Kejahatan terbesar seorang anak SD adalah menempelkan upil di bawah meja, agar menempel ke paha orang yang kau benci. Demikian cerita seorang remaja yang konsul kepada kami karena pernah dibully semasa kecil. Sebut saja Miss Cihui, 19 tahun.

Kenapa saya sebut Miss Cihui? Karena ia adalah remaja putri yang ceria. Tapi siapa sangka, Miss Cihui ternyata menyimpan segala rasa sakit yang telah ia sembunyikan bertahun-tahun lamanya. Karena masa-masa SD nya adalah masa-masa paling kelam dalam hidupnya.

Kau tahu, Kawan, kalau kau termasuk orang yang sering dibully, maka balas dendam yang paling efisien adalah melakukan kejahatan anonim kepada para pelakunya. Dan di SD Miss Cihui dulu, upil di bawah meja adalah balasan terbaik sepanjang masa.

Begitu si pelaku dipanggil untuk menyelesaikan soal di papan tulis, saat itulah mereka siap-siap untuk ketawa. Ketika dia berbalik untuk kembali ke tempat duduknya, saat itulah si upil terlihat di pahanya!

Yess! Jebakan upil berhasil!

Miss Cihui dan teman-temannya tertawa sejadi-jadinya dan seikhlas-ikhlasnya…!

Tapi, apa jadinya kalau si pelaku membalas dendam dengan cara yang sama? Bahkan dia memaksamu untuk duduk di kursi, lalu menyeret pahamu dan menempel-nempelkannya ke bagian bawah meja. Maka semua upil yang ada di sana, baik kering maupun basah, menempel semua ke pahamu.

Sebagaimana ranjau, untuk memastikan jebakan upil ini berhasil, maka jumlah upil yang ditempel harus lebih banyak. Tingkat keberhasilannya pun sesuai kaidah statistik: semakin banyak upil yang dipasang, semakin besar peluangnya untuk menempel di paha target.

Dan upil-upil itu menempel merata di paha kanan dan kirinya.

Pernah meraba bagian bawah meja? Di sanalah bagian paling kasar dimana permukaan kayu tidak dihaluskan seperti bagian lain. Ketika paha digeser-geserkan, serat-serat kayu yang tajam itu bisa menyusup ke bawah kulit. Duh, nyerinya bukan main. Istilah orang Jawa, telusupen.

Kena ranjau upil, telusupen pula. Ketika maju ke depan, siap-siap ditertawakan anak satu kelas. Mereka ingin menolongmu, tapi mereka tidak mampu, akhirnya mereka terpaksa tertawa bersama para bulliestmu. Menyakitkan, bukan?

Belum lagi hilang konsentrasi mengerjakan soal, bisa-bisa bu guru juga marah. Belum lagi, luka akibat telusupen bisa terinfeksi oleh upil. Ya, karena tidak higienis, upil itu infeksius, lho. Lengkap sudah penderitaan.

Hadeh..

Ternyata yang terjadi sebaliknya. Sang guru justru bertanya kepada Miss Cihui, siapa yang kasih upil di pahanya? Miss Cihui tidak menjawab. Dia menahan tangis. Sang guru berempati namun masih bergeming di tempatnya, mungkin memikirkan bagaimana menolong anak ini tanpa tersentuh upilnya.

“Joniii..!!” bu guru tiba-tiba berteriak memanggil nama satu orang anak.

Duri dalam Daging

Ternyata, Joni ini sudah berulangkali dilaporkan oleh anak-anak yang lain karena perbuatannya. Orang tua mana sih, yang tega melihat anaknya ditindas anak lain? Kalau saya menjadi orang tua Miss Cihui pun, akan mendatangi orang tua Joni untuk meminta pertanggungjawaban.

Ya, ya. Joni memang penyebab paha Miss Cihui jadi penuh upil, telusupen, hingga beresiko infeksi. Joni juga sering berkonflik dengan anak lain, sampai harus dilaporkan kepada bu guru. Joni juga, yang mungkin, menyebabkan nama besar sekolah ini tercoreng karena kejahilannya.

Joni terlalu jahil, mungkin teramat jahil untuk ukuran sekolah ini. Sehingga sekalinya ada kejadian luar biasa, bu guru langsung menyebut nama Joni. Bagi beliau, Joni terlanjur mendapat stigma negatif.

Joni ibarat duri dalam daging, terlanjur menelisip, dan menyebabkan nyeri. Joni lah serat kayu yang sebabkan telusupen. Bu guru dan dewan sekolah sering dihadapkan pada kondisi ini: mengubah sikap Joni sekuat tenaga, atau memindahkannya ke sekolah lain yang bisa menerima Joni.

Saya tidak bisa membayangkan perasaan orang tua anak ini. Mengetahui bahwa anak mereka disebut nakal, rasanya pedih hati ini. Apalagi yang menyebutnya adalah teman-teman satu sekolah. Guru dan murid memanggil Joni dengan sebutan yang sama: anak nakal.

Padahal mungkin, kita lah yang belum paham bagaimana cara memperlakukan Joni. Kita juga belum paham, apa yang sudah dialami Joni selama hidup bersama orang tuanya, sehingga seakan berusaha mencari perhatian guru dan teman-temannya di sekolah.

