Dengan tidak bermaksud menyinggung siapapun, tulisan ini dibuat sebagai refleksi diri. Baik saya sebagai residen maupun masih dokter muda (DM). Di kampus saya, adalah sangat wajar bila seorang kakak kelas dihormati. Mereka ibarat guru kedua.

Sebelum staf pengajar menguji, residen diwajibkan memberi materi penyegar kepada DM. Jika ada DM yang kesulitan saat ujian, pasti residen jadi tersangkanya. Di saat-saat seeprti itulah kemudian muncul “sifat asli” seorang residen sebagai pembimbing ilmiah.

Tulisan ini saya lengkapi dengan ciri kepribadian dasar di masing-masing tipenya. Agar pembaca sekalian bisa emmbayangkan, dan memahami psikodinamika di balik tipe-tipe tersebut. Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, jadi silakan dibantah dan dikoreksi. Atau Anda tertantang untuk meneliti? Hehe.

Yuuk, tareek Maang..

1. Tipe JAGAL

Basic personality: Dominance

Namanya juga jagal. Apapun bisa jadi alasan untuk menjegal, menjagal. Dia tidak berminat menguasai materi ilimiahnya. Dia lebih berminat menunjukkan kemampuannya berkuasa atasmu. Dia enggan belajar, dan tertutup dengan hal-hal baru.

Tidak peduli kamu benar atau salah. Aturan no.1: Dia selalu benar. Aturan no.2: Kalau dia salah, kembali ke no.1. Baginya, kamu adalah obyek proyeksinya, a.k.a kambing hitam.

Yang harus kamu tahu, tipe ini tidak bisa dibantah. Karena sebenarnya, di balik karakter dominan, tersimpan rasa insecure yang besar. Dia tidak ingin tampak direndahkan. Maka ia merendahkan dulu. Dia tidak ingin tampak disalahkan. Maka ia menyalahkan dulu.

Rasa insecure ini yang kadang membuatnya tampak agresif. Kamu tahu kucing betina yang sedang melindungi anak-anaknya? Ya itulah dia. Sayangnya, anak-anaknya semu. Yang benar-benar ia lindungi hanyalah egonya.

Dia akan bermain aman. Jika ada kesalahan, kesalahanmu. Jika ada keberhasilan, keberhasilannya. Rempong, kan?

2. Tipe TUKANG

Basic personality: Avoidance.

Sebenarnya, tipe ini baik. Karena berusaha menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Sayangnya, dia hanya mengoreksi konteks (bungkus). Bukan konten (isi). Mereka mirip editor, tapi tanpa kerangka konseptual.

Mereka merasa tidak perlu memahami isi. Jika kita bertanya, dia akan balik bertanya, “Lha kamu sendiri gimana, lho?” Lalu ia akan berkata bahwa ia hanya mengoreksi apa yang sudah kita tulis. Jadi kalau ada apa-apa, ya salahmu. Bukan salah dia.

Seorang pembimbing bisa terjebak pada tipe ini karena dua hal: Urusannya banyak atau dia yang tidak bisa atur waktu. Kejam, ya? Tapi itulah kenyataannya. Mereka yang cenderung avoidance seringkali akibat terlalu banyak hal yang harus diselesaikan. 

Seakan-akan waktu mereka sangat sempit untuk membimbing ilmiahmu. Jadi waktunya hanya cukup untuk mengoreksi ketikanmu, bukan tulisanmu. 

Sayangnya waktu yang sempit ini tidak dibarengi komitmen untuk belajar bersama. Katakanlah, ia super sibuk. Tapi saat berhadapan denganmu, ia bersedia menyimak. Ia mau merendahkan dirinya untuk belajar bersama anak didiknya. 

Atau karena sempitnya waktu. Ia akan men-take over semua kerjaanmu. Dan mengerjakannya sendirian. Baginya, membimbingmu adalah menghabiskan waktunya yang berharga. Ini tipe tukang yang kedua. Tukang Obsesif.

Si Tukang Obsesif ini tidak mementingkan proses. Tapi hasil. Seakan dia bilang, “Kerja itu kayak gini, bukan kayak gitu.” Dan dalam hatimu bilang, “Iya wes Dok, kerjain aja semuanya. Alhamdulillah.”

Kamu senang karena dibantu. Padahal, tidak ada transfer of knowledge di antara kalian. Tapi terjadi simbiosis mutualisme di sini: Kamu terbantu selesai, dan imej dia sebagai pembimbing yang baik akan terselamatkan.

Sayang, sungguh sayang.

3. Tipe PELATIH.

Basic personality: Curiosity.

Sekilas, tipe ini akan banyak mendiktemu ini-itu. Ia akan menambahimu beban dengan berbagai koreksinya. Malah, ia tak segan merepotkanmu dengan memintamu mencari jurnal pendukung lebih banyak.

Pembimbing seperti ini akan meminta banyak waktu darimu. Dan kamu, secara natural, akan menghindari pembimbing seperti ini. Bagimu, mereka killer. Bagimu, mereka pembantai. 

Bagimu, mereka idealis. Sulit dibantah. Sulit dibengkokkan. Mereka tidak segan-segan mengulitimu, dan membuka aib penelitianmu, lalu membunuhmu pelan-pelan.

Tapi, banyak orang di tangannya yang sukses. Banyak yang pernah dibimbing olehnya, justru mendatanginya berulang kali. Berkali-kali. Lagi, dan lagi. Jadi ketagihan. Ketagihan sukses. Ketagihan nggenah. Meskipun harus berdarah-darah.

Karena pembimbing ini mampu melihat kejanggalan-kejanggalan. Kamu tahu blind spot? Bahkan petinju terhebat sekalipun membutuhkan pelatih. Karena pelatih mampu melihat yang tidak mampu kamu lihat. Ini namanya blind spot.

Sesuai karakternya, ia sangat curious. Ia sangat ingin belajar sesuatu. Ia mau duduk bersama denganmu untuk belajar lagi. Inilah sikap yang harus dimiliki ketika terlibat dalam kepenulisan ilmiah.

Tapi tipe ini bisa bersikap seperti jagal. Terutama kalau ia tahu kemampuanmu, tapi kamu menyerah begitu saja. Maka ia memilih untuk mengulitimu. Agar terganti dengan kulit yang lebih baik.

Ia juga bisa seperti tukang. Terutama kalau kamu terlampau santai. Lupa waktu. Lupa deadline. Maka ia akan membantumu. Tapi inilah terakhir kali ia membimbingmu. 

____

Jadi, kamu pernah bertemu tipe pembimbing yang mana?

Advertisements