Beberapa waktu lalu saya nonton “500 Days of Summer” di sebuah stasiun TV kabel. Ternyata Summer adalah salah satu nama tokoh perempuan, dan pasangan tokohnya adalah Tom. Saya tidak mengikuti semua ceritanya, hanya beberapa scenes terakhir. Tapi justru ada makna mendalam di sana.

Di scenes yang saya tonton, si Tom lagi duduk di taman, dan baru sadar kalau di dekatnya ada Summer. Mereka baru saja putus. Tapi nggak bener-bener putus. Karena mereka nggak pernah jadian. Mereka dekat satu sama lain, dan Tom menyangka bahwa Summer adalah masa depannya.

Ternyata tidak. Summer tidak pernah merasakan apa yang dirasakan Tom. Tom sempat depresi berhari-hari, menyadari bahwa apapun yang ia percayai ternyata tak lebih dari bualan belaka. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Summer bilang, “With him, I felt what I never felt with you,” 

Wuihh.. Makjlebb, kan..

Tom pengen bunuh diri. Dia lalu mengambil tali, dan menggantung dirinya. Eh, mlorot. Tom nggak punya jakun, lebih tepatnya pemeran Tom, Joseph Gordon-Levitt, bukanlah pria berjakun besar. Jadi lehernya nggak nyangkut di tali. Sudah dicoba berkali-kali, gagal juga.

“Ah, elu sih nggak punya jakun,” kata Summer, “kayak gue dong, punya jakun.” Tom heran, “Lah, kok elu yang punya jakun??” Summer dengan jumawa bilang, “Gue dulunya kan lakik. Trus operasi plastik.”

Ya elaah, untung nggak jadi sama elu, pikir Tom.

Duhai para pembaca budiman, mohon lupakan tiga paragraf di atas. Saya sedang khilaf. Nah..

Rasanya tidak sedikit dari kita yang pernah mengalami hal semacam ini. Ketika kita terlanjur mencintai, tapi yang dicintai tidak pernah merasakan hal yang sama dengan kita. Bahkan, kita sudah merasa mengorbankan banyak hal; korban waktu, korban harta, korban tenaga, korban harga diri, korban perasaan, korban sapi kambing domba (bukan, ding) namun yang kita dapat tak pernah setimpal.

Sakit? Tentu. Tapi, apakah kita akan terus-terusan larut dalam kesedihan? Tidak. Apakah kita akan terus-menerus menyalahkan keadaan? Tidak. Kata orang-orang, daripada mengutuk kegelapan, lebih baik mulai menyalakan api (penerang). Daripada mundur ke belakang, sebaiknya segera move on dan mulai kembali hidupmu.

Meski demikian, kata beberapa klien saya, move on tidak semudah berkata-kata, alias mbacot. Memang tidak. Tidak semudah bacotnya Pak Mario, apalagi bacotnya saya. Ya, move on memang tidak pernah mudah. Tapi percayalah, saya pernah merasakannya.

Takdir yang Tidak Pernah Berpihak

Salah seorang teman saya pernah berkata, “Kalau tempatnya bukan di sini, ya dia tidak akan pernah di sini. Kalaupun dia memaksa berada di sini, Tuhan selalu punya cara untuk membuat dia pergi dari sini.”

Teman saya ini adalah mantan joki. Anda tahu joki? Bukan joki balap motor, tapi joki UMPTN. Ya, Ujian Masuk Perguruan Tinggi. Jaman saya disebut begitu. Sekarang istilahnya SNM-PTN atau SBM-PTN. Bukan juga joki kartun, oh, itu Juki, ya.

Suatu ketika, ada wali murid yang meminta khusus kehadiran dia. Wali murid ini semacam ibu-ibu sosialita. Dan tentunya Anda paham maksud saya, semacam apakah ibu-ibu sosialita itu. 

Mereka punya pengajian serupa arisan, tasbih serupa untaian giok, dan bedak serupa tumbukan berlian yang disapukan ke wajah dan leher mereka. Mereka ini sehari-harinya mandi parfum, sampai-sampai dari jarak seratus hasta masih tercium aromanya. Mereka ini yang kata Rasul saw, harus mandi sampai hilang aromanya kalau mau salat.