Ada istilah, victims become villains. Korban menjadi penjahat (pelaku). Bisa jadi, orang yang punya masa lalu yang kelam, justru ingin menumpahkan kekesalan hatinya kepada siapapun di masa kini.

Mungkin sebenarnya mereka tidak tahu bagaimanakah cara berbuat baik kepada sesama. Yang mereka tahu hanyalah berbuat buruk; karena sejak dulu mereka diperlakukan seperti itu, dan itulah yang mereka pahami dari orang-orang sekitarnya.

Tidak dipungkiri bahwa setiap anak, setiap orang, mungkin saya dan Anda, pernah mengalami hal negatif di rumah, sehingga ada perasaan negatif yang muncul dan bisa terbawa ke tempat kerja. Akhirnya perasaan negatif itu berbuah menjadi perbuatan negatif yang merugikan orang lain.

Kapal yang akan Karam

Beberapa pekan terakhir saya hadir dalam diskusi Majelis Penguji Kesehatan (MPK) untuk membahas kasus karyawan yang bermasalah. Sebagian besar karena under-performance selama bekerja di perusahaannya.

Umumnya pimpinan perusahaan tidak ingin gara-gara satu/dua orang, organisasinya mendapat citra buruk selama melayani konsumen. Mereka tidak ingin, karena oknum-oknum yang dinilai tidak bertanggung jawab akan membuat kapal karam dan menenggelamkan siapapun di dalamnya.

Sedapat mungkin mereka-mereka yang “tampak ada gangguan” segera dikonsultasikan ke departemen kami. Hasil akhir pemeriksaan kami menjadi salah satu rekomendasi pimpinan untuk menentukan nasib karyawan ini; apakah layak untuk semua jabatan, layak untuk jabatan tertentu, layak untuk sebagian jabatan dengan supervisi, atau tidak layak samasekali.

Terkesan seperti persidangan? Iya. Mirip. Bedanya, setiap mencapai kesepakatan, tidak ada ketok palu. Adanya salaman lalu cipika-cipiki. Tentunya saya tidak mau cipika-cipiki sembarangan. Saya cuman mau sama yang ganteng. Yuuk, cucok deh iiihh.. Eh, maap jadi ngondek.

Misi Penyelamatan Organisasi

Untuk menyembuhkan telusupen, cukup mengambil serat kayu yang menyisip. Tidak perlu mengamputasi pahanya. Kasihan Miss Cihui dong, untuk urusan kecil kok harus amputasi paha. Lagipula nanti nggak bisa pakai hot pants lagi, ‘kan. Sayang pahanya.

So, jangan biarkan lelaki yang bukan suamimu memandangi pahamu, ya. Menutup paha bukan bermaksud mengebiri kebebasanmu, tapi membantu lelaki meredam imajinasi liarnya.

Tapi ah, dasar lelaki. Mau ditutup kayak gimanapun, tetep aja fantasi kemana-mana. Lelaki memang gitu. Makanya saya nggak suka lelaki. Sukanya perempuan. Hehe..

Ini ngomong apa, sih?

Oke, back to topic.

Memecat karyawan yang under-performance, sama halnya seperti membuang serat kayu. Memang sakit dan menyebabkan luka, namun sakitnya hanya sementara dan kulit akan sembuh dengan sendirinya. Daripada dibiarkan, sakitnya terus menerus dan resiko infeksius.

Tapi apakah memecat karyawan sesederhana membuang serat kayu? Sayangnya tidak. Banyak aturan ketenagakerjaan yang harus diperhatikan, banyak asesmen untung-rugi jika terdapat jabatan kosong setelah memecatnya. Belum lagi efek rantai karena jiwa korsa antar karyawan.

Lalu, bagaimana sebaiknya melakukan misi penyelamatan organisasi?

Sederhananya, show must go on. Produksi perusahaan harus tetap berjalan. Jika ada karyawan yang under performance, team leader harus segera mengantisipasi agar jangan sampai perilaku ini merembet ke keseluruhan organisasi.

Mau tak mau, ada salah satu atau beberapa rekan kerja yang menjadi back up untuk menyelesaikan porsi kerja rekannya yang under performance. Setelah itu, team leader bisa memilih pola treatment apa yang diberikan kepada karyawan jenis ini.

Team leader hendaknya bisa melakukan asesmen akan masalah, apakah tubuhnya sekedar telusupen, ketusuk paku, atau bahkan ketusuk linggis. Lalu apakah sudah infeksius (menyebar ke seluruh tubuh), ataukah masih lokal pada satu wilayah saja.

Apapun itu, team leader sebaiknya segera mencabut benda yang sedang menusuk tubuhnya. Lokalisir lukanya, segera sembuhkan agar tubuhnya stabil seperti semula. Agar organisasinya tetap berjalan seperti sediakala.

Lalu, apa yang harus dilakukan terhadap benda yang menusuk tadi?

Jika Anda sebagai team leader, apa yang akan Anda lakukan? Memanfaatkannya untuk keperluan lain, atau membuangnya?

Saya ingin dengar pendapat Anda.

Hehe.

Advertisements