Beberapa waktu lalu saya ngobrol sama adik kelas saya, sebut saja Daffodil (karena Mawar sudah terlalu mainstream). Yah, Daffodil (27). Meski tak laik sebut usia di sini, setidaknya saya membantu dia untuk merasa matang, agar segera menikah. Hehe.

Untuk cowoknya, kita sebut Drome, singkatan dari Drosophila melanogaster, alias lalat buah. Kok sebutannya elek, ya? Ya sudahlah, ngga apa-apa. Yang penting esensinya. (Esensi opo? Wkwk). Oke deh, Drome (juga 27). 

September ini mereka insyAllah menggenapkan separuh agamanya, sehingga pembicaraannya dengan saya sering seputar pernikahan. Katanya, “Mas Ganteng,” demikian dia menyebut saya. Ngga usah gitu,” saya kegeeran, “panggil nama saya saja,” saat itu juga saya mencukur kumis agar makin charming

“Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh seseorang yang akan menikah?,” tanyanya. Saya pura-pura acuh sambil cukur kumis. “Kalau menurutmu apa, Dek?,” saya balik bertanya. Saya berasumsi dia sudah punya jawaban sendiri.

“Mm, kalau menurutku sih, bukan cinta,” jawabnya sambil menerawang, “kalau menurut Mas Joko, apa?”

“APA??,” saya kaget, “siapa yang kau panggil Joko??,” saking kagetnya, kumis saya memberontak, menyabet-nyabet apapun sampai pisau cukurnya patah jadi dua. “Panggil nama saya aja!,” saya melotot. Hampir-hampir mata saya keculek kumis yang berkibar-kibar.

“Eeh, iya, maap. Mas Hafid,” ujarnya malu-malu. “Nah, gitu. Meski saya ganteng (ciee), tapi biasa aja sama saya, oke,” saya tarik napas dalam-dalam, berusaha fokus lagi sama kumis. Kali ini kumis saya tinggal sebelah.

“Oke, Mas,” jawabnya, “menurutku sih, bukan cinta yang dibutuhkan. Tapi value. Shared values. Nilai-nilai yang dipegang bersama,” katanya serius. Saya menyimak kata-katanya yang dalam.

“Cinta bisa pudar, tapi shared values bisa menumbuhkan cinta berulang-ulang. Setidaknya ada rasa nyaman yang membuat mereka bertahan sampai kapanpun,” katanya. 

Saya mengangguk. Kami sama-sama setuju. Lalu kami mencukur kumis bersama. Eh enggak dink, dia nggak berkumis. Mungkin semalem sudah cukur.

Nilai, Bukan Cinta

Saya pernah menulis artikel dengan judul yang sama, Ketika Cinta tak lagi Penting dalam Pernikahan. Bisa dicek di sini. Artikel ini saya tulis saat saya belum menikah! Setelah saya jalani sendiri, saya semakin paham bahwa ada hal lain yang dibutuhkan untuk mempertahankan pernikahan. Dan itu bukan cinta. Melainkan shared values, istilah si Daffodil. Karena cinta bisa pudar dalam dua tahun pertama pernikahan.

Ya, cinta hanya bertahan dua tahun. Mekanisme ini melibatkan reaksi kimiawi di otak, jaras syaraf dan neurotransmitter, dan pengalaman-pengalaman bawah sadar yang mempengaruhi persepsi terhadap pasangan; yang kesemuanya itu pada akhirnya harus menjawab sebuah pertanyaan sederhana: apakah pasanganku adalah sosok yang sesuai dengan harapanku atau tidak. (Sila baca artikel saya tentang Ilusi itu Bernama Cinta.)

Kalau dibandingin tahun-tahun berikutnya, dua tahun pertama pernikahan memang terasa hot-hotnya, namun justru lebih banyak pertengkaran, lho. Tidak harus pertengkaran fisik; seperti adu jotos sampe jambak-jambakan kumis; bisa juga pertengkaran kecil; seperti beda pendapat soal kumis yang mau diblow atau dicatok, alias kumis kekinian, ya. Wkwk.