Salah seorang ibu tanya kepada teman saya. Tapi sebelum ibu itu bertanya, teman saya tanya duluan, “Ibu kenapa kok berjakun??” Jawab ibu itu, “Eike kan dulu lakik, cyiin.” Kata teman saya, “Kenapa nggak sekalian operasi plastiknya, Mbus? (Panggilan campuran Mas-Bu).” “Embernya abis, cyiin.”

Ya elah, tanda akhir jaman, nih. Ember abis. Eh bukan, sekong ganti kelamin. “Oke, kita simpan dulu persoalan ember,” kata teman saya mencoba bijak, “ibu mau tanya apa?”

“Ini, Mas. Jakun saya, eh bukan, apa ada jaminan kalau pakai jasa sampeyan, anak saya pasti lolos masuk FK?,” kata ibu itu sambil nelen ludah. Jakunnya bergerak ke atas ke bawah.

“Bu, kami akan berusaha semaksimal mungkin,” jawab teman saya dengan meyakinkan, “tapi anak ibu juga harus berusaha. Dia juga harus belajar keras. Jangan mengandalkan sumber dari saya aja.”

“Lho, pakai joki, ngapain harus belajar, Mas??,” si ibu emosi, suaranya berubah nge-bass. Ketahuan deh kalo lakik.

“Besok kalau anak ibu jadi masuk FK,” teman saya mencoba tetap tegar, “saya nggak mau diperiksa sama anak ibu. Awal masuk aja pakai joki, nanti kalau sudah ujian kedokteran, mau gimana, Bu..”

“Lah, kan bukan urusan Mas anak saya nanti gimana. Yang penting kan sampeyan bantu masuk FK nya aja. Beres, to.” Mata si ibu memerah, emosinya memuncak. Dia lalu menyingsingkan baju luarnya, terlihatlah tato di pundaknya: Jagal-Kota. Teman saya bergidik.

“Ya kalau takdirnya nggak masuk FK, mau gimanapun caranya dia juga akan tersingkir dari FK, Bu. Meskipun berhasil masuk pakai joki.” Teman saya berusaha sedingin mungkin.

“Kalau takdirnya masuk FK, ya mau gimana lagi, kan??” Si ibu nggak terima, melepas baju luarnya, terbaca tuntas tato di pundaknya: Jagalah Kebersihan Kota. Ealah.

“Sayangnya takdir nggak pernah berpihak kepada keinginan kita, Bu.”

“Trus berpihak ke siapa?”

“Ya kepada Sang Pemilik Takdir, Bu.”

Keduanya diam. Si ibu tampak merenung. Teman saya menunggu reaksi dari ibu itu. Lalu teman saya merasakan hatinya berdesir, menjadi iba kepada si ibu. Ingin dia membelai rambut si ibu. Tapi nggak jadi karena lakik. Untung inget, pikirnya.

“Hmm, sampeyan bener juga, Mas,” tutur kata ibu ini tiba-tiba menjadi lembut, tidak seperti tadi yang nge-bass dan terdengar marah, “terimakasih sudah diingatkan, Mas..”

“Sama-sama, Bu,” teman saya tersenyum. Gampang sekali mengingatkan ibu ini, pikir teman saya. Semoga si ibu, meski lakik, punya kemauan untuk berubah. Dan Allah melihatnya punya kemauan tulus, sehingga melembutkan hatinya menerima hidayah.

“Lalu, gimana cara kita merayu Sang Pemilik Takdir, Mas?”

“Ngikutin aja apa kataNya, Bu. Trus nggak usah maksiat. Kalau kita istiqamah ngikutin apa kataNya, ibarat nambahin tabungan postif kita ke Tuhan. Kalau maksiat, nambahin tabungan negatif. Kalau amalannya nggak banyak-banyak banget, ya janganlah nambahin tabungan negatif. Malah tekor. Udah. Gitu aja.”

