Dari semua wejangan soal move on, yang satu ini adalah yang paling saya gemari. Wejangan lama sih, dan saya yakin di antara para pembaca sudah pernah mendengar kisah ini. Hanya saja bagi saya, wejangan ini datang di momen yang sangat tepat.

Suatu ketika di hari Sabtu, kami sekeluarga sedang ngobrol. Keluarga besar. Pakdhe-pakdhe dari bapak, paman-paman dari ibu, semua kumpul malam itu. Kami sedang merancang apa saja yang harus dikatakan kepada calon mertua keesokan harinya.

Tiba-tiba Pakdhe Woyo meminta saya me-refill kopi dari termos yang ada di dapur. Ternyata Pakdhe mengikuti saya hingga ke dapur. Lalu meminta saya duduk, menemaninya ngopi.

“Kamu sudah siap?,” tanya Pakdhe. Beliau nyruput kopinya pelan-pelan, sambil merem-melek. Kelihatan menikmatiii sekali. Saya jadi pengen ikut ngopi sambil merem-melek.

“Inggih, Pakdhe. Insya Allah siap,” jawab saya singkat. Aroma kopi beliau mulai menggelitik saya. Saya merem-melek.

“Yang dulu sudah kamu beresin?,” suara Pakdhe memberat. Wajah Pakdhe mendadak serius.

Hah, diberesin?, batin saya. Pertanyaan Pakdhe Woyo mulai mirip boss mafia yang tanya sama anak buahnya. ‘Diberesin’, kalau dalam termin mafia sama dengan ‘dihilangkan tanpa jejak’. Widiw, serem amat.

“Diberesin maksudnya bagaimana, Pakdhe?”

“Sudah resmi pisah, kan?”

“Iya, Pakdhe.”

“Semua urusan sudah beres?”

Oh, ini to maksudnya. “Iya, alhamdulillah sudah, Pakdhe. Insya Allah.”

“Nah, gitu. Berarti sudah siap sama yang sekarang?”

“Bismillah, siap Pakdhe.”

“Syukurlah, alhamdulillah. Lalu, ngapain dari tadi kamu merem-melek?”

“Oh, maap, Pakdhe,” saya hanya tersenyum kecil, malu mengakui bahwa saya merem-melek gara-gara mambu kopi. Kami tertawa lega. Saya lalu nyruput kopi.

“Lho, itu kopinya Pakdhe!”

“Oiya, maap Pakdhe,” lalu kopinya saya muntahin ke dalam cangkir.

“Ngapain kamu muntahin ke situ??”

“Oiya, maap Pakdhe,” lalu kopinya saya sruput lagi.

“Itu kopinya Pakdhe!”

“Oiya, maap Pakdhe,” lalu kopinya saya muntahin lagi.

Nah.. Gitu aja terus sampai taon depan.

Monkey and Its Nuts

Akhirnya Pakdhe Woyo mengambil cangkir lain dan menuangkan kopi untuk saya. “Yang penting sudah beres semua, ya,” kata Pakdhe sambil melirik kopi berbusa akibat sruput-muntah saya. Pakdhe bergidik. Lalu Pakdhe menuangkan secangkir kopi baru untuknya sendiri.

“Pokoknya kamu lepaskan semua ya, Fid. Lepaskan semua. Kalau tidak bisa dipegang, ya dilepas aja. Jangan ada yang ditahan-tahan. Keluarkan aja semua. Muntahkan aja, sampai habis tanpa sisa.”

Saya lalu mengambil kopi Pakdhe yang baru.

“Woy! Bukan itu yang dimuntahin,” kata Pakdhe.

Saya letakkan kopi Pakdhe ke tempatnya semula.

“Maksudnya muntahin aja semua kenanganmu soal yang dulu. Memang sulit dihapus, tapi kamu bisa menjadikannya pelajaran agar jadi lebih bijak daripada sebelumnya.”

“Insya Allah, Pakdhe.”

