Baiklah. Artikel ini sengaja ditulis sebagai wujud kegelisahan saya terhadap isu LGBT akhir-akhir ini. Lama saya merenung, bagaimana sebenarnya sudut pandang kita terhadap hal ini. Alhamdulillah, sejauh ini Indonesia tidak sampai melegalkan LGBT. Naudzubillah, jangan sampai.

Tahun 2006an ketika saya terlibat di SCORA CIMSA (Standing Comittee On Reproduction Health and HIV/AIDS, Center of Indonesian Medical Student Activities), istilah LGBT masih disebut LGBTQ. Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, and Queer. Entah sejak kapan kata Queer jadi jarang disebut lagi. Mungkin untuk mengurangi stigma, ya.

Ada yang bilang bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa sudah cukup menjelaskan mengapa kita tidak boleh melegalkan LGBT di bumi Indonesia tercinta. Islam dan Nasrani pun menolak dan menghukum keras atas LGBT ini.

Kemudian pendapat ini disanggah oleh sebagian orang, bahwasanya Tuhan menciptakan perasaan cinta sebagai sebuah keniscayaan. Sebagaimana adanya cinta sesama. Parahnya, sanggahan ini dimuntahkan oleh seorang pakar komunikasi yang, yah, semua orang tahu reputasinya.

Ada juga yang bilang, bahwa LGBT adalah sebagai bagian dari masalah kejiwaan. Sehingga mereka membutuhkan terapi, baik psikofarmaka atau psikoterapi. Pendapat ini kemudian dibantah, toh dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke V (DSM-V) sekarang ini, diagnosis homoseksual dan lesbian telah dikeluarkan, dan tidak digolongkan sebagai gangguan jiwa. Keputusan ini konsisten sejak revisi homoseksualitas dalam DSM II tahun 1973.

LGBT sebagai Salah Satu Problem Kejiwaan

Mungkin sudah banyak psikiater tahu, bahwa 5 di antara 8 perumus DSM-V adalah penganut LGBT. Wajar jika mereka berkepentingan untuk tidak mendiagnosis diri mereka sendiri, sehingga mereka mengeluarkan homoseksual/lesbian dari DSM-V. Apa jadinya jika perumus diagnosis psikiatrik ternyata mengalami masalah psikiatrik juga?

(Kalau orang-orang Barat itu menganggap hasil karya tidak ada hubungannya sama personal life mereka, kenapa mereka khawatir terhadap cap LGBT pada diri mereka, ya? Saya anggap ini sikap double standard. Mereka menganjurkan kepada orang lain untuk membedakan professional life dengan personal life, tapi mereka masih khawatir cap LGBT dalam personal life mempengaruhi professional life mereka. Sehingga mereka merasa perlu mengeluarkan diagnosis homoseksual dan lesbian dari DSM. Persepsi sempit saya, sih.)

Pandangan ini kembali disanggah, karena ada kepentingan gerakan anti-stigma terhadap “penderita” LGBT. Banyak praktisi kesehatan jiwa yang sepakat bahwa sangat perlu dilakukan “penghalusan istilah”. Daripada menyebut “homoseksual”, sebaiknya menyebut “gender disforia”. Mereka berhati-hati memilih kata dalam suatu diagnosis psikiatrik agar tidak menyudutkan penderita. Ini sebagai bagian dari sikap empati seorang psikiater. Nah, saya sangat setuju akan hal ini.

(Bayangkan, untuk menentukan istilah dalam diagnosis, seorang psikiater sangat berhati-hati memilih kata! Nggak heran kalau psikiater memang pandai berkata-kata, wkwk)

Lagipula rumusan terbaru justru menjadi semakin luas dan mencakup semua varian LGBT. Ketika disebut sebagai “Gender Disforia” dalam DSM-V, siapapun yang merasa tidak puas dengan peran gendernya, baik sudah menunjukkan perilaku seks menyimpang atau tidak, sudah masuk dalam diagnosis ini.

Ya. Menyimpang atau tidak. Menyebut “menyimpang” saja sudah menunjukkan bahwa perilaku tersebut di luar garis normal. Jika memang masuk ke dalam diagnosis kejiwaan, maka dibutuhkanlah terapi. Apapun pendekatan terapinya.

Seharusnya negara memfasilitasi legalisasi terapi untuk LGBT, bukan malah memfasilitasi hubungan mereka, dan Masya Allah, sampai terjadi pernikahan sejenis, same-sex marriage.

Sampai di sini saya ingin mengatakan, bahwa saya pro-terapi untuk LGBT. Tapi anti-pernikahan-sejenis. Saya berempati untuk para penderita LGBT. “Penderita”? Ya, disebut “penderita” karena mereka sendiri sedang menderita dalam mencari jawaban atas diri mereka sendiri.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak merasa menderita, bahkan menikmati peran LGBT-nya?

Berempati kepada Mereka

Sikap dasar seorang psikiater dalam memperlakukan pasien adalah berempati kepada mereka. Demikian juga terhadap “penderita” LGBT. Soal ini, saya mengutip (dengan beberapa penyesuaian) kata-kata dari Syeikh Abdul Qadir Al Jailani, “Jika kamu bertemu seseorang, bisikkan dalam hatimu, mungkin kedudukannya di mata Allah lebih tinggi dan lebih baik darimu.” Maka saya tidak berhak menghakimi dia.

