Kadang menjadi obsesif itu ada gunanya. Kamu tahu obsesif, Bro? Obstruksi saluran fifis. Eh, salah. Obsesif itu memikirkan sesuatu berulang-ulang. Seperti aku yang memikirkan kamu. Iyaa, kamuu. Sampai aku terganggu. Itu obsesif. Kalau belum terganggu, bukan obsesif namanya. Kangen aja. (Ini nulis apa, sih?)

Temennya obsesif, kompulsif. Kompulsif itu melakukan sesuatu sampai berulang-ulang. Contohnya. Abis ngecek fesbuk, ngecek path. Abis ngecek path, ngecek IG. Abis IG, telegram. Abis telegram, fesbuk lagi. Path lagi. IG lagi. Dan seterusnya. 

Kalau nggak ngecek, nggak enak. Akhirnya ngecek terus berulang-ulang sampai ulang tahun Saitama ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Obsesif, bisa terjadi tanpa diikuti kompulsif. Cuman kepikiran doang. Gelisah, tapi nggak tau harus ngapain. Ibarat jomblo gagal move on. Atau melamar anak orang, tapi jawaban bapaknya, “Maaf, kamu kurang cepet, Mas. Anak saya sudah dilamar duluan.” Gundah gulana, tapi tak bisa apa-apa.

Tapi kompulsif, selalu diawali obsesif. Sangat jarang kompulsif tanpa disertai obsesif. Ibarat kata, bila terjadi kompulsi, pasti ada obsesi. Kayak kamu yang ngecek whatsapp berulang-ulang, padahal dia nggak mungkin bales WA mu. 

Di meja makan kepikiran dia, trus ngecek WA. Di toilet kepikiran dia, trus ngecek WA. HP kecemplung dalam toilet, kamu ambil, trus ngecek WA.

Itu yang terjadi pada saya. Eh, bukan HP kecemplung toilet. Tapi obsesif-kompulsifnya. Alhamdulillah sampai sekarang saya ngga pernah njatohin HP dalam toilet. Maap ya, HP jatoh? Heh, gak level. Wong sugih, og. Ipad dong. Ipad pinjeman. Hehe.

Setiap pagi, ritual obsesif-kompulsif saya mesti kumat. Tas bakal saya bongkar. Lalu saya susun lagi. Dari awal hingga akhir. Buku harus tersusun mulai besar hingga kecil. Charger harus digulung. Kalau menyusun baju, akan saya urut mulai dari yang paling awal keluar sampai paling akhir keluar. Kalau ada yang nggak cocok, saya bongkar lagi semuanya. Iya, semuanya.

Ini yang membuat istri saya sering protes. Mandi sudah subuh tadi, tapi baru selesai menata barang jam7. Akhirnya saya berangkat terburu-buru. Begitu ada yang ketinggalan, nyeseknya bukan main. Ibarat Christiano Ronaldo yang gol bunuh diri di gawang sendiri. 

Iya, saya tau. Nggak mungkin CR7 kayak gitu. Tapi bayangkan perasaan CR7 yang gol bunuh diri. Ada perasaan sedih, mangkel, merasa paling oon sedunia, juga cemas berlebihan karena bakal dibully fansnya. Dan fans saya yang paling berharga dan satu-satunya adalah istri saya. Tapi sore itu saya mendapat respon berbeda dari istri.

Sore itu, dalam kereta dari Lempuyangan menuju Gubeng, istri bertanya. “Bi, kunci motor disimpen dimana?” Saya langsung melompat kaget. “Lho, nggak ada, Ma.” Istri mengira saya bercanda. Oh, daku serius, Sayang. Daku hafal semua isi tas berikut posisinya. Dan kunci motor tidak termasuk daftar barang yang ada dalam tas. Lalu dimana?

Semua barang kami keluarkan. Sela-sela tas kami periksa. Berulangkali saya berdiri, menurunkan tas, dan membongkar isinya. Iya, bongkar tas dalam kereta! Kami melakukannya tanpa suara. Tapi riwehnya bukan main. Seperti gas belakang yang berbau. Tak berbunyi, tapi bikin ribut. Duh.

Saya keluar-masuk kereta cari sinyal. Seperti ingus. Keluar-masuk hidung. Saya coba telepon ke Stasiun Gubeng dengan harapan bisa melacak keberadaan kunci kami. Silly, right? Cara yang tidak efektif. Apalagi saat itu hari libur. Siapa yang di kantor? Tapi setidaknya saya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Istri pun mencoba menelepon ke hotel. Jangan-jangan tertinggal. Tapi nihil.

Merasa tidak ada lagi yang bisa kami lakukan kecuali menunggu sampai Gubeng, kami pasrah. Sepanjang perjalanan pulang di kereta. Saya kepikiran. Apa yang salah dari cara saya menyimpan barang?

Saya selalu menyimpan kunci dalam satu tempat. Kunci mobil, kunci loker, kunci rumah, semua jadi satu. Tapi kenapa kunci motor nggak ada? Saya sampai membongkar tas lagi. Saya susun lagi. Tidak puas, saya bongkar tas orang lain. Saya digebukin orang satu gerbong.

Dan kunci itu tetap tidak ada.

