Maap sebelumnya buat temen-temen yang uda ngeklik link artikel ini, ternyata page not found. Memang beberapa hari lalu belum saya publish karena belum selesai nulisnya, eeh kepencet publish. Maap, ya.

Kali ini saya coba rangkum apa yang pernah saya jalani dulu sebagai pelaku Multilevel Marketing (MLM), tanpa bermaksud menggurui siapapun yang memang lebih ahli soal MLM daripada saya.

Saya bukan orang yang sukses dari MLM, tapi saya menggemari sesi motivasi dan inspirasi selama di sana. Bagi saya, MLM adalah “sekolah bisnis” saya yang pertama dan paling real aplikasinya.

Artikel ini semata-mata sebagai pengingat buat saya sendiri, bahwa ada beberapa pertanyaan kunci yang sifatnya mendasar untuk dikuasai. Sejak 2006-2012 menjalani MLM, pertanyaan-pertanyaan ini ternyata cukup sering saya temui.

Pertanyaan-pertanyaan ini begitu sederhana, tapi kadang agak ribet jawabnya. Kalau Anda menguasai pertanyaan-pertanyaan ini, boleh dibilang Anda sudah menguasai keseluruhan isi dari presentasi Anda.

Tinggal Anda lengkapi pengetahuan tentang keunggulan produk Anda dibanding produk sejenis, dan apa manfaatnya buat kehidupan pribadi prospektus kita.

Oke. Berikut adalah “Lima Pertanyaan Dasar” yang sering ditanyakan saat Anda presentasi MLM.

(Kita sebut presenter, berarti orang yang sedang mempresentasikan MLM nya. Dan prospektus, berarti orang yang sedang menyimak presentasinya.)

1. Halal atau Tidak?

Pertanyaan yang sering ditanyakan, terutama jika Anda berada di negara dengan penduduk mayoritas muslim seperti di Indonesia. Anda tidak bisa menutup mata dengan adanya fakta ini.

Bahkan sekarang ini halal atau tidak, syar’i atau tidak, sudah menjadi komoditi niaga. Kalau Anda mengabaikan faktor ini, maka Anda mengabaikan pangsa pasar Anda. Halal food, Hijab syar’i, adalah contoh tren bisnis yang sedang berkembang saat ini.

Bagaimana dengan MLM? Sama. Pastikan bahwa produk dan sistem MLM Anda halal. Bahkan terjamin halal oleh lembaga yang berwenang. Ingat, verifikasi halal untuk MLM selalu melihat dua hal: produknya dan sistemnya.

Meski produknya halal, jika dikemas dengan sistem haram, maka nilainya haram. Sistem halal tapi produk haram, ya tentu saja haram seluruhnya.

Produk halal bagi umat muslim sudah fix ditetapkan menurut Alquran dan Sunnah. No pork, no alcohol, misalnya. Atau barang-barang yang berpotensi menjadi pintu syirik, juga haram. Misalnya kalung atau semacam perhiasan yang diklaim “menyembuhkan” tanpa ada dasar ilmiah. Kalaupun mengambil jurnal ilmiah, ternyata rujukannya pseudoscience.

Yang sering menjadi perdebatan adalah sistemnya. Bagaimanakah sistem MLM yang halal? Sederhananya, MLM yang mengutamakan jualan produk. Bukan member get member. Anda sebaiknya mendapat komisi dari jualan produk, bukan dari merekrut member baru.

2. Sistem Komisinya Bagaimana?

Jika menjelaskan keunggulan produk adalah separuh dari presentasi MLM, maka menjelaskan sistemnya adalah separuhnya lagi.

Halal/tidak tentang produknya bisa dilihat dari sertifikasi MUI. Tapi bener/enggaknya sistemnya, OJK yang menilai, bukan MUI.

Pernah denger salah satu oknum MUI juga tersandung kasus money game? Ngga ada hubungannya sama pembahasan kita, sih. Yang jelas, kapasitas MUI bukanlah untuk menilai sistem apa yang dipakai dalam MLM tersebut.

Mengutip dari blog dr. Bram Irfanda, ‘sertifikat halal’ untuk urusan sistem harusnya dari OJK, karena MUI bukan ahli investasi. GTIS (Golden Trader Indonesia Syariah) itu dapat sertifikat halal MUI. Tapi akhirnya ketahuan pake skema PONZI. So, yang menilai investasi ya harus OJK.

Untuk membaca lebih lanjut soal Skema Ponzi, Money Game, dan contoh-contoh MLM abal-abal, silakan kunjungi blog dr. Bram Irfanda di sini.

