“Karena sebenarnya, peristiwa di dunia ini hanyalah pengulangan-pengulangan.” (Al Ghazali, dalam kitab Jaddid Hayatak)

Salah satu keistimewaan seorang ilmuwan adalah kemampuannya dalam menerjemahkan fenomena-fenomena alam dengan metode-metode yang memukau. Metode itu membuatnya bersikap berimbang, hati-hati, dan open-minded. Agar semata-mata yang ia tuliskan adalah hasil riset yang murni menjelaskan fakta-fakta alam, tanpa kepentingan apapun.

Awam menyebutnya sebagai obyektif, karena ilmuwan berusaha mengosongkan kepentingannya untuk menerima fakta-fakta semesta. Satu-satunya yang tersisa dari dirinya adalah keingintahuannya dan kerendahan hatinya untuk terus merasa bodoh dan tidak pernah cukup. “Stay hunger, stay foolish,” kata Steve Jobs.

Pada titik ini, bukankah para ilmuwan memiliki keutamaan yang sama dengan para agamawan? Para ilmuwan mencoba menghayati riset, sementara para agamawan mencoba menghayati perjalanan. Keduanya memiliki kesamaan, yakni sama-sama menuliskan kalimat-kalimat Tuhan. Jika agamawan menemukanNya dalam lembaran-lembaran firman, maka ilmuwan menemukanNya dalam ikhtiyar penelitian.

Agamawan menggapai spiritualitas melalui ritual-ritual, ilmuwan mencapai spiritualitas melalui kaidah-kaidah. Demi mencapai spiritualitas itu, tidak boleh ada setitik pun narsisisme yang muncul. Karena mereka sedang tidak membicarakan dirinya. Mereka harus “nol” di hadapan Tuhan dan semestaNya.

Keduanya pun tidak boleh dihinggapi rasa bangga dan puas diri. Karena perasaan itu hanya akan menjulangkan dinding ego yang tinggi lagi kokoh, sehingga tak mampu ditembus cahaya-cahaya hidayah. Saat itulah, baik agamawan maupun ilmuwan, mulai menjadi subyektif, dengan cara melacurkan ilmu-ilmu menggunakan tata bahasanya yang dicampuri hawa nafsu.

Berhenti Melacur Ilmu

Sesungguhnya dahulu di abad ke-16, pemuka agama dan pemuka ilmu pernah saling mengkhianati. Jamak oleh kita mengetahui Galileo yang “digrounded” oleh gereja akibat mengatakan “bumi adalah bulat, dan matahari adalah pusat tata surya.” Meski akhirnya keputusan ini disesali, kita bisa memahami bahwa butuh sebuah kebesaran jiwa untuk menerima fakta-fakta semesta yang mungkin bertentangan dengan apa yang kita yakini.

Galileo paham betul bahwa dirinya, ketika mengungkapkan fakta-fakta semesta, akan menghadapi hukuman yang menempatkan posisinya seperti penganut protestantism masa itu. Namun ia tidak berhenti. Tidak, ia tidak berhenti. Sekalipun ancaman hukuman membayang di hadapannya. Karena ia tahu, ia tidak berbicara demi dirinya sendiri. Ia mengebiri subyektivitasnya, dan meneguhkan obyektivitasnya.

Sekuat tenaga obyektivitas itu dipegang. Tidak boleh dilepas. Dalam etika penulisan jurnal ilmiah pun, selalu dicantumkan “Conflict of Interest” di atas “Acknowledgement”. Seorang ilmuwan harus mendeklarasikan apakah ada konflik kepentingan dalam risetnya. Sehingga pembaca paham, untuk apa dan untuk siapa ia menulis.

Ilmuwan yang mengakrabi riset akan paham akan hal ini. Sehingga ia bisa menegaskan kepada para pembaca, bahwa ia tidak sedang melacur ilmu untuk kepentingan tertentu. Belum lagi baru-baru ini, kita dikejutkan oleh analisis-analisis yang “memukau” oleh mereka yang menyebut dirinya “ilmuwan”.

Kali pertama, adalah analisis kepribadian terhadap calon RI-1. Kali kedua adalah analisis terhadap DKI-1 saat ini. Dan kali ketiga adalah terhadap nama-nama yang disinyalir sebagai kandidat DKI-1. Lucunya, ketiga analisis ini tidak disertai dengan pemeriksaan terhadap subyek penelitian.

Bukankah untuk melakukan analisis kepribadian, adalah dengan memeriksa yang bersangkutan, dan bukan dari opini pihak lain? Bukankah lebih akurat menilai seseorang dengan langsung berhadapan dengannya, dan bukan dari pendapat orang lain?