Lalu saya punya ide. Saya bongkar tas masinis. Saya digampar pake rel. Akhirnya saya sedih. Nangis meraung-raung. Masinisnya kasihan. Dia berikan shoulder to cry on. Tapi saya masih sedih. Trus dia kasih dadanya yang bidang dan berbulu. Saya mual-muntah. Akhirnya saya brenti nangis. Dan kembali ke tempat duduk saya.

Tapi kunci itu tetap tidak ada.

Saya lemas. Menghela napas panjang, coba menenangkan diri. Bagaimana mungkin saya tenang, kalau kehilangan kunci motor berarti beresiko kehilangan motor? Kunci motor itu punya kantong STNK. Di dalamnya saya letakkan juga karcis parkir. Komplit, kan? Barangsiapa menemukan kuncinya, bisa bawa pulang motornya.

Motor itu, bukan motor saya. Motor istri. Pemberian bapaknya ketika istri bertugas di Trenggalek. Saat itu ia pertama kali lancar naik sepeda motor. Meski motor second, tapi bangganya luar biasa. Sejak awal kuliah bertahun-tahun lalu, istri dilarang naik motor. Karena berulangkali jatuh. Motor itulah penanda titik baliknya.

Motor second ini semacam pengakuan bahwa istri, meski masih bujang saat itu, sudah boleh kemana-mana mandiri. Tinggal menunggu kehadiran suami idaman sebagai mahram-nya, yang menjaganya saat keluar rumah. Lalu bertemulah saya. Ciee ciee. Dan saya sebagai suami, menghilangkan kunci motornya. Ah, suami macam apa. Ganteng, tapi ceroboh.

Istri rupanya sadar saya sedang gelisah. Ia lalu menyandarkan kepalanya ke bahu saya. Menggenggam tangan saya. Jari demi jari. Lalu menggigit bahu saya. Aduh! Ia tersenyum. Ia membuat saya melupakan masalah sejenak. Ia membangkitkan semangat saya. Dan yang lain pun ikut bangkit. *tiiit, sensor*

“Kalau bukan rejekinya, ya sudah, Bi,” katanya. Iya, sih. Tapi nggak gitu juga kalee. Itu ‘kan motor bersejarah. “Ya kalo hilang, mau gimana lagi. Motor gampang dicari. Tapi orang seperti Abi, sulit dicari.” Ciee, saya langsung ge er. Melayang-layang. “Soalnya Abi orang paling jelek sedunia.” Saya jatoh lagi ke tanah.

Saya sejak kecil diajarkan. Bagi seorang muslim, keimanan nomor satu. Punya mindset pasrah atas ketentuanNya. Tapi tidak gampang menyerah. Artinya, ikhtiyar tidak boleh lengah. Harus ber-jahada untuk urusan teknis. Termasuk menyimpan dengan benar kunci kendaraan.

Kita yakin bahwa Allah swt memberi jatah rejeki masing-masing. Rejeki kalau sudah ditakdirkan menjadi milik kita, tidak akan diberikanNya kepada orang lain. Rejeki tidak akan tertukar. Termasuk apakah kendaraanmu masih ada di tempatnya atau tidak, ketika kau tidak menemukan dimana kuncimu. 

Keyakinan yang seperti ini yang membuat istri saya tampak tenang. Ia mengaji di samping saya. Lalu menanyakan, “Sedekah yang kemarin sudah dikeluarin kan, Bi?,” saya mengangguk. Lalu ia melanjutkan mengaji. Tenaaang, sekali. Sementara saya, gelisah nggak karuan. 

Saya introspeksi. Apa karena kurang sedekah? Mungkin. Pernah nyakitin orang? Sering. Ibadah kendor? Kayaknya. Astagfirullah. Saya merefleksi diri. Mencari hikmah. Toh segala macam alasan spiritual bisa dibenarkan. 

Pasrah sih, pasrah. Hikmah sih, hikmah. Tapi tetep, bagi saya teknis juga harus bener. Jawab Nabi saw, “Ikatlah untamu, lalu tawakal kepada Allah,” ketika ada seorang sahabat yang bertanya, apakah ia cukup berserah kepada Allah saja.

Istri saya lalu membacakan sebuah kisah. Percakapan antara Ali bin Abi Thalib dengan seorang laki-laki. Laki-laki yang gundah, menangis karena urusan dunia. Sayyidina Ali bertanya, “Kawanku, apakah engkau datang ke dunia ini bersama masalah yang kau keluhkan?”

“Tidak,” jawabnya.

“Lalu, apakah engkau nantinya meninggalkan dunia ini bersama masalah yang engkau keluhkan?”

“Tidak,” jawabnya lagi.

“Lalu, mengapa engkau gundah atas permasalahanmu di dunia?”

____

Saya tersenyum. Saya genggam tangan istri saya erat-erat. Hati saya tidak lagi gundah. Berubah sejuk. Adem. 

Benar kata Rasulullah, sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri salehah.

Barakallahu fiik, barakallahu alainaa, Istriku. Kartiniku.

So sweet, ya?

Hehe.

_____

*foto: Saat memberikan kejutan kepada istri di hari ulang tahunnya. Tepat dua hari sebelum ingat kunci motor tidak di tempatnya. 

Allahu laa haula wa laa quwwata illa billah.

Advertisements