Ada beberapa prospektus yang tertarik dan ingin tahu lebih dalam soal sistem komisinya. Tapi dijelasin berulangkali pun ia tak kunjung paham. Salah satu cara yang saya lakukan untuk menyederhanakan penjelasan soal sistem komisi adalah dengan melengkapi kalimat berikut:

“Kalau kamu (melakukan ini), maka kamu (mendapatkan itu).” Silakan ganti sendiri frase dalam kurung dengan frase yang sesuai dengan kondisi Anda.

Saya jadi tidak perlu repot-repot menggambar skema yang terlalu rumit, kecuali pada prospektus yang memang gaya komunikasinya adalah visual oriented.

Menjelaskan sistem komisi di awal merupakan hak prospektus dan kewajiban presenter, lho. Semakin paham prospektus akan skema komisinya, semakin memudahkan mereka untuk bekerja. Ujung-ujungnya, semakin memudahkan mereka mengejar impiannya.

3. Legalitas Perusahaannya Bagaimana?

Sistem halal, produk halal, perusahaan abal-abal, bisa dipastikan MLM ini tidak akan everlasting. Salah satu tips bagi Anda yang ingin sukses di MLM adalah dengan mengenali perusahaannya, apa visi misinya, dan siapa saja tokoh di belakangnya.

Tidak perlu silau dengan perusahaan asing yang berkantor di Amerika. Atau punya cabang di banyak negara. Kalau tidak ada perwakilan di Indonesia, coba pertimbangkan lagi. Karena Anda berinvestasi dan mempertaruhkan sebagian masa depan Anda di sini.

Tidak perlu silau juga jika perusahaan ini menampilkan tokoh-rokoh atau artis-artis yang mengendorse produknya. Kita tidak pernah tahu, apakah mereka benar menggunakan produknya, atau justru kerjasama iklan aja.

Mereka bisa aja dibayar sebagai brand ambassador-nya. Lagipula, sebagai sesama manusia, mereka juga bisa salah, kok. Salah pilih perusahaan, hehe. Banyak juga yang tersandung karena mereka mengendorse perusahaan MLM abal-abal.

Jika suatu saat ada masalah, kemana Anda harus menuntut? Maka akan lebih mudah jika ada kantor perwakilannya di Indonesia. Kantor resmi, bukan milik team leader atau upline. Kantor milik perusahaan yang sifatnya beli aset, bukan kontrak apalagi ngekos. Duh..

Perusahaan lokal pun ngga masalah. Asal jelas alamat, bentuk perusahaannya PT atau CV, terdaftar di APLI atau tidak, SIUP TDP nya, sampai akta notarisnya. Kalau perlu nomor NPWP perusahaannya, untuk mengetahui siapa petugas pajak yang membantu mengurus NPWP nya.

Kenapa hal ini perlu? Karena Anda bisa mengontak notaris atau petugas pajak tersebut jika suatu saat perlu melakukan tracking bahwa perusahaan ini didirikan atas nama siapa, alamatnya dimana, dan data-data penting lainnya. Just in case Anda perlu melacak reputasi perusahaan ini, ya.

4. Kalau Saya Rugi, Bagaimana?

“Hoi, wake up! Ini bisnis, Bung! Anda kira ini permainan monopoli atau Line Get Rich, yang kalau rugi ngga sampai membahayakan aset materiilmu? Ini bisnis, Bung, dan selalu ada resiko rugi.”

Setidaknya itulah yang ingin saya katakan kepada prospektus kalau mereka menanyakan hal ini. Dan memang banyak saya temui prospektus jenis ini. Ngga mau rugi, maunya semua aman tentram adil sejahtera. Ini bukan bisnisnya mbahmu, Dul.

Kalau ketemu prospektus jenis ini, saya biasanya ngga sabaran. Pengen saya tinggal dan cari prospektus lain. Bagi saya, mereka adalah jenis orang manja yang selalu nggandholi upline dan sulit untuk mandiri. Kebanyakan dari mereka bakal menyulitkan kerja tim di kemudian hari.

Memang sih, setiap orang berbeda-beda. Tidak semua orang yang tanya akan hal ini berarti manja. Tidak. Karenanya, saya akan ngetes mereka dengan pertanyaan lanjutan, “Rugi seperti apa yang kamu bayangkan?”

Dan kebanyakan jawabnya selalu dua jenis rugi ini: Rugi kalau tidak dapet downline, atau Rugi kalau tidak berhasil jualan produk.

Biasanya, presenter akan terjebak melakukan over-promise kepada prospektus, bahwa “tidak mungkin rugi bergabung di tempat kami”, atau “ada tim yang senantiasa membantu”, atau “tenang, produk kita termasuk digemari masyarakat”, dan semacamnya.