Apa yang terjadi setelah dua tahun? Biasanya pernikahan menjadi lebih stabil, karena sudah saling paham kelebihan dan kekurangan pasangan. Sebaliknya, mereka yang dimabuk cinta dalam dua tahun pertama, biasanya akan kaget setelah masuk ke tahun berikutnya. Mereka mabuk hingga tak sempat menyelami pribadi masing-masing. Ketika ilusi-ilusi cinta itu memudar, maka masing-masing akan tampak seperti aslinya. 

Kebanyakan pasangan yang pernah kami tanyai mengatakan, “Memang kenyataan tak seindah harapan. Saya berharap kumis yang diblow membuatnya lebih ganteng, ternyata wajahnya emang pas-pasan. Saya menyesal, kenapa dulu tidak saya bikin mohawk aja kumis suami saya. Biar geli-geli gimanaaa, gitu.” Uhh..

Kalau mereka mempertahankan nilai, maka hal-hal teknis seperti kumis belah tengah atau belah pinggir, tak akan jadi masalah. Mereka tidak akan sibuk berdebat tentang bagaimana kumis digundul atau dicukur tipis, karena bagi mereka yang terpenting adalah keikhlasan memegang nilai tersebut meski tidak bersama pasangan. Pertanyaannya, ini kumis apa rambut kepala, ya? Hahaha.

Jika memang demikian, apa sajakah nilai-nilai dalam hidup yang Anda yakini bersama pasangan, duhai pembaca setia blog saya? (ciee, kayak laris aja blognya. Emang iya, wkwk)

Sakinah Bersamamu

Istilah ini makin populer semenjak Asma Nadia, budhe saya, eh bukan dink, penulis keren ituh, menerbitkan buku dengan judul tersebut: Sakinah bersamamu. Status facebook teman-teman saya pun banyak yang meminjam istilah ini. Untunglah, mereka menikah dengan lawan jenis. Ngga keren kali ya, kalau saya bilang, “Aku ingin sakinah bersamamu,” tapi nunjuk cowok. Aiihh, bisa-bisa Surabaya bagian Keputih dijatuhi adzab seperti kaum Nabi Luth. Wew..

Doa-doa yang diucapkan kepada mereka yang baru menikah pun memakai istilah ini, “Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, yaa..” Ngga ada yang bilang, “Semoga cepat cerai, yaa..,” ini dateng ke kondangan apa ke pertandingan tinju? Mbikin kisruh aja. Pertandingan tinju juga ngga gitu-gitu amat, coy. Soalnya petinjunya ngga pake nikah dulu, hahaha.. Ya iyalah.. Serem dong petinju gempal-gempal gitu saling nikah satu sama lain. Cucok, cyiin.

Sudah, balik ke sakinah mawaddah wa rahmah tadi.

Secara harfiah, sakinah berarti rasa aman, merasa tentram. Kedua pasangan wajib memberikan rasa aman satu sama lain, wajib menumbuhkan secure feeling kepada pasangannya. Aman dalam hal apa? Bisa soal kesetiaan; adanya jaminan bahwa mereka bersikap jujur dan menjaga kehormatan, demi dirinya dan keluarganya. Ada atau tidak ada pasangannya. Bisa juga soal kebutuhan atau nafkah lahir batin. 

Contoh nafkah lahir batin adalah ketika istri minta, “Aku butuh gamis dan hijab untuk menutup aurat, Mas,” jawab suaminya, “Oke, Dek.” Aku butuh makan untuk asupan gizi bayi kita, Mas. Oke, Dek. Aku butuh tempat berteduh untuk istirahat, Mas. Oke, Dek. Aku butuh mobil, Mas. Dibatin aja ya, dek. Lho kok dibatin aja, Mas? Iya, Dek, namanya juga kebutuhan lahir-batin. Ada yang lahir (nyata) dan ada yang dibatin (dibayangin aja). Wkwk, ngga gitu juga, kali.

Mawaddah, berarti saling membahagiakan. Ada kewajiban masing-masing untuk membuat bahagia pasangannya. Sebisa dan sedapat mungkin ia lakukan. Dalam kondisi apapun, sesusah apapun, keduanya wajib saling membahagiakan. Wajib, lho. Sesusah, dan sesulit apapun.