“Pernah dengar kisah tentang cara orang Afrika yang memburu monyet?,” tanya Pakdhe. Pandangannya tajam ke arah saya ketika menyebut ‘monyet’.

Meski tidak ada korelasi antara saya dan monyet, setidaknya Pakdhe sempat membuat saya berpikir, apakah saya sewaktu-waktu berubah menjadi monyet. Semacam Son Go Ku gituh. Mungkinkah, ini rahasia yang belum saya ketahui sejak lahir. Jangan-jangan, orang tua saya adalah keturunan bangsa Saiya. 

Duh, apa sih.

“Orang Afrika punya suatu wadah yang terbuat dari kandung kemih hewan ternak. Menyempit di lehernya, namun menggembung di perutnya. Mereka mengisi wadah itu dengan kacang yang telah difermentasi, sehingga aromanya sangat kuat.

“Aroma ini akan tercium hingga beberapa meter jauhnya, dan menarik perhatian monyet-monyet. Apalagi monyet yang lapar. Orang Afrika menanam jebakan ini dalam tanah, hingga tersisa mulut wadahnya yang tersembul keluar. Monyet akan berusaha mengambil kacang itu dari dalam wadahnya. Dia harus melewati lehernya yang sempit, untuk mencapai perut wadah.

“Ketika monyet berhasil meraih kacang, tangannya justru tak bisa keluar. Mengapa? Karena ada perbedaan antara luas penampang tangan yang menggenggam dengan yang tidak. Semakin banyak yang ia genggam, semakin sulit tangannya keluar. Kalau monyet itu mau melepaskan genggamannya, maka tangannya mudah sekali untuk lolos dari leher yang sempit.

“Sayangnya, monyet ini tidak ingin melepaskan kacang dalam genggamannya. Saking inginnya mendapatkan kacang, ia rela menukar dengan nyawanya.”

Poor monkey.

Butuh Keberanian

Monyet itu memang cerdik, tapi tidak cukup cerdik ketika lapar. Sama seperti kita, tidak cukup cerdik ketika butuh perhatian. #eciee

Sudah banyak kasus yang kami tangani di poli konsultasi, ketika seseorang sedang mengalami krisis, pasti membutuhkan bantuan orang lain. Sama halnya untuk urusan hati.

Sialnya, orang yang kita harapkan justru tidak memberi perhatian sesuai keinginan kita. Orang-orang semacam inilah yang dibahas oleh Pakdhe Woyo tadi, “Kalau tidak bisa dipegang, ya dilepaskan.”

Melepas sesuatu yang sangat diinginkan memang tidak gampang. Butuh keberanian untuk melangkah dan membuat zona nyaman baru. Kadang kita terlalu takut untuk melakukan sesuatu yang baru, yang samasekali berbeda dengan rutinitas.

Mengapa perlu melakukan sesuatu yang samasekali berbeda dengan rutinitas? Agar kita mendapatkan hasil yang berbeda. Agar kita bertemu dengan orang yang berbeda, yang lebih baik tentunya.

Coba kita simak petuah Abah Einstein, “Yang disebut gila adalah jika engkau melakukan hal yang sama berulang-ulang sambil mengharapkan hasil yang berbeda.”

“We are not monkey that hold its nuts*,” kata Pakdhe Woyo. Ciee, tumben Pakdhe pakai english. Kekinian bingits.

Saya raih tangannya lalu salim penuh takzim, terharu karena Pakdhe memberi wejangan yang sangat keren. Pakdhe tersenyum dan membawa kopinya pergi, kembali ke rapat keluarga untuk acara lamaran saya esok hari.

Saya puas. Saya sruput kopi di depan saya, membayangkan betapa seru dan menarik hidup saya nantinya. Masya Allah, alhamdulillah. Sudah lama saya tidak senyum-senyum sendiri seperti ini. Saya reguk habis kopi saya, lalu gabung dalam rapat keluarga.

Dan saya baru nyadar kalau itu kopi muntahan saya.

Widih!

___

*nuts = kacang, gila/kegilaan.
Sumber gambar: livescience.com

Advertisements