“Jangan mencari Tuhan di Mekkah. Kalau mencari Tuhan di sana, sampeyan salah. Tuhan ada di mana-mana.” (Prof. Abdullah Shahab saat memberi ceramah pelepasan jamaah haji se-Universitas Airlangga, Jumat 5 Agustus 2016.)

Ini yang ketiga kalinya saya mengikuti langsung bagaimana beliau membawakan ceramahnya. Lucu tapi getir, berkelakar tapi penuh sindir. Menyimak beliau ibarat menelan pil pahit yang punya efek ketawa.


“Kalau ada di sana, nggak usah terlalu cerdas,” pesan beliau, “sampeyan manut saja, fokus menyempurnakan ibadah. Nggak usah keminter. Apalagi sama Allah. Apalagi menduga-duga takdir Allah.

“Kalau orang keminter, dan coba-coba takdir Allah, sama kayak orang mau nyebrang jalan trus bilang, ‘Nek durung wayahe dipundhut, insya Allah sampeyan mboten pejah. Wes monggo nyabrang..‘, trus nggak peduli sama truk yang lagi lewat. Itu namanya ngelamak.” Jamaah ketawa.

“Ngelamak plus separuh geblek, Prof,” kata seorang bapak di sebelah saya.

“Sama seperti di rumah. Sampeyan nggak usah pinter-pinteran sama ibu. Wong lebih tinggi sampeyan sekolahnya. Itu namanya ngelamak. Di rumah itu isinya ya, manut sama ibu. Kalau mau pinter-pinteran, ya di sekolah.

“Di Mekkah ya gitu, isinya manut sama Allah. Apa yang menurut sampeyan masuk akal, bisa langsung dibantah. Yang nggak mungkin jadi mungkin, yang mungkin jadi nggak mungkin. Makanya, jangan minteri Allah.”

Memahami agama harus diawali ketundukan, kata beliau. Selama hati belum tunduk, selamanya sulit memahami kebenaran. Hidayah tidak akan sampai kepadanya.

Di momen ini, niat seseorang akan diuji. Seberapa mampu ia menundukkan dirinya di hadapan Allah. Dia berlaku sebagai tamu Allah, dan Allah menyiapkan hidanganNya. Syarat utama agar bisa dimuliakan tuan rumah, adalah dengan menghormati adat istiadat tuan rumah.

“Kalau sampeyan nggak bisa hormat sama tuan rumah, silakan pergi dari situ. Jangan harap dapat layanan terbaik dari tuan rumah. Malah, tuan rumah bisa mengusir sampeyan. Begitu juga kalau sampeyan menjadi tamu Allah. Hormati Allah,” tegasnya.

“Kalau sampai di depan Ka’bah, saya minta tolong satu hal,” beliau memberi jeda, “tolong doakan keluarga sampeyan. Keluarga besar UNAIR. Lebih-lebih bangsa kita ini. Doakan semoga Allah memberkahi dan meridhoi bangsa ini.”

Amiin, Pak.
Insya Allah.
Semoga Allah merahmati bangsa ini.

Pemirsa budiman.. Banyak-banyaklah berdoa untuk bangsa ini. Terutama bagi yang berangkat haji, sebutkan negaramu dan doakan bangsamu di depan Ka’bah.

Bismillahi Allahu akbar.
_____

Catatan:

Ada yang bercerita, mendaftar haji tahun 2001, berangkat setahun kemudian, 2002. Mendaftar tahun 2009, berangkat 7 tahun kemudian, 2016. Mendaftar 2016, insya Allah berangkat 17 tahun kemudian, 2033. Mendaftar 2017, kabarnya berangkat 18 tahun kemudian, 2035.

Jadi, sebaiknya segera daftar haji! Kalau sampeyan punya dana 25 juta saat ini, segera daftarkan haji. Coba hitung usia sampeyan, mau di tahun berapa daftar haji?

Kalau saat ini usia sampeyan sama seperti saya, 30 tahun, maka sampeyan berangkat saat usia 47 tahun. Kalau saat ini usia sampeyan 43 tahun, sampeyan berangkat di usia 60 tahun!

Duhai pemirsa, mendaftarlah haji dengan segera. Saat ini juga. Jangan menunggu nanti. Kalaupun usia sampeyan ditakdirkan Allah nggak sampai berangkat haji, setidaknya (semoga) dinilai Allah sudah punya pahala haji.

Dan sungguh, di tanah suci sangat dibutuhkan anak muda seperti sampeyan untuk membantu jamaah Indonesia yang lanjut usia. Tahun ini, diperkirakan empat puluh persen lansia beresiko tinggi!

Kalau bukan sampeyan, siapa lagi yang membantu mereka?
#YukDaftarHajiSekarangJuga

Featured photo: hajilampuiman.com

Advertisements