Oke, stop. Jawaban-jawaban itu tidak akan membuat prospektus Anda mandiri, dan membuat mereka semakin tergantung dengan Anda. Jawablah apa adanya, bahwa selalu ada kemungkinan tidak dapat downline dan produk tidak terjual. Kemudian ingatkan kembali, seberapa kuat impiannya untuk mengatasi itu semua?

Dan bukankah dalam MLM kita selalu diingatkan untuk memegang kuat impian-impian kita? Perbedaan orang besar dan orang kecil adalah seberapa konsisten mereka mewujudkan impiannya. Bagi mereka, dua kerugian tadi bukanlah masalah besar, karena impian mereka jauh lebih besar.

Leader terbaik adalah mereka yang berhasil mencetak leader baru, bukan? So, didiklah mereka, cetak mereka sebagai leader yang mandiri. Bukan follower yang nggandholi.

5. Kalau Semua Orang Bergabung, Saya Presentasi ke Siapa Lagi?

Memang pada akhirnya mencapai titik jenuh. Bukan berarti kehilangan peluang mendapatkan downline, tapi faktanya orang yang mau bersusah payah di MLM hanya sedikit.

Sebagai presenter, Anda tidak bisa mengatakan bahwa orang yang memutuskan tidak bergabung di MLM berarti berpikiran sempit dan menolak rejeki. Siapa tahu dia sedang fokus ke bisnis propertinya, dan Anda berada pada level aset yang kalah jauh dari dia. Jangan seenaknya meremehkan. Anda juga bukan Tuhan yang bisa menentukan rejeki seseorang.

Kalau Anda ditolak, sikapi dengan wajar. Hormatilah keputusan orang lain, dan segera cari prospektus lain. Berlama-lama bersama dia yang menolak Anda justru bikin sakit hati. Ya, kan? Sembuhlah lebih cepat, berjuanglah lebih kuat. Berdoalah semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Dan doakan agar dia yang menolak Anda segera disadarkan. Wkwk..

Logikanya sama seperti ketika minimart sudah semakin menjamur di Pulau Jawa. Baru jalan berapa meter, ada Alfamart. Jalan lagi, ketemu Indomart. Jalan lagi, ketemu Alfa Midi. Meski demikian, kenyataan ini tidak menghalangi para pengusaha itu mendirikan minimart baru yang jaraknya ngga terlalu jauh satu sama lain.

Mengapa? Karena mereka yakin ada pasarnya. Di samping itu, mereka juga yakin bahwa rejeki ngga akan kemana. Kalau sudah Tuhan tetapkan buat kita, maka orang lain ngga akan bisa menghalangi.

Kondisi ini tidak akan bisa terjawab oleh MLM yang mengutamakan komisi member get member. Pada suatu titik jenuh, ya makin sulit jualan membership. Ini adalah salah satu hikmah mengapa member get member hukumnya haram dalam Islam. Tapi Islam menghalalkan perdagangan, alias jualan produk.

Meskipun membership sudah mencapai titik jenuh, tapi perusahaan yang mengutamakan jualan produk tetap akan eksis. Sebut saja perusahaan MLM seperti Amway, CNI, Oriflame, Sophie Martin, dan Tupperware. Ini adalah lima perusahaan yang tetap eksis sampai sekarang, dan tiga di antaranya pernah saya ikuti. Hihihi..

Mengapa Harga bukan Masalah Utama?

Ya, harga bukanlah masalah utama. Meski sering ditanyakan oleh prospektus, harga bukanlah inti permasalahan dalam presentasi Anda.

Onok rego onok rupo, kata orang Jawa. Ada harga, ada kualitas. Kalau mau kualitas baik, beli barang mahal. Jangan yang murah. Ini yang dipahami prospektus kita.

Meski kadang harga memicu resistensi mereka untuk mendengarkan sisa presentasi Anda, tapi jika Anda bisa menjawab pertanyaan pertama hingga kelima, maka prospektus tidak lagi mengajak Anda berdebat soal harga.

Saya banyak melihat keajaiban di antara mereka yang saya presentasi. Meski harga jauh lebih mahal dari kemampuan finansial mereka, mereka sanggup mengatasinya, tuh. Prospek jenis ini yang tidak boleh disia-siakan. Kalau bertemu mereka, saya ngga segan-segan menjadikan impiannya sebagai impian saya juga.

Ada niat, selalu ada jalan. Ada impian, selalu ada kemudahan. Ada keyakinan, selalu ada kelapangan. Ada niat, impian, dan keyakinan, maka siap-siaplah mendapat kemudahan-kemudahan tak terduga dari Tuhan. Karena Tuhan selalu bersama mereka yang tak berputus asa akan rahmatNya.

Bagaimana menurut njenengan?

___

pic courtesy of GlobalOneMarketing.com

Advertisements