Beliau berpesan, “Perilakunya yang demikian di hadapan Allah, disebabkan karena ketidaktahuannya. Sementara saya, bermaksiat di hadapanNya padahal saya paham akibatnya. Dan saya tidak tahu bagaimana akhir umur saya dan akhir umurnya kelak.” Bisa jadi di penghujung hidupnya, ia lebih baik dari saya. Maka, saya tetap tidak berhak menghakimi dia.

Pernah suatu ketika saya membawakan bedah buku berjudul “Sam, Samantha, and Me” di Jombang, Jawa Timur. Buku ini adalah autobiografi dari Sam Brodie, artis Indonesia yang pernah menjadi Top Model di UK. Yang unik, dia menjadi Top Model justru ketika menjadi Samantha, perempuan berusia belasan tahun!

Autobiografi ini cukup mampu menggambarkan teori-teori LGBT yang saya pelajari sebagai residen psikiatri. Sam adalah seorang anak, korban bullying dari ayah kandungnya sendiri. Di usianya yang masih sangat belia, ia pernah menjadi korban sexual abuse oleh tetangganya yang seorang pedofilia. Merasa tidak aman menjalani peran gendernya sebagai anak lelaki, ia menemukan zona nyaman baru ketika menjadi remaja perempuan, Samantha.

Namun pada akhirnya, ia menemukan cahaya dalam hidupnya. Ia rela meninggalkan kehidupan lamanya yang sangat glamor–seorang Samantha, menjadi Sam, lelaki seutuhnya yang bersyahadat pada 2009 lalu, dan menjadi suami serta ayah bagi keluarga kecilnya.

Siapa sangka ia kemudian sampai ke jalan ini? Siapa sangka ia mampu keluar dari kehidupannya yang sedemikian kelam, dan membentuk kehidupannya seperti sekarang ini?

Benar seperti yang dikatakan Syeikh Abdul Qadir Al Jailani. Tidak ada alasan untuk memandang mereka sebelah mata. Mereka juga adalah saudara kita yang perlu dibebaskan dari stigma.

Bisa jadi dia menemukan cahaya di akhir hidupnya, sementara saya meninggal dalam keangkuhan. Tentu di hadapan Tuhan, dia lebih baik dari saya, bukan? Karenanya, saya berempati kepada mereka, sekaligus mencarikan jalan keluar sebagai bagian dari tanggung jawab saya sebagai psikiater.

LGBT layak diterapi

Memahami fenomena LGBT memang serasa diaduk-aduk. Jika berada di posisinya, belum tentu saya bisa setahan Sam. Banyak fenomena sosial yang menyebabkan perubahan psikis seperti yang dialami Sam. Di satu sisi, pemahaman akan LGBT sekarang ini menjangkau hingga tinjauan neurosains.

Sebagaimana pendekatan pemahaman problem kejiwaan lainnya, LGBT adalah salah satu fenomena kimiawi otak sehingga menyebabkan penyimpangan perilaku. Tapi apakah mereka memang dilahirkan sebagai gay? Ternyata tidak.

Studi terkini menunjukkan bahwa tidak ada gen yang benar-benar menggambarkan bahwa seseorang lahir dengan bakat gay. Teori testosterone-exposed pun, hanya menunjukkan perkembangan psikobiologis janin sehingga pada akhirnya terlahir lelaki atau perempuan. Bukan gay atau straight.

Pendekatan neurosains justru menunjukkan bahwa menjadi gay atau straight semata-mata pengaruh nurture (pengasuhan) bukan nature (alami atau genetik). Pada orang tua gay, dimana lelaki yang mengambil peran sebagai ibu, maka otaknya akan berkembang sebagaimana otak seorang ibu. Kesimpulannya, justru pembiasaan perilakulah yang pada akhirnya membentuk jaras-jaras neuron gay dalam otak mereka.

Dengan pendekatan yang sama, kita bisa membantu mereka membentuk jaras-jaras neuron straight dalam otaknya. Seorang psikiater Prof. Dadang Hawari berpendapat bahwa LGBT layak mendapat terapi yang holistik. Tidak hanya person-nya, juga keluarga dan lingkungannya. Lho, lingkungannya juga harus diterapi? Iya. Lingkungan yang seperti apa? Lingkungan seperti organisasi-organisasi LGBT.

Organisasi LGBT adalah sumber munculnya “perasaan diterima” oleh para penderita LGBT. Mereka merasa diterima tanpa stigma. Organisasi semacam ini memberi ruang kepada penderita LGBT untuk bebas berekspresi bersama sejenisnya. Keberadaan organisasi ini dapat menjadi support group yang baik, juga menjadi bibit-bibit gerakan penderita LGBT untuk menyuarakan hak-haknya.

Agaknya kita juga perlu mengingat, selain hak-hak asasi, juga ada kewajiban-kewajiban asasi. Kita terlalu sering bicara soal hak asasi, hak individu, hak pribadi. Tapi kita tidak pernah tahu apa itu kewajiban asasi, kewajiban individu, dan kewajiban pribadi.

Mungkin suatu saat saya ketemu para aktivis human rights ini, saya tanya kira-kira human obligations dalam pandangan mereka itu seperti apa. Bagi saya, orang yang menuntut hak tanpa diimbangi kewajiban tuh seperti abis pup tapi nggak disiram.

Gimana menurut njenengan?

_____

Sumber gambar di sini.

Advertisements