Jujur, saya belum pernah sekalipun mencoba layanan Gojek, menginstall aplikasinya, apalagi mem PHP Mbak-mbak driver Gojek itu. Serius, belum pernah. Kecuali kalo mbak-mbak itu baper (bawa perasaan), ya sorry to say, biasanya saya ngga sengaja mem PHP. Haha.

Sampai di sini, apa sudah ada yang pengen muntah?

Kalau belum ada, syukurlah. Kalau sudah ada, ah, saya yakin sebenarnya alam bawah sadar Anda mulai mempertimbangkan apa yang akan saya katakan, mulai menikmati, pada akhirnya meyakini. Bukan sekarang, tapi pada akhirnya. Hehe.

Di tulisan saya sebelumnya tentang 500 Days of Summer, pernah dibahas apa itu move on. Apa, hayo? Ada yang masih ingat? Atau punya definisi lain? Jawaban terbaik berhak mendapatkan nomor hp mbak-mbak Gojek. Jawaban terburuk akan mendapat hukuman, jadi korban PHP nya mbak-mbak Gojek. Yakni nggak boleh salim tangan. Xixixi..

  
Yang paling gampang, move on itu kalau kamu tidak lagi merasa pedih, perih, atau kangen sama hal-hal yang sudah bikin kamu sakit hati. Kamu justru akan tersenyum, karena pernah mendapatkan pengalaman yang mendewasakanmu. Kamu mendapati bahwa dirimu jauuuuh lebih baik, sehingga kamu bisa lebih bersyukur karenanya.

Move on adalah ketika kamu menerima masa lalumu, sehingga kamu mampu menikmati hidupmu sekarang ini. Ya. As simple as that. Tapi prakteknya ternyata nggak sesimpel itu.

The Law of Gonita

Mungkin cerita singkat ini sudah pernah Anda dengar di media sosial, tapi coba saya terjemahkan menurut pengalaman salah satu mbak driver Gojek ini.

Mari kita panggil dia Gonita (singkatan dari Gojek Wanita). Suatu ketika teman saya yang perempuan pernah berboncengan dengan dia, dari Keputih menuju tengah kota. Mereka harus bersabar lantaran jalannya sempit, sementara volume kendaraan area sini makin bertambah semenjak dibangunnya apartemen itu. 

Si Gonita nggak bisa menyalip dong, karena dari arah yang berlawanan juga banyak kendaraan. Ditambah lagi, mereka berada di belakang truk sampah yang baru saja membongkar muatannya di TPA Keputih. Parfum Gonita yang harum mewangi sepanjang hari, tertutupi aroma sampah, sampai-sampai teman saya mencopot hidungnya dan memasukkannya ke dalam saku. 

Eh bukan, tapi meminjam hidung Gonita. Eh bukan juga, tapi menutupi hidungnya dengan tangan. Pastinya tangannya sendiri. Ya iya, lah. Masa pinjem tangannya Gonita. Kalau pinjem, teman saya bakal bilang, “Pinjem tangannya dong?” Buat apa?, tanya Gonita. “Buat menyematkan cincin di jari manismu.” Eaaa.

Lho he, mereka kan sesama perempuan. Wah, guyonan akhir jaman, nih.  Guyon LGBT. Tahu Guyon LGBT? Temennya Guyon Itik. Oh, itu Goyang, dink. Goyang Itik.

Oke, back to topic. Maaf atas paragraf absurd di atas.

Bayangkan, seriap kali melewati jalan berlubang, truk sampah ini akan bergetar, dan bak yang terbuka itu akan menjatuhkan sisa-sisa sampah yang nggak terbuang sempurna. Sampah itu melayang, lalu menempel ke kaca helm Gonita. 

Padahal, Gonita sudah berusaha menghindari sekuat tenaga, namun yang namanya sampah-sampah itu tetap beterbangan ke arahnya. Mau nggak mau, sebagian sampah menempel ke helm dan jaketnya, dan sempat membuatnya tidak bisa melihat jalan dengan leluasa.

Teman saya jadi berempati, ikut merasakan apa yang dirasakan Gonita. Berangkat cantik, sekarang lusuh, bau sampah pula. Teman saya merasa bahwa Gonita mencari-cari celah untuk menyalip truk sampah ini. Motor yang mereka naiki mulai menyapu ke kiri ke kanan. Begitu kendaraan depan sepi, dia banting stir ke kanan dan menyalip truk itu. Berhasil! Yeay!

