang pulak. Sial bener.

Tiket ke Surga

Salah seorang senior saya bersegera mengkoordinir kami mengumpulkan sumbangan minimal 30 ribu per orang. Semua urunan ini kemudian dibagi untuk sembilan orang cleaning service dan penjaga parkir, sebagai santunan Ramadhan dan Lebaran. 

Saat saya tanya, kenapa melakukan itu, beliau segera menggetok kepala saya. Aduh. “Kamu masih tanya soal kenapa kita perlu bersedekah?,” tanyanya. Saya cekikikan, “Bukan gitu, Kak, biasanya kan urusan begini ditangani paguyuban, kok Kakak mau turun tangan sendiri.”

Beliau diam. Malah makin gencar menagih sumbangan dari saya. Sumbangan kan seikhlasnya, kok perlu ditagih? Mestinya kesadaran saya sendiri, ya.

Lalu beliau merebut dompet saya, dan saya mempertahankannya sekuat tenaga. Sepertinya tenaganya lebih kuat, sehingga dompet saya sobek dan berhamburan semua isinya (kertas-kertas bon dan tagihan). Saya terpelanting, terjembab ke tanah dan bergulung-gulung, “Tidaaaaaakk…” 

Ah, lebay. Nggak segitunya. Isi dompet saya bukan cuman tagihan, kok. Iya, ciyus. Ada duitnya, lho. Nih, liat (nunjukin dompet yang isinya tagihan).

Setelah menerima sumbangan saya, si kakak senior tadi berlalu sambil berkata, “Kita tidak tahu amalan mana yang diterima, dan doa mana yang dikabulkan. Prinsip keduanya sama: perbanyaklah.”

“Siapa tahu sumbanganmu ini jadi tiket ke surga untukmu,” tambahnya.

Amiiin, ya Allah.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, Kawan. Semoga Allah menerima semua amalan kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjaminkan surga senantiasa terbuka untu kita. Mari kejar ridhoNya.

Advertisements