Tulisan ini terinspirasi setelah dia, yang saya cintai, bercerita bahwa salah seorang temannya bermimpi almh. Nuzul akan datang ke acara kami. Subhanallah. Meski ia telah tiada, tapi senantiasa mendapat tempat di hati kami. Allahu ar rahmaan ar rahiim.

Sudah hampir satu bulan, berita duka tentang mereka tersiar. Tapi sampai sekarang, saya masih belum bisa untuk tidak memikirkan mereka. Kecuali Fahrul, Nuzul dan Dokter Warih telah dipanggil Yang Kuasa. Innalillahi wa inna ilaihii raajiuun. Semoga mereka berdua saat ini berbahagia dalam rahmat Tuhannya.

Saya tidak begitu dekat dengan mereka, namun saya berada di lingkungan yang hampir tiap waktu membicarakan mereka. Apa begini nantinya jika saya pun telah meninggal, ya? Semoga hal ini mengingatkan saya, bahwa ajal tidak akan pernah mau menuruti rencana-rencana manusia.

Antara Vonis Dokter dan Takdir Tuhan

Dokter tidak pernah diajari bagaimana menebak takdir Tuhan. Dokter hanya diberitahu, bahwa penyakit tertentu memiliki peluang sembuh yang kadang tidak sesuai dengan keinginan manusia.

Dokter tidak pernah tahu sampai dimana Tuhan menahan nafas seseorang, hingga akhirnya diambilNya kembali. Tapi dokter tahu, bahwa metode tertentu bisa membantu penderita agar terangkat rasa sakitnya.

Dokter tidak pernah tahu, ikhtiyar manakah yang akan dikabulkan Tuhan. Tapi Tuhan tahu, bahwa mereka yang senantiasa menyempurnakan ikhtiyar adalah mereka yang mendapat rahmat di sisiNya. Bagi mereka yang beriman, sesungguhnya mereka tidak mati. Melainkan mereka senantiasa hidup di sisi Tuhannya.

Demikian juga Nuzul, Dokter Warih, dan Fahrul. Mereka selalu dibicarakan kebaikan-kebaikannya. Saya menjadi saksi, bahwa mereka telah mendapat tempat di hati kawan-kawan kami. Dan semoga, dengan doa-doa dari kami yang penuh dosa ini, Tuhan berkenan mencatat amalan-amalan mereka, mengampuni dosa-dosa kami dan mereka, dan menempatkan mereka di tempat terbaik di sisiNya.

Antara Impian dan Semangat

Anda bisa bayangkan, ketika harus setiap hari menahan sakit, ketika setiap saat harus berjuang keras melawan penyakit. Saya yakin, Anda akan sulit berpikir jernih. Anda akan lupa bagaimana caranya berpikir positif. Mungkin inilah yang dirasakan Nuzul saat itu.

Penyakit kronis yang dideritanya memaksanya memangkas impian-impian yang pernah dibangunnya dulu. Impian-impian yang pernah menggodanya, saat pertama kali diterima sebagai mahasiswi kedokteran. Impian-impian yang pernah terbayang jelas, dan kini pudar karena harus ketat menjaga diri.

Impian-impian itu pula yang dimiliki Fahrul. Hampir semua kawan yang menjenguknya bercerita, bahwa Fahrul memiliki semangat yang luar biasa. Ia tak pernah mengeluh di depan kami, bahkan ia berkata kepada saya, “Saya menikmati kok, Mas. Saya jadi punya banyak waktu mengingat Allah sekarang.” Ya, Mas. Jawab saya dalam hati. Allah sedang mempersiapkan balasan terindah atas kesabaranmu.

Fahrul selalu bisa menyimpulkan senyum, dan fasih berkata “Insya Allah” setiap kali kawan kami mengatakan, “Harus semangat, ya.” Semangat itu tetap memancar di balik kesederhanaan sikap dan tutur katanya.

Antara Kesederhanaan dan Kemewahan

Kesederhanaan itu pula yang dimiliki Dokter Warih. Siapapun yang mengenalnya, pasti setuju bahwa Dokter Warih adalah sosok sederhana. Dokter Warih selalu mampu menyelipkan makna di tengah-tengah ia mengajar, kedalaman filosofinya mengesankan bahwa beliau sosok bijak bestari; sesuatu yang saat ini sudah jarang dimiliki oleh para pengajar. Kesederhanaan sikapnya justru memancarkan kemewahan cara berpikirnya.

Dokter Warih tidak pernah beradu pandang dengan lawan bicaranya. Bukan menghindari, tapi lebih karena menahan diri. Beliau menahan diri agar tutur katanya berhenti untuk menginspirasi, bukan mengintimidasi. Dokter Warih sangat menjaga dirinya ketika berbicara.

Dokter Warih adalah seorang kepala keluarga, yang berjuang keras menafkahi keluarganya. Demikian juga Fahrul. Mereka punya anak-anak, sementara Nuzul adalah anak pertama yang telah piatu beberapa waktu lalu. Nuzul menggantikan peran ayah-ibunya untuk bekerja.

Mereka bertiga punya kesamaan: sosok yang sederhana namun istimewa, tulang punggung keluarga, dan ahli surga.

Insya Allah.
____
This writing is dedicated to them. Semoga menjadi doa, yang nantinya kembali juga kepada kami. Aamiiin..

Advertisements