“Gitu aja? Lha Masnya juga masih berprofesi sebagai joki..”

“Iya, saya juga tobat kok, Bu.”

“Kapan, Mas?”

“Barusan, Bu.” 

Ealah barusan to, pikir si ibu. “Oh, sama ya, Mas. Yuk tobat sama-sama, Mas. Saya pengen ngembalikan anak adopsi itu ke orang tua yang sejati, Mas. Biar nggak ketularan setengah lakik gara-gara pola asuh saya.”

“Iya, Bu. Saya nggak akan jadi joki lagi. Saya akan cancel semua deal bisnis joki ini.”

“Saya juga nggak mau makin nggak jelas gini, Mas. Saya tobat deh mulai hari ini.” 

“Alhamdulillah.. Gimana caranya, Bu?,” detik ini teman saya mulai merasa awkward memanggail beliau “Bu”, secara beliau setengah lakik.

“Saya mau pakai jilbab.”

Lho??

A Fresh Restart

Teman saya itu, setelah tobat sebagai joki UMPTN, dia bikin les privat. Lah, malah saingan sama tempat saya. Tapi teman saya ini pandai kolaborasi, apa yang saya tidak punya dia cukupi, apa yang dia tidak punya, saya cukupi. 

Banyak siswanya yang tidak jadi masuk FK, malah mulai berbisnis. Salah satu muridnya menjadi pengusaha kayu sengon di daerah tapal kuda. Ada juga supplier kopi untuk warung-warung giras pinggir jalan. 

Kata teman saya, kalau dulu mereka masuk FK, sekarang ini mereka nggak akan bisa mencapai omzet lebih dari satu milyar di usia dua puluh tahunan. Wah, nyindir saya, nih. Tapi bener juga, sih. Hehe.

Kadang logika manusia nggak akan masuk kalau diajak diskusi soal rejeki. Apalagi soal jodoh, katanya. Padahal, banyak keajaiban justru terjadi setelah kita mampu move on

Coba lihat kelanjutan kisah Tom. Di scenes terakhir itu, ia berusaha membangun kembali hidupnya, memulai kembali kebiasaan-kebiasaan lama yang dulu pernah hilang, sehingga merasa benar-benar berjalan lagi mulai dari nol. A fresh restart.

Baik teman saya dan Tom, baru menyadari bahwa Tuhan menyiapkan pintu lain yang terbuka setelah mereka benar-benar move on, dan menutup pintu lama yang, yahh, memang seharusnya tertutup. 

Tapi.. Mengapa mereka harus mentok dulu, harus tersesat dulu, harus jatuh gulung-gulung dulu, baru menyadari bahwa selama ini mereka salah?

Kadang hidup harus berjalan seperti itu, ya. Mungkin Tuhan punya cara tersendiri untuk mengingatkan hambaNya, bahwa pilihannya salah, dan Dia punya jawaban yang benar. 

Ya. Takdir tidak pernah berpihak kepada keinginan kita. Tapi Tuhan sudah membuatkan pintu rejeki kita di tempat lain. Lalu buat apa Dia susah payah seperti itu? 

Kata teman saya, “Karena Dia mau pilihan yang terbaik buat hambaNya. Karena Dia sayang kita. Karena kadang, kita nggak paham dengan peringatan-peringatanNya yang kecil-kecil, luput dari mata, hingga Dia merasa harus “menampar” kita.” 

Ya ya, masuk akal, saya bilang.

Dan di scenes terakhir “500 Days of Summer” itu, Tom memutuskan melamar pekerjaan baru yang sesuai dengan keahliannya: arsitek.  Saat mengantri wawancara, ia hampir melewatkan berkenalan dengan seorang perempuan, yang tentunya, kompetitornya dalam mendapatkan pekerjaan itu.

Tapi Tom memutuskan mengambil peluang. Ia berkenalan, dan nama perempuan itu adalah: Autumn.

Untungnya Autumn bukan perempuan berjakun. Hehe.

___

Sumber gambar di sini.

Advertisements