Mengapa wajib? Nah, ini bahasan yang saya suka. Anda tahu, jaman sekarang banyak orang yang bicara, “Ini hak saya, ini hak asasi saya, ini hak suami, dan ini hak istri.” Bahkan dalam tata aturan dunia, ada sebutan Human Rights. Sebegitu hebohnya pengaturan hak individu sampai terangkum dalam peraturan perundang-undangan.

Tapi seberapa banyak orang yang bicara soal, “Ini kewajiban saya, ini kewajiban asasi saya, ini kewajiban suami, dan ini kewajiban istri?” Tidak banyak aturan yang menyebutkan secara detil apa kewajiban asasi seseorang terhadap orang lain. Tidak ada tata aturan dunia yang mendetilkan soal Human Responsibility, Human Obligation, dan semacamnya.

Efeknya? Kita lihat contoh kecil di angkot. Orang seenaknya merokok di tempat umum dan bilang, “Merokok ‘kan hak saya, dan angkot adalah tempat umum. Kalo ngga mau kena asap saya, ya sana minggir.” Hak saya, hak saya.. Gundulmu mbledhos

Jarang ada orang yang membicarakan apa kewajibannya di tempat umum, karena kita tidak dibiasakan memenuhi kewajiban dulu barulah menuntut hak.

Termasuk soal hak dan kewajiban suami-istri. Di agama saya ditekankan, kewajiban suami adalah hak istri, dan kewajiban istri adalah hak suami. Kita tidak perlu repot menuntut hak, karena hak kita juga akan tercukupi oleh pasangan kita yang melakukan kewajibannya. 

Sudah, fokus ajalah untuk memenuhi kewajiban kita. Kalau dia tidak paham dan kewajibannya tak kunjung dikerjakan? Jadilah teladan baginya, didiklah ia, dan ingatkan. Selebihnya biarlah Allah yang mencukupkan hakmu.

Pada akhirnya, wa rahmah. Rahmah bermakna anugrah, karunia, belas kasih dariNya kepada kita. Cinta adalah rahmat dari Tuhan Yang Maha Mencintai. Cinta adalah anugrah, hasil akhir dari dua kewajiban yang kita lakukan sebelumnya, yakni sakinah dan mawaddah. Kerjakan dua kewajiban, barulah mendapat haknya, yakni cinta dari Tuhannya.

Cinta adalah kuasa Tuhan; hadiah terindah dariNya kepada hambanya yang senantiasa bersusah payah menjaga keutuhan rumah tangga. Inilah makna dari kalimat, “Cinta bukanlah Kata Benda, melainkan Kata Kerja. Cinta itu aktif, bukan pasif,” dan aktivitas kerja itu berupa sakinah (secure feeling) dan mawaddah (couple responsibility).

Cinta adalah Urusan Hati

Tidak ada istilah “mahabbah” dalam rumah tangga. Mahabbah berarti cinta yang penuh gairah, sebagaimana cinta yang kita pahami bersama. Cinta yang penuh chemistry. Cinta yang berupa passion or lust. Kata pujangga, cinta serupa gairah yang membuncah. Kata saya, preeett..

Ternyata, cinta tidak penting dalam pernikahan, karena cinta adalah kuasa Tuhan, bukan kuasa manusia. Yang penting adalah sakinah dan mawaddah didahulukan, barulah cinta datang sebagai rahmat dari Tuhan kepada kita.

Jika cinta adalah urusan hati, maka sejak remaja, ibu mengajari saya sebuah doa, Yaa Muqollibal quluub, tsabbit qalbii ala diinika. Wahai Yang Maha Membolakbalikkan Hati, teguhkanlah hati kami atas agamaMu. Jika dengan cara apapun saya mencintai manusia, saya tidak akan berpaling dariNya.

Maka tuntaslah pembahasan kita bahwa perihal cinta, adalah semata-mata anugrah Tuhan yang sangat berharga. 

Cinta bisa tumbuh tiba-tiba, cinta juga bisa tumbuh karena terbiasa. Kata orang Jawa, tresno jalaran soko kulino. Cinta tumbuh karena gampang di-PHP. Eh, enggak dink. Cinta tumbuh karena terbiasa. Dan agar cinta itu everlasting, maka terbiasalah memenuhi kewajiban kita kepada pasangan kita.

Akhirnya kita cukup berdoa, Ya Allah, cintakanlah aku kepada dia yang mencintaiMu..

Amiiin.

Advertisements