Falsafah penegakkan diagnosis adalah dari autoanamnesis (wawancara dengan yang bersangkutan), bukan heteroanamnesis (wawancara dengan orang lain). Apalagi ternyata “orang lain” itu adalah opinion leader, bukan keluarga atau kerabat dekat.

Memangnya, siapa opinion leader itu?

Dunia yang Membingungkan

Saat runtuhnya monarki Prancis di abad ke-17 yang digerakkan oleh kaum proletar, muncullah istilah kekuasaan rakyat, alias “people power.” Jengah dengan absolutisme kaum bangsawan dan gereja, saat itu dipercaya bahwa “suara rakyat adalah suara Tuhan.” Dan media penyambung lidahnya adalah surat kabar.

Benyamin Constant, bangsawan Swiss yang punya pengaruh besar di Eropa saat itu, menulis, “Adanya surat kabar menimbulkan kericuhan-kericuhan kecil, namun tidak adanya surat kabar, akan terjadi penindasan-penindasan besar.”

Demikian pula kisah republik kita tercinta ini. Pers telah dipercaya sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate). Kemampuannya menyebarkan isu, menanamkan ide, dan menggiring opini, mampu menyamai kekuasaan trias politika yang kita teladani dari monarki konstitusional Prancis: Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif.

Ketika tiga lembaga itu sakit, kita masih percaya pada pers yang bergerak atas nama rakyat, ditulis oleh sesama rakyat, dan dipercaya sebagai suara rakyat. Sayangnya, pers saat ini memandang dirinya tak ubah seperti bisnis dengan interaksi transaksional atas nama popularitas dan profit-based-traffic.

Kemana lagi kita mencari kebenaran, jika dunia telah diisi informasi-informasi yang membingungkan?

Kembali ke Alquran dan Sunnah

Sejatinya, ini bukanlah kata-kata untuk agama tertentu. Saya yakin semua orang yang memiliki kegelisahan yang sama, akan menanyakan hal ini: Dalam dunia yang membingungkan ini, dan banyaknya para pelacur ilmu, kepada siapa kita bersandar dan menggantungkan diri? 

Saya tidak akan mengatakan kalimat klise, seperti, “Kita perlu kembali kepada Tuhan.” Pembicaraan ini telah tuntas dalam ruang pribadi masing-masing. Namun sejujurnya, saya sangat bersyukur jika ada orang yang mengejek kitab suci saya sebagai “buku kuno yang belum up-to-date” sejak limabelas abad yang lalu.

Saya akan merasa diingatkan olehnya, bahwa saya mempunyai “panduan dasar” untuk menyelesaikan segala permasalahan hidup. Jika dunia tampak membingungkan bagi saya, maka saya akan menenangkan diri sambil membaca “panduan dasar” itu. Saya akan “back to basic.” Saya yakin semua orang yang meyakini kitab suci apapun akan mampu melakukan hal ini.

Saya tidak berhenti dengan hanya mengkaji tafsirnya. Tapi juga sebab-sebab mengapa ayat itu turun. Menariknya, asbabun nuzul itu menjadi ilustrasi pembanding antara kondisi jaman dulu dan relevansinya dengan masa kini. Lagi-lagi, sebagaimana sedang memahami firmanNya, tidaklah patut dicemari dengan narsisisme pribadi. Lalu carilah guru yang juga mampu mencegah dirinya dari narsisisme itu.


Semoga kita tidak pernah hilang harapan akan dua sosok ini: ilmuwan dan agamawan. Terlebih kepada mereka yang tidak berbicara dan mengambil keputusan atas dasar nafsu. Sesungguhnya, di dunia yang sangat membingungkan ini, kita membutuhkan pencerahan untuk lepas dari kegaduhan akan kepentingan-kepentingan.

Kita masih berharap bahwa pencerahan itu didapatkan dari mereka-mereka yang secara obyektif mau menulis-mengkaji ayat-ayat Tuhan. Baik ayat qauliah (yang terucap sendiri olehNya), dan ayat kauniyah (yang dipahami dengan menghayati fenomena alam).

Kita pun mengenal tradisi yang dianut oleh para pemuka di Andalusia yang berhasil mengawinkan antara agama dan ilmu, yakni: Tadabbur Alquran dan Tadabbur Alam. Mereka mampu menjawab permasalahan hidup dengan cara ini.

Bibel pun menyebutkan, “..nothing new under the sun,” (Pengkhotbah 1: 9). Sehingga meskipun semuanya tampak membingungkan, kita selalu punya cara untuk mengulanginya dari awal: yakni kembali ke “panduan dasar”.

Advertisements