Lalu mereka merayakan kemenangan dengan mengepalkan tangan di udara, dua jari membentuk peace-sign, lalu bergoyang itik di atas motor. 

Nggak, dink. Nggak segitunya.

Yang menarik saat menyalip, Gonita justru melambatkan motornya, membuka kaca helmnya, lalu melambai ke arah sopir truk. “Mari, Mas,” katanya sambil tersenyum.

Bayangkan, Kawan. Di hari yang terik, saat muatanmu penuh dengan sampah, dan jalanmu tak semulus yang kau rencanakan, tiba-tiba muncul perempuan yang menyapamu dengan senyuman manisnya.. Ah, langsung cesss.. Hati ini adeeem dibuatnya. 

Saat itulah kamu merasa, di-PHP seribu kali olehnya pun nggak masalah. Karena  setiap harinya kamu telah memanggul sampah kehidupan yang mestinya kamu buang, tapi entah kenapa kamu masih.. dan masiiih saja memanggulnya.

Senyumnya ibarat obat, yang bahkan kamu rela overdosis dibuatnya. Haha. 

Hush, fokus, fokus! Dan fokus kita bukan sopir truknya (alias: kamu) tapi Si Gonita.

Mengapa Gonita ini masih bisa tersenyum manis, meski sopir truk tadi menjatuhkan sampah-sampah ke arahnya? Kata teman saya, Si Gonita sebenernya tahu sih, kalo sopir truk itu nggak sengaja. Tapi tetep aja jaketnya jadi bau karena sampah. Dia juga hampir selip gara-gara nggak leluasa liat jalan.

Jawaban Gonita cukup simpel tapi sangat menohok. Katanya, “Di dunia ini, bakal banyak orang-orang yang menjatuhkan sampahnya ke arah kita. Baik sengaja maupun nggak sengaja. Mereka nggak merasa rugi kok, lalu ngapain kita susah-susah mungutin sampah mereka. Itu kan sampah mereka, bukan sampah kita.”

Ya kan?

Sudah Move Tapi Belum On

Hampir setahun yang lalu saya mendengar kata-kata ini, “Sudah move tapi belum on.” Salah satu trainer didikan Kakek Jamil Azzaini pernah membuat tagline ini untuk pelatihan yang ia bawakan. Saya sendiri nggak tahu apa maksudnya, tapi coba kita analisis dari kisah Gonita di atas.

Seandainya Si Gonita tetap berada di belakang truk sampah itu, apa yang terjadi? Tentunya semakin banyak sisa sampah yang menempel di tubuhnya. Sebagus apapun dia menghindar, sedikit banyak akan ada resiko terkena sampah-sampah itu.

Selain itu, energinya akan habis hanya untuk menghindari sampah orang lain. Waktunya akan habis hanya untuk mengurusi sampah orang lain. Pikirannya sampai lelah karena memikirkan bagaimana bisa survive dari sampah orang lain.

Ini namanya “Sudah Move tapi belum On.” Kesannya kita sibuk, tapi hidup kita tidak mengarah kemana-mana. Karena kita terlalu fokus memunguti sampah orang lain. Secantik apapun dandanan awal kita, sewangi apapun parfum kita, tetap jadi rèmbès (dekil) dan bau gara-gara sampah.

Lalu bagaimana cara agar Total Move On?

Pakai cara Gonita. Selalu cari celah (peluang) untuk selangkah ke depan. Fokus memperbaiki diri. Ketika berpapasan pun, Si Gonita tidak mencibir sopir truk sampah itu. Ia malah dengan santunnya menyapa si sopir truk. Ia tidak memutus silaturrahim dengan orang yang menyakitinya. 

Meski ia tidak memutus silaturrahim, ia tidak perlu terus menerus berada di samping truk atau di belakangnya. Karena ia tahu, hidupnya harus dan telah menjadi lebih baik. Ia fokus, dan fokus saja untuk memperbaiki diri.

Pada akhirnya ia berada di depan. Ia telah mengendalikan hidupnya sendiri, tanpa harus menyakiti orang lain. Kalau ia menyakiti, apa bedanya ia dengan truk sampah itu? 

Meski kadang kenyataan tak seindah harapan, tapi ia yakin, Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagi mereka yang teruuuuus menerus memperbaiki diri.

Ya kan?

  
Gimana menurut Njenengan?

___

Sumber gambar dari grup whatsapp.

Advertisements